UNVR Naikkan Harga di Tengah Krisis Timur Tengah, Apa Dampaknya untuk Konsumen?

UNVR Naikkan Harga di Tengah Krisis Timur Tengah, Apa Dampaknya untuk Konsumen?
Foto: UNVR Naikkan Harga di Tengah Krisis Timur Tengah, Apa Dampaknya untuk Konsumen?. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
Unilever Naikkan Harga Produk di Semester II

PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mengakui menghadapi tekanan inflasi akibat gangguan rantai pasok yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan pelemahan rupiah terhadap dolar.

Direktur Keuangan UNVR, Neeraj Lal, menjelaskan bahwa situasi ini sangat mempengaruhi bahan baku berbasis minyak, termasuk bahan kimia, kemasan, dan minyak sawit. Nilai tukar yang melemah turut mendongkrak biaya produksi.

Dampak tekanan ini diprediksi akan semakin terasa pada semester kedua tahun 2026, terutama pada produk perawatan rumah seperti deterjen dan sabun cuci piring. Oleh sebab itu, UNVR berencana melakukan penyesuaian harga pada paruh kedua tahun ini.

Penyesuaian Harga Produk:

Presiden Direktur UNVR, Benji Yap, menyatakan bahwa penyesuaian harga ini terutama akan terjadi di sektor home care yang paling terdampak oleh kenaikan biaya.

Menurut laporan manajemen, kenaikan harga sebenarnya sudah dimulai sejak kuartal pertama 2026. Harga jual rata-rata naik 1,4%, sehingga turut menopang margin laba kotor menjadi 48,8% dalam periode tersebut.

Selain konflik di Timur Tengah, Neeraj juga mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan bagi pertumbuhan bisnis UNVR di 2026. Lindung nilai dan kontribusi ekspor menjadi senjata untuk menekan dampaknya, meski ekspor turun 17% di kuartal pertama 2026.

Strategi Meningkatkan Margin Laba

UNVR masih menargetkan peningkatan moderat pada margin laba kotor untuk tahun 2026, setelah berhasil mencapai lebih dari 45% pada akhir 2025. Fokus utama adalah pertumbuhan kompetitif dan peningkatan volume.

Strategi tahun ini juga melibatkan transformasi portofolio, seperti divestasi bisnis es krim kepada Magnum di akhir 2025, dan penjualan Sariwangi ke Grup Djarum pada Maret 2026. Penguatan difokuskan pada segmen yang lebih menguntungkan seperti produk personal care dan beauty & wellbeing.

Segmen pertumbuhan tinggi tersebut menyumbang 10% dari total penjualan di kuartal pertama 2026, naik dari 8,3% pada periode yang sama tahun lalu.

Efisiensi dan pengendalian biaya menjadi strategi penting, termasuk integrasi rantai pasok minyak sawit melalui Unilever Oleochemical Indonesia dan penurunan biaya tenaga kerja lebih dari 20% sepanjang 2026.

Benji menambahkan, skala pengadaan bahan baku di berbagai negara di Asia menjadi keunggulan bagi UNVR dalam mengamankan bahan yang dibutuhkan dengan harga dan dukungan mata uang yang sesuai.

Ia menegaskan, dengan kekuatan portofolio dan kapabilitas global yang dimiliki, UNVR yakin dapat mengatasi krisis Timur Tengah dan fluktuasi rupiah, dan menjadi lebih kuat ke depannya.

Artikel terkait

Rekomendasi