PGEO Raih Pendanaan Asing US$477,87 Juta untuk 3 Proyek Terbaru 2026

PGEO Raih Pendanaan Asing US$477,87 Juta untuk 3 Proyek Terbaru 2026
Foto: PGEO Raih Pendanaan Asing US$477,87 Juta untuk 3 Proyek Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) baru saja mendapatkan suntikan dana besar dari investor internasional. Dukungan finansial ini datang seiring dengan masuknya tiga proyek strategis perusahaan ke dalam daftar Green Book 2026 yang diterbitkan oleh Kementerian PPN/Bappenas.

Direktur Utama PGE, Ahmad Yani, menjelaskan bahwa pengakuan dari Bappenas ini merupakan bukti nyata bahwa proyek-proyek perusahaan telah siap menuju tahap pengembangan lebih lanjut. Hal ini sangat krusial di tengah peningkatan permintaan energi bersih serta tantangan ketahanan energi di level global.

Menurut Yani, kinerja keuangan perusahaan yang terus positif telah memperkuat kepercayaan para pemodal internasional terhadap prospek bisnis masa depan. Kepercayaan ini menjadi modal penting bagi perseroan untuk terus mematangkan rencana pengembangan berbagai proyek panas bumi mereka.

Pertumbuhan Kinerja Keuangan dan Operasional PGEO

Berdasarkan data laporan keuangan per akhir Maret 2026, PGEO berhasil mencetak kenaikan laba bersih yang cukup signifikan sebesar 40 persen. Laba perusahaan melonjak menjadi US$43,90 juta, dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar US$31,35 juta.

Sisi pendapatan juga menunjukkan tren yang menggembirakan dengan perolehan sebesar US$116,56 juta. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sekitar 14,8 persen jika disandingkan dengan pendapatan kuartal pertama tahun lalu yang berada di angka US$101,507 juta.

Pada tahun 2025, PGE telah mencatatkan rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah perusahaan dengan total mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh). Angka produksi tersebut merupakan kenaikan sebesar 5,55 persen dibandingkan total produksi pada tahun 2024 yang berjumlah 4.827 GWh.

Tren positif di sisi produksi ini masih berlanjut hingga kuartal pertama tahun 2026. Produksi listrik tercatat meningkat hingga 15,22 persen secara tahunan (YoY), dengan total mencapai 1.370 GWh.

Optimalisasi Pendanaan Global dan Skema Green Book

Ahmad Yani menegaskan bahwa pencapaian ini tidak hanya membuka akses ke berbagai sumber dana internasional, tetapi juga meningkatkan visibilitas proyek di mata mitra global. Hal ini menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan perusahaan sekaligus mendukung transisi energi di Indonesia.

Masuknya tiga proyek andalan ke dalam Green Book juga memberikan keuntungan berupa biaya pinjaman (cost of debt) yang jauh lebih kompetitif. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan keekonomian proyek dalam jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan.

Daftar proyek PGEO yang berhasil masuk dalam Green Book 2026 mencakup beberapa unit strategis berikut ini:

  • Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3 dengan kapasitas 55 Megawatt (MW).
  • Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 4 dengan kapasitas 55 Megawatt (MW).
  • Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lahendong Unit 7 dan Unit 8 dengan kapasitas total 50 Megawatt (MW).

Secara resmi, Green Book 2026 atau Daftar Rencana Prioritas Pinjaman Luar Negeri memuat daftar proyek nasional yang telah mendapatkan komitmen pendanaan. Daftar ini dikoordinasikan langsung oleh Pemerintah Indonesia melalui berbagai mitra pembangunan dari mancanegara.

Penyusunan daftar tersebut mengacu pada Keputusan Menteri PPN/Kepala Bappenas Nomor Kep. 52/M. PPN/IIK/06/2026. Sebelumnya, proyek-proyek ini juga telah lulus seleksi teknis, finansial, dan lingkungan dalam dokumen Blue Book 2025 - 2029.

Rincian alokasi pendanaan internasional untuk ketiga proyek tersebut adalah sebagai berikut:

Nama Proyek Lembaga Pendana Nilai Pinjaman (Juta US$) Target Operasi (COD)
PLTP Lumut Balai Unit 3 JICA US$158,86 Tahun 2030
PLTP Lumut Balai Unit 4 JICA US$148,97 Tahun 2032
PLTP Lahendong Unit 7-8 World Bank US$170,04 Tahun 2030

Tabel di atas menunjukkan rincian total pinjaman sebesar US$477,87 juta yang disalurkan melalui skema on-lending. Pendanaan ini menggunakan mekanisme concessional loan yang memiliki keunggulan berupa suku bunga lebih rendah dan tenor yang lebih panjang.

Dampak Strategis dan Perluasan Kapasitas Energi

Ketiga proyek tersebut merupakan bagian penting dari peta jalan besar PGE untuk mencapai target kapasitas panas bumi sebesar 3 gigawatt (GW). Kehadiran pembangkit baru ini akan menambah pasokan listrik rendah emisi dalam bauran energi nasional secara signifikan.

PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 yang berlokasi di Sumatera Selatan akan memperkuat pasokan listrik di wilayah tersebut. Proyek ini juga telah memiliki kontrak jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA) yang menjamin kelangsungan bisnis ke depannya.

Sementara itu, ekspansi di PLTP Lahendong Unit 7 dan 8 diharapkan mampu mendongkrak kontribusi energi panas bumi di Sulawesi Utara. Kontribusi listrik perusahaan di wilayah tersebut diproyeksikan meningkat dari 30 persen menjadi sekitar 35 hingga 40 persen.

Sebagai produsen panas bumi terkemuka di dunia, PGE terus menjalankan tiga strategi utama dalam menjalankan operasionalnya. Strategi tersebut meliputi optimalisasi aset yang sudah ada, melakukan ekspansi bisnis, serta diversifikasi sumber pendapatan baru.

Ahmad Yani menutup penjelasannya dengan menyatakan bahwa pengembangan panas bumi memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat. Selain menghasilkan energi bersih, proyek-proyek ini juga menyerap tenaga kerja lokal dan memperkuat ekosistem industri nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi