Sebuah studi terbaru yang dirilis oleh Institut Ekonomi Jerman (IW) mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai peta kepemilikan inovasi di negara tersebut. Hasil riset menunjukkan bahwa China kini telah menguasai lebih dari 11.300 paten teknologi yang awalnya dikembangkan di tanah Jerman.
Data yang dikumpulkan selama dua dekade terakhir ini mencerminkan betapa masifnya pengaruh entitas asing terhadap hasil riset Jerman. Laporan yang disusun untuk Bertelsmann Foundation ini menegaskan bahwa hampir sepertiga dari total penemuan di Jerman kini beralih ke tangan pemilik luar negeri.
Dominasi Amerika Serikat dan Ekspansi Agresif China
Meskipun China menunjukkan pertumbuhan yang sangat cepat, Amerika Serikat sebenarnya masih memegang posisi sebagai pemilik asing terbesar. Hingga saat ini, perusahaan-perusahaan asal Negeri Paman Sam menguasai hampir sepertiga dari seluruh paten asing yang ada di Jerman.
Sementara itu, posisi kedua diikuti oleh Swiss yang mengantongi sekitar 11 persen dari total hak paten tersebut. Namun, perhatian khusus kini tertuju pada China karena strategi ekspansinya yang dinilai sangat agresif pada sektor-sektor kunci.
Sektor teknologi industri dan rekayasa mesin menjadi ladang utama bagi investor asal Tiongkok dalam mengakuisisi inovasi. Fokus ini dianggap strategis karena kedua bidang tersebut merupakan tulang punggung kekuatan ekonomi Jerman selama ini.
Rincian pertumbuhan paten asing berdasarkan data Institut Ekonomi Jerman:
- Jumlah pengajuan paten di sektor teknik mesin melonjak dari 3.300 pada tahun 2000 menjadi 4.300 pada tahun 2022.
- China tercatat sebagai salah satu aktor paling aktif dalam melakukan akuisisi teknologi Jerman pada sektor tersebut.
- Peningkatan kepemilikan asing juga didorong oleh pelemahan kapasitas inovasi domestik di dalam negeri Jerman sendiri.
- Adanya ketimpangan akses pasar, di mana China mudah membeli teknologi Barat namun membatasi investasi asing di negaranya.
Data di atas memperlihatkan tren pergeseran kepemilikan intelektual yang cukup signifikan dalam kurun waktu 22 tahun. Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai masa depan kemandirian industri Jerman di kancah internasional.
Ketimpangan Persaingan dan Penurunan Investasi Riset
Pakar dari IW, Oliver Koppel, menyebutkan bahwa kepemilikan paten di luar negeri sebenarnya adalah hal yang wajar dalam kompetisi global. Namun, ia menyoroti adanya ketidakseimbangan yang dipicu oleh kebijakan pemerintah Beijing dalam mendukung akuisisi teknologi Barat.
Koppel menilai pemerintah China secara aktif mendorong korporasi mereka untuk mengambil alih teknologi strategis. Di sisi lain, akses bagi investor asing untuk masuk ke pasar domestik China tetap dibatasi secara ketat oleh regulasi setempat.
Perbandingan peringkat belanja penelitian dan pengembangan (R&D) global:
| Tahun | Peringkat Jerman | Peringkat China | Keterangan Investasi |
|---|---|---|---|
| 2000 | Posisi 3 | Peringkat Bawah | Investasi Jerman 2x lipat lebih besar dari China. |
| 2021 | Posisi 6 | Posisi Papan Atas | China melesat menjadi salah satu investor R&D terbesar dunia. |
Tabel tersebut menunjukkan penurunan daya saing Jerman dalam hal pendanaan riset dibandingkan dengan kompetitor utamanya. Pada tahun 2000, Jerman sangat mendominasi, namun posisi tersebut mulai tergerus dalam dua dekade terakhir.
Menurut analisis IW, investasi riset dan pengembangan di Jerman saat ini tidak lagi tumbuh secepat negara-negara pesaing. Hal ini menciptakan celah bagi pihak luar untuk masuk dan mengambil alih hasil inovasi yang sudah ada.
Koppel memperingatkan negara-negara Eropa agar mulai memperketat pengawasan terhadap perpindahan teknologi yang bersifat strategis. Langkah ini dianggap penting guna menjaga daya saing industri Benua Biru di masa depan agar tidak terus bergantung pada entitas asing.