Duta Besar Iran untuk Moskow, Kazem Jalali, memberikan pernyataan terbaru mengenai status operasional Selat Hormuz di tengah ketegangan yang masih berlangsung. Ia menegaskan bahwa jalur perairan vital tersebut akan tetap dibuka, namun dengan skema operasional yang berbeda dari sebelumnya.
Menurut rencana tersebut, Iran dan Oman akan menetapkan persyaratan baru bagi setiap kapal yang melintas. Salah satu poin utamanya adalah pengenaan biaya transit yang selama ini tidak diterapkan bagi kapal komersial internasional.
Syarat Baru dan Mekanisme Biaya Transit
Sebelum pecahnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, Selat Hormuz merupakan urat nadi energi global. Jalur ini menampung sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia yang dikirim ke berbagai negara.
Meskipun beberapa kapal tanker dilaporkan berhasil keluar dari Teluk baru-baru ini, aliran pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) tetap mengalami kendala besar. Hal ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas harga energi di pasar internasional.
Berikut adalah poin-poin mengenai rencana penerapan tarif di Selat Hormuz:
- Otoritas Gabungan: Syarat dan ketentuan baru akan ditentukan secara bersama oleh pihak berwenang di Iran dan Oman.
- Dasar Layanan: Iran berargumen bahwa mereka menyediakan layanan keamanan dan navigasi tertentu sehingga berhak atas kompensasi biaya.
- Variabel Tarif: Besaran biaya tidak akan seragam, melainkan disesuaikan dengan beberapa faktor teknis.
- Tujuan Jangka Panjang: Teheran mengusulkan pengenaan biaya ini dimasukkan ke dalam kerangka perjanjian perdamaian permanen di masa depan.
Rencana tersebut menegaskan posisi Iran yang ingin memiliki kendali lebih besar terhadap jalur perairan yang menjadi wilayah kedaulatannya. Kazem Jalali dalam wawancara dengan surat kabar Rusia, Izvestia, menyebutkan bahwa pengenaan biaya adalah hal yang wajar mengingat layanan yang mereka berikan.
Reaksi Keras Amerika Serikat dan Negara Importir
Langkah Iran ini mendapatkan penolakan tajam dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Washington bahkan telah memperingatkan Oman agar tidak bekerja sama dengan Iran dalam skema pemberlakuan tarif lintasan tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengklaim telah menerima jaminan dari pihak Oman bahwa mereka belum memiliki rencana untuk menerapkan biaya tersebut. Namun, Iran tetap konsisten pada posisinya untuk mengubah aturan main di Selat Hormuz.
Informasi detail mengenai penentuan biaya transit yang direncanakan:
| Faktor Penentu | Penjelasan Singkat |
|---|---|
| Jenis Kapal | Klasifikasi berdasarkan dimensi dan fungsi operasional kapal. |
| Kapasitas Muatan | Volume minyak, gas, atau komoditas lain yang diangkut. |
| Kondisi Berlaku | Situasi keamanan dan operasional di selat pada saat melintas. |
Tabel di atas merangkum parameter yang akan digunakan Iran untuk menghitung tagihan bagi kapal-kapal tanker. Sistem ini diprediksi akan menambah beban biaya logistik global bagi negara-negara konsumen minyak mentah.
Di sisi lain, negara-negara seperti Jepang masih memantau situasi ini dengan sangat hati-hati. Sebagai negara yang mengimpor 95 persen minyak dari Timur Tengah, Jepang menyatakan sejauh ini kapal mereka belum membayar biaya tambahan saat melintas pada bulan Mei lalu.
Situasi semakin rumit setelah Israel mengonfirmasi serangan terhadap sasaran militer di wilayah Iran bagian barat dan tengah. Meski Donald Trump meminta Benjamin Netanyahu untuk menahan diri, eskalasi militer ini dikhawatirkan akan mempercepat penerapan aturan baru di Selat Hormuz.