Harga Minyak Dunia Melonjak hingga US$107 per Barel Imbas Gangguan Pasokan

Harga Minyak Dunia Melonjak hingga US$107 per Barel Imbas Gangguan Pasokan
Foto: Ilustrasi Harga Minyak Dunia Melonjak hingga US$107 per Barel Imbas Gangguan Pasokan.
Ukuran teks

Harga minyak mentah dunia terpantau masih bertahan di level yang cukup tinggi pada perdagangan Rabu pagi (13/5/2026). Meski sempat mengalami koreksi tipis, nilai komoditas ini tetap berada pada posisi puncaknya dalam beberapa bulan terakhir.

Kondisi pasar saat ini masih dibayangi oleh ketidakpastian akibat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Selain konflik bersenjata, ancaman gangguan pada rantai pasokan global menjadi faktor utama yang memicu lonjakan harga.

Pergerakan Harga Minyak di Pasar Global

Data dari Refinitiv menunjukkan bahwa harga minyak Brent tercatat di level US$107,08 per barel pada pukul 09.30 WIB. Angka ini menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,64 persen jika dibandingkan dengan harga penutupan sebelumnya.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di posisi US$101,56 per barel. Harga tersebut melemah sekitar 0,61 persen dibandingkan perdagangan hari Selasa yang mencapai US$102,18 per barel.

Berikut adalah ringkasan perbandingan harga minyak dunia pada sesi perdagangan terbaru:

Jenis Minyak Harga Terbaru (per Barel) Perubahan (%)
Brent US$107,08 -0,64%
WTI US$101,56 -0,61%

Tabel di atas menunjukkan koreksi minor yang terjadi di pasar energi pada Rabu pagi. Namun, tren kenaikan secara keseluruhan masih sangat kuat mengingat lonjakan yang signifikan pada hari-hari sebelumnya.

Kegagalan Negosiasi dan Dampaknya pada Pasokan

Sentimen pasar kian memburuk setelah harapan akan adanya perdamaian di Timur Tengah mulai memudar. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa negosiasi gencatan senjata dengan pihak Iran saat ini berada dalam kondisi yang sangat kritis.

Kebuntuan ini dipicu oleh tuntutan Iran yang meminta penghentian seluruh front konflik serta pencabutan blokade laut. Selain itu, Teheran menuntut pemulihan akses ekspor minyak dan ganti rugi atas kerusakan yang terjadi selama perang.

Kekhawatiran semakin memuncak setelah Iran memperketat kendali mereka atas Selat Hormuz. Jalur pelayaran ini merupakan urat nadi bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) di seluruh dunia.

Badan Informasi Energi AS (EIA) kini memperkirakan gangguan di Selat Hormuz akan bertahan hingga akhir Mei. Prediksi ini jauh lebih lama dibandingkan asumsi awal yang mengira jalur tersebut akan normal kembali pada April.

Krisis Stok Minyak dan Penurunan Permintaan

Kondisi kelangkaan energi saat ini dapat diringkas dalam beberapa poin krusial sebagai berikut:

  • EIA memprediksi hilangnya pasokan dari Timur Tengah mencapai 10,8 juta barel per hari pada bulan Mei.
  • Stok minyak global diperkirakan akan menyusut hingga 2,6 juta barel per hari sepanjang tahun ini.
  • Survei internal menunjukkan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat turun sekitar 2,1 juta barel dalam sepekan terakhir.
  • Houlihan Lokey memberikan proyeksi ekstrem bahwa kekurangan suplai dunia bisa menyentuh 14 juta barel per hari.

Poin-poin tersebut menggambarkan tekanan luar biasa yang sedang dihadapi oleh industri energi global. Kelangkaan pasokan ini memaksa banyak pihak untuk mencari sumber energi alternatif atau mengubah pola distribusi mereka.

Meski harga terus melambung, kondisi ini mulai berdampak negatif terhadap tingkat konsumsi masyarakat. EIA secara drastis memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia karena daya beli yang mulai tertekan.

Kini, perhatian pelaku pasar tertuju pada pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping. Pertemuan ini dianggap krusial karena peran China sebagai mitra dagang utama minyak Iran yang memiliki pengaruh besar dalam diplomasi kawasan.

Artikel terkait

Rekomendasi