Kasus Hantavirus di Indonesia 2026: Daftar Provinsi Terdampak dan Update Korban Meninggal Terkini

Kasus Hantavirus di Indonesia 2026: Daftar Provinsi Terdampak dan Update Korban Meninggal Terkini
Foto: Kasus Hantavirus di Indonesia 2026: Daftar Provinsi Terdampak dan Update Korban Meninggal Terkini. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kementerian Kesehatan Indonesia (Kemenkes) mengidentifikasi 23 kasus positif Hantavirus di sejumlah wilayah di negara ini. Sebanyak tiga pasien dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi tersebut. DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi.

Baru-baru ini, Kemenkes mengumumkan data terkait Hantavirus yang menunjukkan adanya puluhan kasus di sembilan provinsi. Berdasarkan catatan, dari kasus-kasus positif tersebut, tiga orang meninggal dunia.

Hantavirus, yang sempat 'viral' di kapal pesiar MV Hondius, teridentifikasi sebagai tipe Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Namun, di Indonesia, virus ini telah terdeteksi sejak 1991 dan termasuk jenis Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menegaskan bahwa hingga kini belum ada kasus HPS di Indonesia. Dari ratusan suspek yang ada, total 256 kasus dicatat selama periode 2024 hingga Mei 2026, 23 di antaranya dikonfirmasi sebagai HFRS dengan strain Seoul Virus.

Data menunjukkan tren peningkatan dari 1 kasus di 2024 menjadi 17 kasus pada 2025, dan 5 kasus hingga Mei 2026. Penyebaran kasus ini mencakup 9 provinsi seperti DKI Jakarta, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Timur, Banten, dan Kalimantan Barat.

Kemenkes mencatat tiga provinsi dengan kasus terbanyak, yakni DKI Jakarta dan DIY masing-masing 6 kasus, serta Jawa Barat sebanyak 5 kasus. "Peningkatan kasus yang dilaporkan berarti sistem deteksi dini kita semakin baik. Masyarakat jangan panik, namun tetap waspada terhadap risiko penularan," ujar Andi Saguni.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui tikus atau celurut yang terinfeksi. Penularan bisa terjadi melalui luka terbuka atau inhalasi partikel udara yang tercemar kotoran dan urine (aerosol) tikus. Lingkungan dengan populasi tikus tinggi, daerah banjir, dan aktivitas luar ruangan seperti berkemah meningkatkan risiko penularan. Virus ini memiliki dua tipe utama: HFRS yang menyerang ginjal dan HPS yang menyerang paru-paru dengan tingkat fatalitas mencapai 50 persen.

Artikel terkait

Rekomendasi