IHSG Kembali Jeblok, Ratusan Saham Ambruk di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

IHSG Kembali Jeblok, Ratusan Saham Ambruk di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Foto: IHSG Kembali Jeblok, Ratusan Saham Ambruk di Tengah Ketidakpastian Ekonomi. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami penurunan cukup signifikan pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, melanjutkan tren negatif setelah sehari sebelumnya jatuh hampir 2%. IHSG sempat dibuka naik tipis 0,11% di level 5.846,49, namun tekanan jual yang intensif mendorong indeks turun lebih dalam ke posisi 5.750, mengalami penurunan 84 poin atau 1,46% dalam waktu kurang dari 20 menit setelah pasar dibuka.

Di pagi hari, IHSG mencatatkan level tertinggi di 5.860 dan terendah di 5.749. Mayoritas saham bergerak di zona merah, dengan 340 saham melemah, 218 saham menguat, dan 154 saham stagnan. Nilai transaksi perdagangan pagi hari mencapai Rp3,71 triliun dan volume perdagangan mencapai 4,49 miliar saham dengan 349 ribu kali transaksi. Kapitalisasi pasar bursa turun menjadi Rp10.157 triliun.

Pada perdagangan sebelumnya, yakni Kamis, 4 Juni 2026, IHSG mengalami tekanan besar. Pada awal perdagangan, indeks sempat anjlok hingga 5% ke level 5.644,23 sebelum berhasil memperbaiki sebagian kerugiannya menjelang penutupan, akhirnya ditutup di level 5.839,78 atau turun 1,7%. Ini terjadi setelah anjlok 3,48% pada akhir sesi pertama sebelumnya.

Di sisi lain, pergerakan investor asing menjadi perhatian. Meski pada sesi pertama mereka sempat mencatat beli bersih sebesar Rp179 miliar, situasi berubah mendekati penutupan perdagangan. Data menunjukkan pembelian asing sebesar Rp12,52 triliun dan penjualan Rp13,79 triliun, berakhir dengan net sell Rp1,27 triliun secara keseluruhan.

Aksi jual terbesar terjadi pada saham-saham perbankan besar. Saham BBCA dilepas asing senilai Rp475,5 miliar, diikuti dengan BBRI sebesar Rp451,6 miliar, BMRI Rp164 miliar, dan BBNI Rp106,2 miliar. Secara total, empat bank besar ini mencatat foreign sell lebih dari Rp1,19 triliun.

Situasi ini menyebabkan IHSG kembali menyentuh level terendah tahun ini. Sentimen negatif datang dari berbagai sumber, seperti penurunan outlook oleh Danantara Investment Management, pelemahan rupiah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS, serta kekhawatiran terhadap hasil penilaian lembaga pemeringkat dan evaluasi MSCI yang akan dirilis bulan Juni. Semua ini mendorong investor untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di Indonesia.

Sementara itu, bursa saham Asia-Pasifik secara umum juga dibuka melemah pada perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, dipimpin oleh pasar Korea Selatan. Menurut CNBC, sentimen negatif muncul setelah saham-saham teknologi di Wall Street terkoreksi pada perdagangan sebelumnya, memicu aksi jual di sektor teknologi di Asia. Indeks Kospi Korea Selatan anjlok 4,11%, dengan saham seperti Samsung Electronics dan SK Hynix masing-masing merosot sekitar 6% dan 8%.

Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun 1,1% mengikuti pelemahan sektor teknologi global, sementara indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,2% pada awal perdagangan. Prospek pasar Hong Kong juga cenderung negatif, dengan kontrak berjangka indeks Hang Seng diperdagangkan pada level 25.158, lebih rendah dibandingkan penutupan indeks Hang Seng pada Kamis yang berada di posisi 25.253,40.

Pelemahan pasar Asia terjadi setelah pergerakan beragam di Wall Street pada Kamis waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi baru setelah naik 874,86 poin atau 1,73% ke level 51.561,93. Sebaliknya, indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,09% dan ditutup di level 26.830,96. Sementara itu, indeks S&P 500 mampu menguat 0,41% ke posisi 7.584,31.

Artikel terkait

Rekomendasi