Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya perlambatan pertumbuhan pada jumlah uang beredar atau uang primer selama periode Mei 2026. Meskipun tetap menunjukkan tren positif, angka pertumbuhannya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan data terbaru, posisi uang primer (M0 adjusted) pada Mei 2026 mencapai angka Rp 2.214,6 triliun. Jumlah tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 14,2 persen secara tahunan atau year on year (yoy).
Perbandingan Data Pertumbuhan Uang Primer
Kenaikan yang terjadi pada Mei 2026 ini sedikit melambat jika dibandingkan dengan performa pada April 2026. Pada bulan April, uang primer tercatat menyentuh angka Rp 2.232,2 triliun dengan tingkat pertumbuhan mencapai 14,3 persen (yoy).
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa capaian pada Mei ini merupakan kelanjutan dari tren bulan sebelumnya. Pernyataan tersebut dirilis secara resmi oleh pihak bank sentral pada Senin (8/6/2026).
Berikut adalah perbandingan data uang primer antara April dan Mei 2026:
| Periode | Nilai Uang Primer (M0) | Pertumbuhan (yoy) |
|---|---|---|
| April 2026 | Rp 2.232,2 Triliun | 14,3% |
| Mei 2026 | Rp 2.214,6 Triliun | 14,2% |
Data di atas memperlihatkan penurunan tipis pada nilai total maupun persentase pertumbuhan tahunan uang primer di Indonesia. Penurunan ini dipengaruhi oleh dinamika likuiditas yang terjadi dalam sistem keuangan nasional.
Komponen Pendukung dan Kebijakan Bank Sentral
Ramdan menjelaskan bahwa pertumbuhan uang primer pada Mei 2026 ini tetap didukung oleh dua faktor utama dalam sistem moneter. Faktor pertama adalah giro bank umum di BI adjusted yang tercatat tumbuh sebesar 17,4 persen secara tahunan.
Sementara itu, komponen kedua yang memberikan kontribusi adalah peredaran uang kartal di tengah masyarakat. Penggunaan uang kertas dan koin tersebut mengalami peningkatan sebesar 15,8 persen pada periode yang sama.
Pihak Bank Indonesia menilai perkembangan ini sangat berkaitan erat dengan pemberian insentif likuiditas dari bank sentral. Kebijakan ini sengaja dirancang untuk mendorong ekspansi uang primer agar tetap mampu menopang aktivitas ekonomi.
Informasi mengenai komponen utama yang menyusun uang primer (M0):
- Uang Kartal: Meliputi seluruh uang kertas dan koin yang digunakan masyarakat dalam transaksi sehari-hari.
- Cadangan Perbankan: Mencakup seluruh simpanan atau giro milik bank umum yang ditempatkan di Bank Indonesia.
- Basis Moneter: Gabungan kedua unsur di atas yang menjadi fondasi utama bagi penciptaan uang di perekonomian.
Ketiga poin di atas menjelaskan bagaimana struktur uang primer bekerja sebagai instrumen dasar dalam menggerakkan likuiditas perbankan nasional. Stabilitas komponen ini sangat krusial bagi penentuan arah kebijakan moneter ke depan.
Dampak Terhadap Aktivitas Ekonomi
Fluktuasi yang terjadi pada uang primer memiliki pengaruh yang cukup luas terhadap kondisi finansial negara. Perubahan tersebut biasanya akan berdampak langsung pada tingkat likuiditas bank, pengaturan suku bunga, hingga laju pertumbuhan ekonomi.
Dengan adanya tren pertumbuhan yang sedikit melambat, sektor keuangan dituntut untuk memberikan respons yang tepat. Langkah antisipasi diperlukan guna menjaga keseimbangan antara stabilitas moneter dan keberlanjutan ekspansi ekonomi nasional.