IHSG Jeblok Lagi, Anjlok 4,30% ke Level 5.600: Investor Cemas

IHSG Jeblok Lagi, Anjlok 4,30% ke Level 5.600: Investor Cemas
Foto: IHSG Jeblok Lagi, Anjlok 4,30% ke Level 5.600: Investor Cemas. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
Berita <a href="/tag/ihsg">IHSG</a> Terkini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penurunan tajam pada perdagangan pagi ini, Kamis (4/6/2026), di Bursa Efek Indonesia. IHSG turun 4,30% ke posisi 5.683,25. Tercatat 654 saham mengalami pelemahan, 258 saham bergerak stagnan, dan hanya 48 saham yang mencatatkan penguatan.

Transaksi saham terjadi sebanyak 606,9 ribu kali dengan volume mencapai 8,77 miliar lembar saham, melibatkan nilai total Rp5,27 triliun. Pada awal pembukaan perdagangan, IHSG sudah memulai perdagangannya di posisi melemah pada level 5.919,57. Namun, tekanan jual menguat sehingga indeks merosot lebih lanjut ke posisi 5.874,70 atau turun 66,37 poin (-1,12%).

Pada sesi perdagangan pagi hari ini, IHSG sempat mencapai posisi tertinggi di level 5.924,51 dan terendah di 5.873,00. Tekanan jual tersebut juga memangkas nilai kapitalisasi pasar Bursa hingga Rp10.311 triliun. Sementara itu, pada penutupan perdagangan sebelumnya, IHSG berakhir melemah 4,11% di level 5.941,07 dengan adanya aksi jual bersih dari investor asing hampir mendekati Rp1 triliun.

Setelah penurunan tajam hari lalu, IHSG diprediksi akan tetap menghadapi tekanan. Berbagai sentimen baik dari dalam maupun luar negeri diperkirakan akan memengaruhi gerak pasar. Masalah seperti jatuhnya Wall Street, kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS, dan ketahanan ekonomi negara-negara besar bisa menambah tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia.

Di Asia, indeks Kospi dari Korea Selatan dilaporkan mengalami koreksi sebesar 2% setelah pasar dibuka kembali usai libur. Sementara indeks saham berkapitalisasi kecil, Kosdaq, justru menguat lebih dari 2%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 turun sebesar 1,4% usai mencetak rekor tertinggi sebelumnya, demikian pula indeks Topix yang melemah 0,91% akibat aksi ambil untung di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Pasar Australia juga ikut tertekan dengan indeks S&P/ASX 200 turun 0,84%. Selain itu, kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di posisi 25.312, lebih rendah dibanding penutupan terakhir indeks acuan tersebut pada 25.633,21.

Dalam kesempatan lain, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan perwakilan lembaga pemeringkat Standard & Poor's (S&P) Global di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, pada Rabu (3/6/2026). Dalam pertemuan ini, S&P diwakili oleh Kim Eng Tan, Managing Director Sovereign Ratings S&P Asia Pasifik.

Diskusi dalam pertemuan tersebut membahas mengenai prospek dan ketahanan ekonomi Indonesia di tengah beragam risiko global yang dihadapi saat ini. Airlangga menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan momen penting untuk menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia, meskipun dihadapkan pada tantangan dari luar seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, dan gangguan rantai pasok global.

Airlangga menyampaikan, "Pertemuan ini jadi momentum penting dalam menegaskan ketahanan ekonomi kami di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian." Stabilitas ekonomi Indonesia, lanjutnya, ditopang oleh kebijakan fiskal dan moneter yang tepat, kuatnya konsumsi domestik, dan kinerja sektor eksternal yang membaik.

Ia menambahkan bahwa indikator utama ekonomi menunjukkan tren positif. "Inflasi kita tetap terkendali, investasi terus tumbuh positif, dan program hilirisasi sudah mulai memberi dampak nyata terhadap peningkatan nilai tambah industri nasional," tambahnya dalam keterangan resmi.

Artikel terkait

Rekomendasi