Perjuangan berat harus dilalui oleh sejumlah siswa sekolah dasar di Kabupaten Aceh Barat demi bisa mengikuti ujian kenaikan kelas. Mereka terpaksa bertaruh nyawa dengan menyeberangi aliran sungai yang cukup lebar karena akses utama menuju sekolah mengalami kerusakan parah.
Kondisi memprihatinkan ini dialami oleh para siswa SDN Alue Lhok yang tinggal di Desa Canggai, Kecamatan Pante Ceureumen. Untuk mencapai lokasi sekolah yang berada di Desa Jambak, mereka harus mengarungi derasnya arus Sungai Meureubo setiap hari.
Jembatan Rusak Akibat Banjir Bandang
Aksi nekat menyeberangi sungai ini terpaksa dilakukan karena jembatan gantung yang menjadi penghubung utama antar kedua desa tersebut telah hancur. Fasilitas vital itu rusak setelah diterjang bencana banjir bandang pada November 2025 silam.
Sayangnya, hingga pelaksanaan ujian sekolah pada Juni 2026 ini, jembatan tersebut belum juga mendapatkan perbaikan dari pihak terkait. Hal inilah yang memicu warga dan para siswa untuk mengambil risiko dengan melewati jalur sungai yang berbahaya.
Fakta utama mengenai kondisi siswa di Aceh Barat :
- Para siswa harus menyeberangi Sungai Meureubo untuk sampai ke lokasi sekolah tepat waktu.
- Alasan utama memilih jalur sungai adalah untuk menghindari rute memutar yang sangat jauh.
- Jika melalui jalur darat yang ada saat ini, jarak tempuh siswa membengkak hingga delapan kilometer.
- Kegiatan mengarungi sungai ini sudah berlangsung selama empat hari berturut-turut selama masa ujian berlangsung.
Para orang tua juga turut merasa khawatir sehingga harus turun tangan langsung mendampingi anak-anak mereka saat menyeberang. Mereka menuntun tangan putra-putri mereka agar tidak terseret arus sungai yang bisa berubah sewaktu-waktu.
Detail Situasi di Lapangan
Berikut adalah ringkasan situasi terkait akses pendidikan yang terhambat di Kecamatan Pante Ceureumen tersebut.
| Aspek Informasi | Keterangan Detail |
|---|---|
| Lokasi Sekolah | SDN Alue Lhok, Aceh Barat |
| Penyebab Akses Terputus | Banjir bandang pada November 2025 |
| Jarak Alternatif Darat | Mencapai 8 kilometer |
| Metode Penyeberangan | Berjalan kaki menembus aliran sungai |
Data di atas menunjukkan betapa besarnya tantangan fisik yang harus dihadapi para siswa hanya untuk mendapatkan hak pendidikan mereka. Tanpa adanya jembatan, efisiensi waktu dan keamanan para murid menjadi pertaruhan setiap harinya.
Fenomena ini kembali menyoroti pentingnya percepatan pembangunan infrastruktur di daerah pelosok yang terdampak bencana. Masyarakat berharap pemerintah segera membangun kembali jembatan penghubung agar keselamatan anak sekolah lebih terjamin di masa depan.