Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) baru saja merilis laporan terbaru bertajuk OECD Economic Outlook edisi Juni 2026. Dalam laporan tersebut, lembaga internasional ini memutuskan untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia akibat dinamika global yang kian tidak menentu.
OECD memberikan peringatan serius mengenai konflik yang terus berlanjut di wilayah Timur Tengah. Perselisihan ini dinilai menjadi sumber tekanan utama yang berpotensi menyeret sejumlah negara ke dalam jurang resesi, terutama jika gangguan pasokan energi bertahan hingga tahun 2027.
Ketahanan Ekonomi yang Teruji Tekanan Baru
Pada laporan bertajuk Under Pressure yang terbit Rabu (3/6/2026), OECD mencatat sebenarnya dunia mengawali tahun 2026 dengan kondisi yang cukup tangguh. Aktivitas ekonomi menunjukkan geliat positif yang melampaui perkiraan para analis sebelumnya.
Ketahanan ini didorong oleh sejumlah faktor kunci, mulai dari masifnya investasi pada teknologi kecerdasan buatan (AI) hingga meredanya ketegangan dagang antarnegara. Selain itu, kondisi keuangan dunia yang lebih akomodatif juga sempat memberikan angin segar bagi para pelaku usaha.
Namun, situasi tersebut mulai berbalik arah seiring meningkatnya eskalasi di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok komoditas penting. "Konflik di wilayah tersebut kini menjadi kekuatan dominan yang menentukan wajah perekonomian global ke depan," tulis OECD dalam laporannya.
Gangguan pengiriman di Selat Hormuz serta kerusakan infrastruktur vital telah memicu lonjakan harga energi secara signifikan. Kondisi ini turut berdampak pada melambungnya biaya produksi pupuk dan berbagai bahan baku industri lainnya di pasar internasional.
Efek berantai dari kenaikan biaya ini antara lain adalah:
- Laju inflasi yang kembali merangkak naik di berbagai kawasan.
- Menurunnya tingkat kepercayaan konsumen untuk melakukan belanja rumah tangga.
- Pelaku dunia usaha yang mulai menahan ekspansi akibat ketidakpastian biaya.
- Terhambatnya aktivitas ekonomi secara menyeluruh di negara-negara maju maupun berkembang.
Dampak-dampak tersebut saling berkaitan dan menciptakan tantangan berat bagi para pembuat kebijakan di seluruh dunia. Jika tidak ditangani dengan tepat, stabilitas ekonomi jangka panjang bisa terancam.
Analisis Dua Skenario Ekonomi Masa Depan
Mengingat tingginya ketidakpastian global saat ini, OECD tidak hanya mengeluarkan satu angka proyeksi tunggal. Mereka menyusun dua skenario berbeda yang menggambarkan kemungkinan arah ekonomi dunia dalam 18 bulan mendatang.
Skenario pertama disebut sebagai gangguan terbatas waktu (time-limited disruption). Dalam kondisi ini, konflik diasumsikan segera mereda sehingga harga energi bisa turun secara bertahap mulai pertengahan tahun 2026.
Berikut adalah ringkasan data ekonomi berdasarkan skenario pertama dari OECD:
| Indikator Ekonomi | Tahun 2025 | Tahun 2026 (Proyeksi) | Tahun 2027 (Proyeksi) |
|---|---|---|---|
| Pertumbuhan Ekonomi Global | 3,4% | 2,8% | 3,1% |
| Inflasi Negara G20 | 3,4% | 4,0% | 3,1% |
Tabel di atas menunjukkan bahwa pada skenario optimistis, ekonomi dunia akan mengalami perlambatan di tahun 2026 sebelum akhirnya pulih kembali. Inflasi diperkirakan memuncak di angka 4 persen pada tahun depan akibat tekanan biaya energi yang bersifat sementara.
Namun, OECD juga memberikan peringatan melalui skenario kedua yang jauh lebih mengkhawatirkan, yaitu gangguan berkepanjangan (prolonged disruption). Pada skenario ini, hambatan pada ekspor energi dari kawasan Teluk diprediksi bertahan hingga akhir tahun 2027.
Jika skenario buruk ini terjadi, harga pupuk dan energi akan tetap tinggi dalam waktu yang lama. Hal ini akan memaksa kondisi keuangan menjadi lebih ketat dan semakin memperlemah daya beli masyarakat serta kepercayaan dunia usaha secara global.