Yen terus melemah selama tiga hari berturut-turut, mencapai level 160 per dolar AS yang memicu kekhawatiran intervensi dari pihak Jepang.
Yen kembali melemah di level 160 per dolar AS: Pada hari Jumat, yen Jepang menguji level psikologis 160 per dolar di tengah peringatan dari pejabat setempat, sementara dolar AS beranjak kuat akibat ketegangan di kawasan Teluk yang meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Sejak awal perdagangan, yen turun di level 160 per dolar, menandai sesi ketiga berturut-turut meski telah ada peringatan verbal dari otoritas Jepang. Di pasar, level ini dianggap penting dan berpotensi memicu tindakan pemerintah.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, menyatakan kesiapan pemerintah untuk merespons dinamika pasar valuta asing kapan saja, termasuk kemungkinan mengambil "langkah tegas" guna menangani volatilitas yang berlebihan.
Yen sedang merosot menuju pelemahan minggu keempat berturut-turut, yang menjadi penurunan terpanjang sejak Februari, hampir menghapus dampak intervensi bulan lalu yang menelan biaya sekitar US$73 miliar.
Tony Sycamore, analis pasar IG, menilai bahwa pertanyaan utama saat ini adalah apakah Jepang akan bertindak kembali melawan tekanan makro yang kuat seperti harga energi tinggi, data ekonomi AS yang bagus, dan imbal hasil obligasi AS yang tetap tinggi.
Intervensi pada bulan April lalu hanya berdampak sementara, dan menurutnya, dolar harus jatuh secara signifikan di bawah level 155 yen untuk benar-benar menghentikan tren penguatannya.
Data pemerintah Jepang menunjukkan upah riil meningkat 1,9% pada April dibandingkan tahun sebelumnya, menandai kenaikan bulanan keempat berturut-turut. Informasi ini menjadi perhatian Bank Jepang yang akan mengadakan rapat kebijakan moneter pada 15-16 Juni.
Sumber Reuters mengindikasikan bahwa BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga, terkecuali kondisi di Timur Tengah memburuk secara signifikan dan mengguncang pasar keuangan. Konflik ini, ditambah kenaikan harga energi, bisa menambah tekanan inflasi di Jepang.
Upaya Presiden AS, Donald Trump, untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah mendapatkan tantangan setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran menolak proposal gencatan senjata baru di Lebanon. Sementara itu, Israel menyatakan tidak akan menarik pasukannya dari wilayah tersebut.
Kondisi yang semakin tegang pekan ini, termasuk serangan antara pasukan Iran dan AS, menjaga harga minyak Brent di atas US$90 per barel dan menambah permintaan dolar sebagai aset aman.
Euro bertahan di level US$1,1612, dan poundsterling di US$1,3423, keduanya bergerak menuju pelemahan tipis pekanan. Dolar Australia melemah 0,1% ke US$0,7127, sedangkan dolar Selandia Baru stabil di US$0,5867 meski menguat sekitar 2% sepanjang pekan.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan dolar terhadap beberapa mata uang utama, termasuk yen dan euro, ada di level 99,434, mengarah pada kenaikan mingguan sekitar 0,5%.
Pasar kini menanti data nonfarm payrolls AS yang akan segera dirilis. Survei Reuters memperkirakan ada penambahan 85.000 pekerjaan pada Mei, lebih rendah dibandingkan 115.000 pada April, sementara tingkat pengangguran diprediksi stabil di 4,3%.