Gunung Etna di Italia terus memicu rasa penasaran di kalangan ilmuwan karena aktivitas vulkaniknya yang seolah tanpa henti. Meskipun telah berusia lebih dari 500.000 tahun, gunung setinggi 3.400 meter ini tetap menyandang status sebagai gunung berapi paling aktif di seluruh daratan Eropa.
Hingga penghujung tahun 2025, Etna tercatat masih mengalami erupsi secara berkala. Fenomena geologis ini dianggap misterius mengingat usia gunung yang sudah sangat tua namun tetap memiliki pasokan energi yang luar biasa stabil.
Misteri di Balik Keaktifan Gunung Etna
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research pada April 2026 mencoba mengungkap alasan di balik perilaku unik gunung ini. Tim peneliti menemukan bahwa struktur dan cara kerja Etna jauh berbeda dibandingkan dengan mayoritas gunung api lainnya di dunia.
Hasil studi menunjukkan bahwa Gunung Etna didukung oleh mekanisme pasokan magma yang sangat langka. Proses ini biasanya hanya ditemukan pada gunung berapi bawah laut yang ukurannya jauh lebih kecil.
Mekanisme unik tersebut memungkinkan magma yang terperangkap di zona kecepatan rendah (low-velocity zone) Bumi untuk naik dan menyembur ke permukaan. Menariknya, meskipun berada di atas zona subduksi, kandungan kimia pada lava Etna justru lebih mirip dengan gunung berapi di titik panas (hotspot) seperti Hawaii.
Temuan Unik Berdasarkan Sampel Lava
Para ilmuwan telah melakukan analisis mendalam terhadap berbagai sampel lava yang dikumpulkan dari aktivitas Etna selama setengah juta tahun terakhir. Hasil analisis tersebut mengungkap fakta-fakta menarik mengenai konsistensi material yang dikeluarkan oleh gunung raksasa ini.
Beberapa poin utama dari hasil analisis laboratorium para peneliti antara lain:- Komposisi Kimia yang Stabil: Kandungan kimia pada lava Etna terbukti sangat konsisten selama 500.000 tahun terakhir.
- Bukan Magma Baru: Temuan ini membantah teori bahwa erupsi Etna dipicu oleh pembentukan magma baru akibat aktivitas tektonik baru-baru ini.
- Pasokan Magma Purba: Gunung ini menerima pasokan lambat dari magma yang sudah ada sejak lama di bawah kerak bumi.
- Lokasi Penyimpanan: Magma tersebut terperangkap di antara mantel atas dan dasar lempeng tektonik pada kedalaman sekitar 80 kilometer.
Data di atas memberikan gambaran bahwa Etna memiliki cadangan energi yang tersimpan rapi jauh di bawah permukaan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa intensitas letusannya tidak kunjung padam meski usianya sudah ratusan ribu tahun.
Kaitan dengan Fenomena Petit-Spot
Berdasarkan karakteristiknya, para ahli menduga Etna masuk dalam kategori gunung berapi "petit-spot". Kategori ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 2006 dan biasanya merujuk pada gunung api yang menarik magma dari kantong-kantong kecil di mantel atas.
Namun, masuknya Etna ke dalam kategori ini merupakan sebuah keanehan besar dalam dunia geologi. Perbandingan ukuran antara gunung petit-spot pada umumnya dengan Etna dapat dilihat pada tabel berikut:
Perbandingan Karakteristik Gunung Berapi Petit-Spot Umum dengan Gunung Etna:| Kategori Perbandingan | Petit-Spot Umum | Gunung Etna |
|---|---|---|
| Lokasi Umum | Bawah Laut | Daratan (Italia) |
| Ketinggian Rata-rata | Beberapa ratus meter | 3.400 meter |
| Skala Ukuran | Sangat Kecil | Raksasa/Masif |
| Mekanisme Magma | Kantong Mantel Atas | Kantong Mantel Atas |
Tabel ini menunjukkan betapa tidak lazimnya ukuran Etna jika dibandingkan dengan gunung berapi lain yang memiliki mekanisme serupa. Biasanya, proses geologis seperti ini tidak akan mampu membentuk gunung setinggi ribuan meter.
Implikasi bagi Keselamatan Warga
Sébastien Pilet, ahli geosains dari University of Lausanne, menyatakan bahwa temuan ini sangat tidak terduga bagi komunitas ilmiah. Menurutnya, proses vulkanik seperti yang terjadi di Etna sebelumnya hanya terlihat pada struktur yang sangat kecil dan sederhana.
Informasi baru ini bukan sekadar pengetahuan akademis, melainkan krusial untuk manajemen risiko bencana. Mengingat lokasi Gunung Etna yang sangat dekat dengan kota padat penduduk seperti Catania dan Messina, pemahaman mendalam tentang pola letusannya menjadi sangat vital.
Dengan mengetahui cara kerja internal gunung ini, para ahli vulkanologi dapat memberikan penilaian bahaya yang lebih akurat. Hal ini diharapkan dapat membantu upaya mitigasi dan perlindungan bagi ratusan ribu warga yang tinggal di bawah bayang-bayang gunung raksasa tersebut.