Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang diumumkan di Washington merupakan peluang terakhir untuk mengakhiri konflik secara menyeluruh. Pernyataan ini muncul setelah selesainya putaran keempat perundingan antara utusan Israel dan Lebanon dengan mediasi Amerika Serikat pada Rabu (3/6/2026).
Kedua belah pihak sepakat untuk menerapkan gencatan senjata, namun pelaksanaannya sangat bergantung pada penghentian total serangan oleh kelompok Hizbullah. Aoun menilai poin-poin yang dihasilkan dalam negosiasi kali ini sangat krusial bagi masa depan kedaulatan Lebanon.
Aoun juga memperingatkan bahwa setiap pihak akan memikul tanggung jawab besar jika gagal merespons kesepakatan ini dengan sikap positif. Dirinya berharap semua aktor yang terlibat dapat memahami urgensi dari situasi yang sedang berkembang saat ini.
Syarat Utama dan Peran Amerika Serikat
Pemerintah Lebanon berjanji akan segera memberikan posisi resmi mereka kepada pihak Amerika Serikat. Langkah ini akan dilakukan setelah menerima tanggapan dari pihak internal terkait, terutama dari kelompok Hizbullah.
Dalam proses ini, Amerika Serikat memegang peran kunci sebagai penentu tanggal dimulainya gencatan senjata. Presiden Donald Trump juga disebut akan bertindak sebagai penjamin langsung atas implementasi kesepakatan tersebut di lapangan.
Berdasarkan hasil pembicaraan di Washington, terdapat sejumlah poin utama yang menjadi landasan gencatan senjata:
- Penghentian total seluruh aktivitas tembakan oleh kelompok Hizbullah ke arah wilayah Israel.
- Evakuasi seluruh anggota dan personel Hizbullah dari wilayah Sektor Litani Selatan yang strategis.
- Penerapan kontrol eksklusif oleh angkatan bersenjata Lebanon di wilayah tertentu tanpa campur tangan aktor non-negara.
- Pembentukan zona percontohan keamanan sebagai langkah awal normalisasi situasi di perbatasan.
Ketentuan ini mengharuskan Sungai Litani, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan, bersih dari aktivitas militer selain tentara resmi Lebanon. Hal ini bertujuan untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di wilayah konflik.
Pembentukan Zona Percontohan Keamanan
Lebanon mengusulkan agar pembentukan zona percontohan dimulai dari wilayah selatan yang mencakup kawasan Kastil Beaufort. Benteng bersejarah dari abad pertengahan tersebut diketahui telah dikuasai oleh Israel sejak Minggu (31/6/2026).
Di sisi lain, Israel menunjukkan sikap yang masih sangat tegas terkait operasi militer mereka di wilayah perbatasan. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa pasukannya akan terus bergerak di darat hingga mencapai batas yang ditentukan.
Berikut adalah ringkasan mengenai batasan wilayah dan kondisi keamanan di lapangan:
| Istilah Wilayah | Lokasi / Jarak | Status Keamanan |
|---|---|---|
| Sektor Litani Selatan | 30 Km dari perbatasan | Area wajib evakuasi bagi Hizbullah |
| Garis Kuning (Yellow Line) | 12 Km dari perbatasan Israel | Batas operasi darat militer Israel |
| Zona Percontohan | Sekitar Kastil Beaufort | Wilayah kendali eksklusif tentara Lebanon |
Data tersebut menunjukkan kompleksitas pembagian wilayah yang harus ditaati oleh kedua belah pihak agar eskalasi tidak kembali meningkat. Israel juga menegaskan bahwa warga sipil dilarang kembali ke pemukiman mereka hingga kondisi benar-benar stabil.
Hingga saat ini, publik masih menanti respons tegas dari Sekretaris Jenderal Hizbullah, Sheikh Naim Qassem, mengenai poin-poin kesepakatan tersebut. Sikap Hizbullah menjadi kunci utama apakah gencatan senjata ini akan bertahan lama atau justru berakhir dengan kegagalan.