Pemerintah Iran bereaksi keras terhadap laporan yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat berencana menggunakan aset Iran yang dibekukan untuk membayar ganti rugi kepada negara-negara Arab di kawasan Teluk.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa pemerintah regional saat ini tidak memiliki hak ataupun posisi legal untuk menuntut kompensasi semacam itu.
Penolakan Tegas dari Pemerintah Iran
Melalui pernyataan resminya di media sosial X, Gharibabadi menekankan bahwa kekayaan negara Iran yang ditahan saat ini bukanlah harta rampasan perang milik Washington.
Ia juga menambahkan bahwa dana tersebut tidak boleh dianggap sebagai pundi-pundi pembayaran yang bisa dibagikan begitu saja kepada sekutu-sekutu Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul menyusul laporan dari Reuters yang mengungkapkan skenario penggunaan aset tersebut oleh pihak Gedung Putih.
Sumber yang mengetahui rencana tersebut mengklaim bahwa Amerika Serikat bermaksud memanfaatkan dana Iran untuk membantu pembangunan kembali negara-negara Teluk pasca-konflik.
Langkah Pengkajian oleh Departemen Keuangan AS
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dikabarkan telah menginstruksikan sebuah tim khusus untuk mengevaluasi total kerugian yang diderita oleh negara-negara Teluk akibat aksi militer Iran.
Tim ini bertugas menghitung biaya kerusakan infrastruktur, baik yang terjadi di masa lalu maupun potensi kerusakan di masa depan akibat eskalasi senjata.
Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi dasar kemarahan Teheran atas rencana tersebut:- Bukan Rampasan Perang: Iran menegaskan bahwa aset yang dibekukan adalah hak milik kedaulatan negara yang tidak bisa dipindahtangankan secara sepihak.
- Intervensi Kedaulatan: Teheran menganggap langkah Amerika Serikat sebagai bentuk campur tangan ilegal terhadap kekayaan nasional Iran.
- Tujuan Pembangunan Sekutu: Iran menolak dana mereka digunakan untuk membiayai infrastruktur negara-negara yang bersekutu dengan AS dan Israel.
Ketiga poin di atas menggambarkan posisi diplomasi Iran yang merasa hak-hak ekonominya sedang dirampas demi kepentingan geopolitik negara lain.
Konteks Serangan di Kawasan Teluk
Selama masa konflik, Iran tercatat pernah melancarkan serangan menggunakan pesawat nirawak (drone) serta rudal ke beberapa titik di wilayah Teluk.
Pihak Teheran saat itu berdalih bahwa serangan tersebut ditujukan secara spesifik untuk menyasar kepentingan militer serta ekonomi Amerika Serikat dan Israel di wilayah tersebut.
Namun, dampak dari serangan ini turut merusak fasilitas di negara-negara tetangga, yang kini menjadi dasar bagi AS untuk mempertimbangkan penggunaan aset Iran sebagai biaya pemulihan.
Hingga saat ini, situasi diplomasi antara Iran dan blok Barat tetap tegang seiring dengan pembahasan mengenai status dana yang dibekukan tersebut.