Kemenkes Ingatkan Bahaya Kopi Gula Aren Terbaru 2026: Kurangi Takaran Bukan Ganti Gula!

Kemenkes Ingatkan Bahaya Kopi Gula Aren Terbaru 2026: Kurangi Takaran Bukan Ganti Gula!
Foto: Kemenkes Ingatkan Bahaya Kopi Gula Aren Terbaru 2026: Kurangi Takaran Bukan Ganti Gula!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Tren minuman kekinian seperti kopi susu gula aren sering kali dianggap sebagai alternatif yang lebih aman bagi kesehatan dibandingkan gula pasir biasa. Namun, asumsi tersebut baru-baru ini mendapat tanggapan serius dari pihak Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., memberikan penjelasan mendalam mengenai fenomena ini. Beliau menegaskan bahwa sekadar mengganti jenis pemanis bukanlah solusi kunci untuk menekan risiko penyakit akibat konsumsi gula berlebih.

Pernyataan ini disampaikan dr Nadia dalam diskusi detikcom Leaders Forum bertajuk 'Jebakan Hidden Sugar: Ada di Mana-mana, Diam-diam Bikin Gendut' pada Jumat (5/6/2026). Ia menyoroti bagaimana persepsi masyarakat terhadap gula aren perlu diluruskan.

"Sekarang kan suka ada tren ya, mengganti gula pasir menjadi gula aren. Nah itu sebenarnya tidak ada bedanya," ungkap dr Nadia di hadapan para peserta diskusi.

Ketika ditanya lebih lanjut mengenai perbandingan keduanya, dr Nadia menjelaskan bahwa baik gula pasir maupun gula aren sebenarnya memiliki sifat yang serupa. Perbedaan mendasar di antara keduanya hanya terletak pada bagaimana proses metabolisme berlangsung di dalam tubuh manusia.

"Sama. Cuma memang metabolitnya lebih lambat. Yang penting itu kurangi gula, bukan mengganti gula," tegasnya memberikan himbauan kepada masyarakat luas.

Mendorong Kesadaran Melalui Nutri-Level

Selain menyoroti jenis pemanis, dr Nadia juga memaparkan berbagai langkah strategis yang sedang diambil pemerintah. Salah satunya adalah upaya meningkatkan kesadaran publik terhadap kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) melalui sistem nutri-level.

Program ini dirancang agar masyarakat bisa lebih memahami profil nutrisi dari setiap produk makanan atau minuman kemasan yang mereka konsumsi. Saat ini, kebijakan penerapan nutri-level masih difokuskan pada tahap edukasi secara masif.

Sistem ini nantinya akan menggunakan indikator warna pada kemasan produk sebagai panduan cepat bagi para konsumen. Dengan adanya penandaan warna, diharapkan masyarakat bisa bertindak lebih bijak sebelum memutuskan untuk membeli atau mengonsumsi sesuatu.

Sebagai contoh, produk yang memiliki label berwarna merah menandakan adanya kandungan zat tertentu yang konsumsinya wajib dibatasi secara ketat. Hal ini bertujuan agar asupan harian tetap terjaga dalam batas aman kesehatan.

Berikut adalah anjuran dr Nadia terkait pengaturan pola konsumsi produk berlabel khusus:

  • Jika pagi hari sudah mengonsumsi produk berlabel merah, sebaiknya tidak lagi mengonsumsinya pada sore atau malam hari.
  • Konsumsi produk kategori ini disarankan hanya satu kali saja dalam sehari, atau idealnya dikurangi menjadi dua minggu sekali.
  • Untuk menjaga kesehatan jangka panjang, frekuensi konsumsi produk tinggi gula bahkan disarankan hanya sebulan sekali.

Pengaturan asupan ini menjadi hal yang sangat krusial, terutama bagi individu yang sudah memiliki riwayat medis tertentu. Kelompok yang paling rentan meliputi penderita tekanan darah tinggi, pasien diabetes, serta mereka yang memiliki risiko obesitas.

Dr Nadia berharap informasi gizi yang lebih sederhana dan mudah dipahami dapat memberdayakan masyarakat. Dengan begitu, setiap orang mampu mengontrol asupan harian mereka secara mandiri tanpa harus merasa kebingungan.

Ancaman Penyakit Tidak Menular Akibat Gula

Tingginya tingkat konsumsi gula di Indonesia diakui menjadi salah satu faktor utama pemicu lonjakan kasus penyakit tidak menular (PTM). Masalah ini menjadi perhatian serius pemerintah karena tren kenaikannya yang terus berlanjut dari tahun ke tahun.

Terdapat beberapa jenis penyakit serius yang angkanya terus merangkak naik akibat gaya hidup yang kurang sehat. Berikut adalah daftar kondisi medis yang perlu diwaspadai akibat tumpukan gula berlebih:

Jenis Penyakit Kaitan dengan Konsumsi Gula
Penyakit Jantung Asupan gula berlebih meningkatkan risiko peradangan dan tekanan darah tinggi.
Penyakit Stroke Gangguan pembuluh darah akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol secara rutin.
Gangguan Ginjal Beban kerja ginjal meningkat drastis akibat kadar glukosa darah yang terlalu tinggi.
Perlemakan Hati Kelebihan gula akan diubah tubuh menjadi lemak yang menumpuk di area organ hati.

Tabel di atas menunjukkan betapa luasnya dampak buruk yang ditimbulkan oleh pola konsumsi manis yang tidak terkendali. Akumulasi gula yang terus-menerus dalam tubuh perlahan akan merusak fungsi organ-organ vital manusia.

Oleh karena itu, dr Nadia kembali menekankan agar masyarakat segera mengubah pola pikir mereka dalam mengelola kesehatan harian. Fokus utama yang harus dikejar adalah pengurangan total volume gula yang masuk ke dalam tubuh setiap harinya.

Langkah terbaik bukanlah sekadar mencari alternatif pemanis yang dianggap lebih "sehat" namun tetap dikonsumsi dalam jumlah banyak. Pengendalian diri dan pengurangan porsi adalah kunci utama untuk menghindari jebakan penyakit di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi