Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik dibuka dalam zona merah pada perdagangan Jumat (5/6/2026), dengan penurunan terbesar terjadi di bursa Korea Selatan. Menurut laporan CNBC, sentimen negatif ini muncul setelah saham-saham teknologi di Wall Street turun pada perdagangan sebelumnya, yang kemudian menular ke sektor teknologi di Asia.
Indeks Kospi Korea Selatan merosot 4,11%, dipengaruhi oleh turunnya harga saham-saham besar seperti Samsung Electronics dan SK Hynix, yang masing-masing anjlok sekitar 6% dan 8%. Indeks untuk saham-saham kecil, Kosdaq, juga mengalami penurunan sebesar 2,41%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 menurun 1,1% mengikuti tren pelemahan di sektor teknologi global. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 di Australia turun 0,2% pada pembukaan perdagangan. Pasar di Hong Kong juga menunjukkan prospek negatif, di mana kontrak berjangka indeks Hang Seng terakhir diperdagangkan di posisi 25.158, lebih rendah dibandingkan penutupan sebelumnya di angka 25.253,40.
Pelemahan bursa Asia ini terjadi menyusul pergerakan yang bervariasi di Wall Street pada perdagangan Kamis waktu setempat. Indeks Dow Jones Industrial Average justru mencapai rekor tertinggi baru, melonjak 874,86 poin atau 1,73% hingga mencapai 51.561,93. Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite yang banyak diisi saham-saham teknologi turun tipis 0,09% ke level 26.830,96. Sedangkan indeks S&P 500 mampu naik 0,41% ke posisi 7.584,31.
Pergeseran investasi dari saham teknologi menuju sektor non-teknologi menyebabkan pelemahan di indeks Nasdaq. Turunnya saham Broadcom lebih dari 12% akibat pendapatan kuartal fiskalnya yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar turut memicu aksi jual, khususnya di kalangan saham yang berhubungan dengan kecerdasan buatan (AI). Sebagai dampaknya, ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) juga turun lebih dari 1%, sementara Arm Holdings dan Micron Technology masing-masing melemah lebih dari 4% dan hampir 8%.
Selain tekanan dari sektor teknologi, pasar saham global juga dirundung kekhawatiran terkait konflik di Timur Tengah. Negosiasi untuk mengakhiri konflik ini memberikan sinyal beragam, yang mengguncang pasar keuangan global dan mendorong kenaikan harga minyak serta bensin. Hal ini meningkatkan kekhawatiran akan inflasi dan pertumbuhan ekonomi global.