Posisi arus minyak dari Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meski pasar minyak masih diselimuti ketidakpastian. Dalam beberapa pekan terakhir, kapal tanker mulai mengalami peningkatan dalam jumlah kapal yang berhasil meninggalkan kawasan tersebut. Mereka menggunakan berbagai metode pelayaran yang lebih tertutup. Walaupun langkah ini mulai mengurangi sebagian dari stok minyak yang terperangkap di Teluk, kondisi ini belum sepenuhnya mengembalikan keadaan ke titik normal.
Berdasarkan laporan Reuters, meski telah lebih dari empat bulan sejak pecahnya konflik, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran belum mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali jalur pelayaran ini dengan sepenuhnya. Penutupan nyaris total Selat Hormuz sebelumnya telah menyebabkan lebih dari 13 juta barel minyak per hari tertahan di Teluk.
Kondisi ini memicu sejumlah produsen menghentikan operasi di ladang minyak dan kilang. Akibatnya, terjadi kelangkaan pasokan dan tekanan ekonomi pada negara pengimpor minyak. Data LSEG dan Kpler menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih di bawah tingkat sebelum terjadi perang. Sejak konflik meletus, hanya sekitar tiga kapal tanker per hari yang melewati jalur tersebut, atau sekitar sepersepuluh dari volume normal.
Namun, ada kompleksitas dalam data persediaan minyak. Analisis terhadap volume minyak di kapal tanker Teluk menunjukkan peningkatan aktivitas pengiriman. Hal ini menandakan semakin banyak kapal yang beroperasi di luar jangkauan pelacakan satelit. Beberapa kapal diketahui mematikan Sistem Identifikasi Otomatis (AIS) sebelum dan sesudah melewati Selat Hormuz. Praktik ini telah lama digunakan Iran untuk menghindari sanksi Barat.
Kapal tanker yang "menghilang" dari sistem pelacakan dapat muncul lagi beberapa pekan kemudian di dekat tujuan akhir mereka. Analisis pelayaran Vortexa memperkirakan sekitar 65% kapal tanker yang keluar dari Teluk pada Mei beroperasi dalam mode "gelap", menunjukkan praktik ini kian meluas. Hal ini menyulitkan pasar memantau pergerakan minyak global karena berkurangnya transparansi rute dan tujuan pengiriman membuat pelaku pasar kesulitan menilai arus pasokan untuk pembentukan harga minyak.
Salah satu indikator utama adalah volume "oil on water" atau minyak yang tetap disimpan di kapal tanker di kawasan Teluk. Berdasarkan data Kpler, volume ini turun dari 184 juta barel pada Maret menjadi sekitar 148 juta barel saat ini. Laju penurunan stok meningkat menjadi sekitar 710.000 barel per hari dalam sebulan terakhir. Hal ini mengindikasikan peningkatan arus keluar minyak dari Teluk, meski masih dalam berbagai batasan.
Rute pasti kapal tanker yang beroperasi dalam mode "gelap" masih belum jelas. Beberapa kapal diduga menggunakan jalur yang ditetapkan Iran. Pemerintah Iran mengizinkan kapal melintasi Selat Hormuz dengan pengaturan bilateral dengan beberapa negara Asia seperti Pakistan, India, Cina, dan Jepang. Sebagian kapal juga diduga membayar biaya tertentu ke Iran untuk mendapatkan jaminan keamanan saat melintasi selat.
Sementara itu, kapal lain mungkin menggunakan jalur lebih dekat dengan wilayah pesisir Oman dengan dukungan Angkatan Laut Amerika Serikat yang menjaga keamanan maritim. Namun, situasi tetap dinamis dan bisa berubah kapan pun. Iran dapat memperketat kontrol jika negosiasi dengan AS terus buntu.
Setelah berbulan-bulan mengalami dampak ekonomi berat, setiap barel minyak yang diekspor menjadi sumber pendapatan penting bagi produsen minyak Teluk seperti Irak dan Kuwait serta negara pembeli di Asia. Pemulihan berkelanjutan membutuhkan stabilitas di Selat Hormuz. Produsen tidak akan mengaktifkan kembali sekitar 11 juta barel per hari kapasitas produksi yang dihentikan selama konflik tanpa jaminan ekspor konsisten.
Salah satu kendala utama adalah logistik, yaitu kembalinya kapal kosong ke Teluk. Tanpa pasokan kapal, fasilitas penyimpanan darat akan tetap penuh sehingga pembukaan produksi baru terhambat. Proses penyeimbangan antara kapal bermuatan keluar dan kapal kosong masuk belum terjadi dalam skala besar.
Pemilik kapal masih berhati-hati mengirim armadanya ke kawasan itu karena risiko terjebak akibat penutupan jalur pelayaran tinggi. Premi asuransi juga mencerminkan risiko ini. Pasar energi global mungkin tidak akan kembali seperti sebelum konflik, meski jalur Hormuz secara resmi dibuka lagi.
Iran berusaha mempertahankan kontrol atas lalu lintas kapal di selat serta memperkenalkan sistem pungutan bagi kapal yang melintas. Hal ini berpotensi mengubah cara kerja jalur distribusi minyak strategis dunia. Bagi produsen minyak Teluk, situasi ini sulit diterima dan dapat memaksa mereka mencari jalur ekspor alternatif. Jika posisi Iran tak dapat dilemahkan secara diplomatik, opsi militer bisa jadi muncul dalam kalkulasi geopolitik.
Meningkatnya perdagangan yang tertutup memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar. Namun, kondisi ini juga mencerminkan pasar energi yang semakin terfragmentasi, berisiko tinggi, dan penuh ketidakpastian. Setiap perbaikan mungkin hanya bersifat sementara.
```