Operasi China Terungkap: Rekrut Mata-mata via LinkedIn, Intel Five Eyes Ungkap Fakta Mengejutkan!

Operasi China Terungkap: Rekrut Mata-mata via LinkedIn, Intel Five Eyes Ungkap Fakta Mengejutkan!
Foto: Operasi China Terungkap: Rekrut Mata-mata via LinkedIn, Intel Five Eyes Ungkap Fakta Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - China dikabarkan merekrut personel militer dan pejabat pemerintah dari negara-negara Barat untuk memperoleh informasi sensitif melalui LinkedIn dan platform profesional lainnya. Jaringan intelijen Five Eyes yang terdiri dari AS, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru melaporkan bahwa operasi ini melibatkan agen intelijen militer China. Mereka menyamar sebagai pegawai perusahaan konsultan, lembaga pemikir, atau perusahaan perekrutan tenaga kerja.

Dalam buletin yang dikeluarkan badan keamanan, termasuk FBI, diungkapkan bahwa target umumnya merespons iklan pekerjaan online yang terlihat sah. Mereka yang memiliki akses ke informasi keamanan, seperti personel militer atau individu dengan pengetahuan tentang kawasan Indo-Pasifik, kemudian diwawancarai dan diminta membuat "laporan percobaan." Setelah itu, mereka diminta menyerahkan informasi lebih sensitif melalui laporan lain.

Sebagai imbalan, penawaran kompensasi dapat mencapai beberapa ribu dolar untuk setiap laporan yang diberikan. Menurut peringatan tersebut, banyak agen intelijen China menggunakan perusahaan "kedok" yang tampak legal dan mengklaim beroperasi di luar China. Penggunaan media sosial untuk perekrutan mata-mata ini dilaporkan telah berlangsung setidaknya selama satu dekade. Fakta ini berdasar dari dakwaan federal AS dan keterangan sejumlah pejabat, berdasarkan laporan The Wall Street Journal, Kamis (4/6/2026).

Washington bersama sekutunya telah berulang kali memberikan peringatan terkait ancaman ini dalam beberapa tahun terakhir. MI5: "Lebih dari 20.000 orang Inggris didekati" PEXELS/AIRAM DATO-ON. Ilustrasi media jejaring profesional LinkedIn ini menggambarkan bahwa ancaman tersebut tetap ada meski banyak upaya untuk membongkar praktik ini telah dilakukan.

Peringatan terbaru ini menjadi perhatian karena muncul tak lama setelah kunjungan kenegaraan Presiden AS Donald Trump ke Beijing. Dalam kunjungan tersebut, Trump dan Xi Jinping dari China berjanji membangun hubungan yang lebih konstruktif. MI5 melaporkan bahwa lebih dari 20.000 orang di Inggris telah didekati agen China melalui LinkedIn dalam beberapa tahun terakhir untuk mendapatkan informasi sensitif.

LinkedIn memastikan bahwa penyamaran identitas adalah pelanggaran aturan platform. "Kami tetap fokus mendeteksi penyalahgunaan yang didukung negara, dan akan terus menegakkan kebijakan kami terhadap akun palsu," ujar LinkedIn dalam pernyataaannya.

Artikel terkait

Rekomendasi