Rupiah Tembus Rp17.940 per Dolar AS, Rekor Terendah Terbaru 2026 Mengejutkan Pasar

Rupiah Tembus Rp17.940 per Dolar AS, Rekor Terendah Terbaru 2026 Mengejutkan Pasar
Foto: Rupiah Tembus Rp17.940 per Dolar AS, Rekor Terendah Terbaru 2026 Mengejutkan Pasar. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan sejarah kelam setelah mengalami koreksi tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026). Mata uang Garuda kini menyentuh rekor terendah sepanjang masa dan menembus level psikologis baru yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah berakhir di posisi Rp17.940/US$ pada penutupan pasar hari ini. Angka tersebut menandakan rupiah telah melampaui level Rp17.900/US$ dan kini semakin mendekati ambang batas krusial di posisi Rp18.000/US$.

Tekanan Pasar dan Penguatan Indeks Dolar

Rupiah terpantau sudah berada dalam tekanan besar sejak pasar dibuka pada pagi hari. Pada awal perdagangan, mata uang Indonesia melemah 0,22 persen ke posisi Rp17.870/US$ sebelum akhirnya merosot lebih dalam hingga sesi penutupan.

Kondisi ini diperparah oleh indeks dolar AS (DXY) yang menunjukkan tren penguatan terhadap sejumlah mata uang utama dunia. Hingga pukul 15.00 WIB, indeks yang mengukur kekuatan greenback tersebut naik tipis 0,05 persen ke level 99,271.

Pelemahan nilai tukar kali ini dipicu oleh perpaduan sentimen buruk, baik dari faktor eksternal global maupun kondisi ekonomi di dalam negeri. Secara eksternal, dolar AS kembali diburu investor karena dianggap sebagai aset aman (safe haven) di tengah ketegangan geopolitik.

Konflik di wilayah Teluk dilaporkan kembali memanas setelah adanya laporan mengenai peluncuran rudal balistik dari Iran. Meski serangan tersebut dikabarkan gagal mengenai target, ketegangan meningkat setelah pasukan AS merespons dengan serangan balasan ke Pulau Qeshm.

Penurunan Surplus Perdagangan Domestik

Dari sisi domestik, kinerja perdagangan Indonesia yang melambat memberikan tekanan tambahan bagi pergerakan nilai tukar rupiah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan adanya penurunan signifikan pada surplus neraca perdagangan nasional.

Rincian kinerja neraca perdagangan Indonesia berdasarkan data terbaru :

  • Surplus April 2026: Tercatat hanya sebesar US$90 juta, turun drastis dibandingkan posisi Maret 2026 yang mencapai US$3,32 miliar.
  • Akumulasi Januari-April: Surplus periode ini merosot tajam menjadi US$5,64 miliar dari sebelumnya US$11,07 miliar pada tahun lalu.

Penurunan kinerja perdagangan ini mencerminkan berkurangnya pasokan valuta asing yang masuk ke dalam negeri. Hal tersebut secara langsung memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah di pasar spot.

Langkah Strategis Bank Indonesia

Merespons situasi ini, Bank Indonesia (BI) menyatakan komitmennya untuk tetap berada di pasar guna menjaga stabilitas. Otoritas moneter akan terus memantau dinamika pasar keuangan secara konsisten dan terukur demi memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa BI mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang ada. Fokus utamanya adalah memastikan mekanisme pasar berjalan normal serta menjaga ketersediaan likuiditas valas tetap mencukupi.

Beberapa kebijakan terbaru yang diimplementasikan BI untuk menjaga rupiah :

Jenis Kebijakan Keterangan dan Tujuan
Threshold Beli Valas Batas beli valas tanpa underlying ditetapkan US$25.000 per pelaku per bulan mulai 2 Juni 2026.
Skema LCT Mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral dengan negara mitra.
Diversifikasi Mitra Kerja sama LCT dijalankan dengan Tiongkok, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan UEA.

Langkah-langkah strategis ini diharapkan dapat menekan ketergantungan terhadap dolar AS dalam jangka panjang. Selain itu, BI berupaya memitigasi risiko volatilitas nilai tukar yang berlebihan agar tidak mengganggu stabilitas pasar keuangan domestik.

Artikel terkait

Rekomendasi