Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026), melanjutkan tekanan yang sudah terjadi sejak Kamis dengan penurunan hampir 2%. Pada awal sesi, IHSG sempat mencatatkan kenaikan 0,11% di angka 5.846,49. Namun, tekanan jual yang kuat membuat indeks anjlok ke 5.718,38, turun 121 poin atau 2,08% kurang dari satu jam setelah pasar dibuka.
Dalam perdagangan pagi ini, IHSG sempat mencapai level tertinggi di 5.860 dan terendah di 5.714. Mayoritas saham beroperasi di zona merah. Sebanyak 469 saham mengalami penurunan, 156 saham naik, dan 107 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp6,18 triliun dengan volume perdagangan sebesar 7,81 miliar saham yang diperdagangkan dalam 648 ribu kali transaksi. Kapitalisasi pasar bursa berhasil terpangkas menjadi Rp10.096 triliun.
Pelemahan IHSG beriringan dengan melemahnya rupiah yang kembali menyentuh rekor terendah sepanjang masa. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah menunjukkan pelemahan 0,17% ke posisi Rp18.050 per dolar AS di awal perdagangan, meneruskan penurunan 0,45% pada Kamis yang membuatnya berada di Rp18.020 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS yang dikenal sebagai DXY tetap stabil di 99,438 pada pukul 09.00 WIB setelah mengalami pelemahan 0,12% pada hari sebelumnya.
Sehari setelah keterpurukan, IHSG diperkirakan masih di bawah tekanan berbagai sentimen besar baik dari dalam maupun luar negeri. Faktor-faktor seperti anjloknya Wall Street, kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, dan ketahanan ekonomi AS yang masih kuat memberikan tekanan pada pasar keuangan Indonesia. Di Korea Selatan, Kospi terjun bebas 4,11% dengan saham besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix turun sekitar 6% dan 8%. Sementara Kosdaq turun 2,41%, Nikkei 225 Jepang terpangkas 1,1%, dan S&P/ASX 200 Australia turun 0,2% di awal perdagangan.
Sementara itu, prospek pasar Hong Kong juga terlihat menurun. Kontrak berjangka indeks Hang Seng diperdagangkan di level 25.158, lebih rendah dibanding penutupan sebelumnya di 25.253,40. Pelemahan pasar Asia terjadi setelah pergerakan beragam di Wall Street pada Kamis waktu setempat. Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi baru dengan kenaikan 874,86 poin atau 1,73% ke 51.561,93.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan perwakilan Standard & Poor's (S&P) Global di Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, S&P diwakili oleh Kim Eng Tan, Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik. Diskusi berfokus pada prospek dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah berbagai risiko global yang ada. Airlangga menjelaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap solid meski menghadapi tantangan global seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi, dan gangguan rantai pasok global.
"Pertemuan ini penting untuk menegaskan kekuatan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global," ujar Airlangga di akun Instagram resminya. Stabilitas ekonomi didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang terukur, konsumsi domestik yang kuat, dan sektor eksternal yang membaik. Indikator utama menunjukkan inflasi terkendali, pertumbuhan investasi, dan dampak positif dari program hilirisasi pada peningkatan industri nasional.
Pemerintah juga menguraikan agenda strategis seperti percepatan hilirisasi industri, penguatan ketahanan energi dan pangan, serta peningkatan daya saing manufaktur. "Langkah ini adalah bagian dari transformasi ekonomi agar Indonesia lebih tahan terhadap tekanan global dan bisa tumbuh kompetitif dalam jangka panjang," tambah Airlangga. Ia tetap optimis bahwa prospek ekonomi Indonesia terjaga seiring dengan reformasi struktural dan pembangunan yang inklusif serta berkelanjutan.
Bursa Efek Indonesia (BEI) berupaya menarik investor institusi dan global untuk berinvestasi di IHSG guna menahan penurunan indeks. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan program roadshow untuk memperkuat sisi permintaan di pasar modal. Program ini menyasar investor domestik dan global dengan harapan menarik minat investasi.
"Kami telah berkomunikasi dengan bursa saham lain untuk kerja sama, termasuk dengan brokerage firm asing. Tujuannya adalah membawa perusahaan-perusahaan terdaftar kita ke perhatian mereka," jelas Nyoman di Gedung BEI, Jakarta. BEI juga akan memperluas sosialisasi pasar modal ke berbagai daerah dengan memperkenalkan perusahaan-perusahaan terdaftar kepada investor domestik, baik institusi maupun ritel.
Ketika ditanya tentang peran asuransi dan dana pensiun sebagai penopang pasar, PJS Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa koordinasi dengan berbagai kelompok investor, termasuk institusi domestik, terus dijalin. Jeffrey menjelaskan bahwa fundamental pasar modal Indonesia dalam kondisi baik, tercermin dari pertumbuhan laba perusahaan tercatat. Perusahaan di BEI mengalami peningkatan laba lebih dari 21% di akhir 2025, dan LQ45 mencatatkan pertumbuhan laba bersih 29,9% pada kuartal I-2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa 80% perusahaan yang terdaftar mencatatkan laba bersih di kuartal I-2026, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada 2020, hanya 63% perusahaan mencatat laba bersih, dan angka ini naik menjadi 73%-76% pada periode 2021-2025, sebelum mencapai 80% pada kuartal ini.