Seorang Warga Negara Indonesia (WNI), Sri Rahayu yang berusia 21 tahun, tewas setelah diserang dengan pisau di area pemukiman Chitose, Hokkaido, Jepang pada Kamis malam (4/6/2026). Polisi berhasil menangkap seorang pria WNI berusia 27 tahun yang diduga terlibat dalam pembunuhan itu. Kejadian ini berlangsung sekitar pukul 21.10 waktu setempat setelah seorang pejalan kaki melaporkan adanya pria membawa pisau dapur di trotoar wilayah Chitose.
Laporan dari Kepolisian Prefektur Hokkaido menyebutkan bahwa korban ditemukan dengan sejumlah luka tusukan, termasuk di bagian perut. Meskipun segera dilarikan ke rumah sakit, nyawa korban tidak dapat diselamatkan.
Polisi melakukan penangkapan terhadap seorang pria bernama Mahmudi Agung Laksana Aji, warga negara Indonesia berusia 27 tahun yang menetap di Prefektur Chiba dan bekerja paruh waktu. Tersangka diduga mengenal korban dan dalam pemeriksaan awal, ia mengakui perbuatannya.
“Saya menikamnya karena saya bermaksud membunuhnya,” ungkap tersangka dalam penyelidikan, sebagaimana dilaporkan oleh The Japan News. Di lokasi kejadian, polisi menemukan dua pisau dapur dan kini menyelidiki kemungkinan untuk meningkatkan dakwaan menjadi kasus pembunuhan.
Saat penangkapan berlangsung, seorang petugas polisi mengalami luka sayatan di tangan dan kaki. Sementara itu, seorang pria yang dikenal korban juga terluka dan dibawa ke rumah sakit. Kedua individu tersebut tidak mengalami luka yang mengancam nyawa.
Pemadam kebakaran melaporkan bahwa korban kemungkinan jatuh dari tangga sebuah apartemen sebelum atau sesudah ditikam. Seorang saksi berusia 50-an tahun menggambarkan suasana pasca-kejadian. “Saya melihat seorang perempuan tergeletak di jalan. Kemudian ambulans datang dan petugas darurat melakukan CPR,” jelasnya.
Insiden mengerikan ini terjadi di kawasan pemukiman yang terletak sekitar 1,8 kilometer sebelah barat laut Stasiun JR Chitose. Motif serta kronologi lengkap kejadian masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.
KOMPAS.com berkomitmen menyajikan informasi yang jelas, tepercaya, dan berimbang. Untuk mendukung jurnalisme jernih dan menikmati pembacaan tanpa iklan, bergabunglah dengan KOMPAS.com Plus sekarang.