Sebuah investigasi mendalam yang dilakukan oleh Al Jazeera mengungkap fakta mengejutkan mengenai rantai pasok militer global ke Israel. Laporan tersebut menyebutkan terdapat setidaknya 51 negara dan wilayah otonom yang tetap mengirimkan material militer ke negara tersebut.
Ironisnya, aktivitas pengiriman ini terus berlangsung meski Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan peringatan keras. Peringatan tersebut berkaitan dengan adanya risiko potensi genosida yang terjadi di wilayah Gaza.
Data Impor Militer Israel Meningkat Pesat
Investigasi ini didasarkan pada analisis data Otoritas Pajak Israel (ITA) dalam rentang tahun 2022 hingga 2025. Data tersebut kemudian diperkuat dengan catatan resmi bea cukai serta berbagai permohonan akses informasi publik di berbagai negara.
Hasil temuan menunjukkan bahwa sebagian besar negara pemasok merupakan penandatangan Konvensi Genosida. Beberapa di antaranya bahkan secara resmi mengklaim telah menerapkan embargo atau menangguhkan pengiriman senjata ke Israel.
Faktanya, volume impor militer Israel justru mengalami lonjakan yang signifikan setelah keputusan ICJ dibacakan. Kategori amunisi menjadi komoditas yang paling banyak masuk ke negara tersebut selama periode konflik berlangsung.
Daftar negara pemasok utama barang keperluan militer ke Israel:
- Amerika Serikat: Masih menjadi sekutu utama dalam penyediaan alat pertahanan.
- India: Mencatat peningkatan volume pengiriman barang terkait militer.
- Rumania: Menjadi salah satu eksportir utama dari kawasan Eropa.
- Taiwan: Berperan penting dalam rantai pasok komponen teknologi militer.
- Republik Ceko: Konsisten mengirimkan kebutuhan militer selama masa perang.
Daftar di atas mencakup lima negara dengan volume pengiriman terbesar yang tercatat dalam data otoritas pajak. Selain negara-negara tersebut, investigasi juga menyoroti keterlibatan sejumlah negara dengan mayoritas penduduk Muslim.
Keterlibatan Negara Muslim dan Tetangga Indonesia
Laporan Al Jazeera merinci bahwa beberapa negara Muslim turut terdeteksi dalam rantai pasokan militer ini. Nama-nama seperti Uni Emirat Arab, Turki, Malaysia, Uzbekistan, hingga Azerbaijan muncul dalam daftar tersebut.
Tak hanya itu, negara-negara yang bertetangga dekat dengan Indonesia juga tidak luput dari pantauan. Filipina dan Singapura tercatat mengirimkan barang-barang yang masuk dalam kategori keperluan militer ke Israel.
Ringkasan statistik impor militer Israel berdasarkan data ITA:
| Periode Waktu | Total Nilai Impor (Shekel) | Estimasi Nilai (USD) |
|---|---|---|
| 20 Bulan Sebelum Oktober 2023 | 1,41 Miliar | 388,1 Juta |
| Oktober 2023 - Oktober 2025 | 3,22 Miliar | 885,6 Juta |
| Dua Bulan Terakhir 2025 | 324,9 Juta | 89,4 Juta |
Tabel tersebut menunjukkan lonjakan ketergantungan Israel pada pasokan luar negeri untuk mendukung operasi militernya. Sekitar 91 persen dari nilai impor tersebut tercatat justru setelah munculnya putusan dari Mahkamah Internasional.
Detail Komponen dan Kode Rahasia
Meskipun banyak negara merahasiakan statistik ekspor mereka, data internal Israel memperlihatkan aktivitas nyata di lapangan. Setidaknya ada 2.603 pengiriman logistik militer yang berhasil diidentifikasi dalam periode dua tahun terakhir.
Jenis barang yang dikirim sangat beragam, mulai dari amunisi, bahan peledak, hingga suku cadang kendaraan lapis baja. Komponen-komponen ini masuk ke Israel menggunakan kode bea cukai khusus delapan digit yang terorganisir.
Aliran logistik ini bahkan tetap mengalir deras meskipun kesepakatan gencatan senjata sempat tercapai pada Oktober 2025. Hal ini mengindikasikan bahwa mesin perang Israel terus diperkuat oleh dukungan material dari puluhan negara di berbagai benua.