Bos Houthi Yaman Siap Hadapi Eskalasi Besar, Bahas Ketegangan AS-Israel Terbaru

Bos Houthi Yaman Siap Hadapi Eskalasi Besar, Bahas Ketegangan AS-Israel Terbaru
Foto: Bos Houthi Yaman Siap Hadapi Eskalasi Besar, Bahas Ketegangan AS-Israel Terbaru. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pemimpin kelompok Houthi di Yaman, Abdul-Malik Al-Houthi, menyatakan kesiapannya untuk menghadapi setiap potensi eskalasi yang mungkin terjadi di kawasan Timur Tengah. Ia menegaskan bahwa koordinasi dengan sekutu-sekutu regional berjalan penuh, menurut laporan Anadolu Agency, Jumat (5/6/2026).

Pernyataan Abdul-Malik Al-Houthi disampaikan melalui pidato di televisi yang disiarkan oleh saluran TV Al-Masirah milik kelompok tersebut. Dalam pidatonya, ia menegaskan kesiapan Houthi terhadap perkembangan terbaru. "Kami siap untuk menghadapi eskalasi atau situasi baru apa pun saat ini," ungkap Abdul-Malik Al-Houthi.

Dia menekankan pentingnya menjaga koordinasi erat dengan sekutu mereka dalam "Poros Perlawanan". Koordinasi ini mencakup situasi di Lebanon dan Palestina serta tanggapan terhadap tindakan AS yang ia gambarkan sebagai tidak adil dan agresif.

Al-Houthi juga memberi peringatan kepada pihak-pihak di kawasan untuk tidak terperangkap dalam upaya yang disebutnya sebagai strategi Washington yang hanya menguntungkan Israel. Dia menilai situasi di Timur Tengah saat ini melalui "tahap kritis" yang membutuhkan kewaspadaan tinggi.

Ia menuduh Israel melakukan "kejahatan nyata" di Palestina dan Lebanon dengan tujuan agresif yang lebih luas di kawasan tersebut.

Dukungan untuk Hizbullah:

Kementerian Luar Negeri dalam pemerintahan Houthi yang tidak diakui secara internasional juga menyatakan sikapnya terkait situasi di Lebanon. Pernyataan resmi yang dirilis oleh Kantor Berita Saba menunjukkan dukungan penuh kepada kelompok Hizbullah di Lebanon.

Dukungan tersebut terkait dengan respons terhadap perjanjian antara "otoritas di Beirut dan entitas musuh Israel". Kementerian menyebut perlawanan sebagai cara paling efektif untuk menghentikan agresi Israel dan mengakhiri pendudukan di Lebanon.

Ketegangan di kawasan sempat meningkat drastis sejak 28 Februari, setelah serangan udara AS dan Israel ke Iran yang menewaskan lebih dari 3.000 orang. Sebagai balasan, Iran menargetkan Israel dan negara-negara Teluk yang menampung pangkalan militer AS.

Iran juga sempat menutup Selat Hormuz, jalur vital perdagangan global. Meskipun gencatan senjata yang diprakarsai Pakistan berlaku mulai 8 April, upaya mencapai kesepakatan lebih luas terus berlangsung hingga kini.

Artikel terkait

Rekomendasi