Saham PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) menjadi pusat perhatian setelah mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan Senin (8/6/2026). Emiten telekomunikasi plat merah ini bahkan menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB) saat penutupan bursa.
Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan harga saham TLKM merosot hingga 14,86 persen ke level Rp 2.350 per lembar. Posisi ini turun signifikan sebesar 410 poin dibandingkan harga penutupan hari sebelumnya yang berada di level Rp 2.760.
Sejak bel pembukaan berbunyi di level Rp 2.620, pergerakan saham TLKM terus berada dalam tekanan jual yang masif. Sepanjang sesi perdagangan, harga saham tersebut gagal bangkit dan terus tertahan di zona merah.
Penyebab Penurunan Kinerja dan Tekanan Pasar
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas mengungkapkan bahwa penurunan ini dipicu oleh realisasi laba bersih kuartal I-2026 yang mengecewakan. Laba TLKM dilaporkan menyusut 22 persen secara tahunan (yoy) menjadi hanya Rp 4,34 triliun.
Kondisi ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi perlambatan pertumbuhan kinerja perusahaan di masa depan. Sentimen negatif ini semakin diperparah oleh aksi jual yang dilakukan oleh investor asing di pasar modal.
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp 314 miliar. Hal tersebut mengindikasikan bahwa tekanan distribusi saham TLKM masih berlangsung cukup kuat.
Selain faktor fundamental, risiko reputasi juga membayangi perusahaan akibat munculnya dugaan kasus terkait pengadaan di internal Telkom. Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih waspada dan khawatir terhadap prospek perusahaan ke depan.
Menjelang Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), pasar sempat mengambil sikap menunggu atau wait and see. Investor fokus memperhatikan agenda penggunaan laba perusahaan hingga rencana perombakan susunan pengurus.
Analisis Teknikal dan Target Harga
Dari sisi teknikal, saham TLKM diketahui telah menembus level support penting di angka 2.800 yang merupakan neckline pola Head & Shoulders. Penembusan level ini menjadi sinyal kuat adanya perubahan arah tren harga saham menuju pelemahan.
Para analis memproyeksikan bahwa potensi penurunan lanjutan masih mungkin terjadi dalam waktu dekat. Target penurunan berikutnya diperkirakan akan menguji level support di kisaran harga Rp 2.300 hingga Rp 2.050.
Keputusan Strategis RUPST: Dividen dan Buyback
Meskipun harga saham mengalami tekanan hebat, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tetap menyepakati sejumlah keputusan penting. Salah satunya adalah pemberian imbal hasil kepada para pemegang saham dalam bentuk dividen tunai.
Rincian alokasi dana yang disetujui dalam RUPST Telkom adalah sebagai berikut:
- Total dividen tunai yang akan dibagikan mencapai Rp 21,9 triliun.
- Sebanyak Rp 17,8 triliun dari nilai tersebut diambil dari laba bersih tahun buku 2025.
- Sisanya sebesar Rp 4,2 triliun berasal dari akumulasi laba ditahan tahun-tahun sebelumnya.
Penjelasan tersebut merangkum komitmen perusahaan untuk tetap memberikan nilai tambah bagi investor meski menghadapi tantangan kinerja. Selain pembagian keuntungan, pemegang saham juga merestui langkah korporasi lainnya.
RUPST menyetujui rencana pembelian kembali saham atau buyback dengan anggaran maksimal mencapai Rp 4 triliun. Langkah strategis ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga saham di tengah fluktuasi pasar yang sangat dinamis.
Berikut adalah detail pelaksanaan program buyback saham TLKM:
| Kategori Pelaksanaan | Detail Informasi |
|---|---|
| Nilai Maksimal | Rp 4 Triliun |
| Metode Pembelian | Melalui Bursa Efek maupun luar bursa |
| Periode Pelaksanaan | 9 Juni 2026 sampai 8 Juni 2027 |
| Tujuan Utama | Stabilitas harga dan nilai pemegang saham |
Program buyback ini akan dilaksanakan secara bertahap dalam periode 12 bulan setelah mendapatkan persetujuan rapat. Perusahaan berharap aksi korporasi ini mampu memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga saham di pasar sekunder.
Sebagai catatan bagi investor, seluruh keputusan investasi harus didasarkan pada riset mandiri yang mendalam. Artikel ini bersifat informatif dan tidak mengandung ajakan untuk melakukan transaksi jual atau beli pada instrumen saham tertentu.