Kondisi memprihatinkan masih membayangi dunia pendidikan di Aceh pascabencana alam yang terjadi beberapa waktu lalu. Meskipun banjir dan tanah longsor telah berlalu lebih dari enam bulan, ribuan siswa hingga kini terpaksa menimba ilmu di fasilitas seadanya.
Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), puluhan sekolah masih belum memiliki bangunan yang layak. Para siswa harus menjalani rutinitas belajar mengajar di bawah tenda darurat atau menumpang di gedung sekolah lain.
Data Sekolah Terdampak di Wilayah Aceh
Kemendikdasmen mencatat progres pemulihan fasilitas pendidikan di Aceh yang menunjukkan masih adanya ketimpangan di beberapa titik. Hingga Februari 2026, tercatat ribuan sekolah sudah kembali beroperasi normal, namun sisanya masih memerlukan perhatian serius.
Berikut adalah rincian kondisi sekolah di Aceh pascabencana menurut data Kemendikdasmen:
- 3.001 sekolah telah berhasil kembali beraktivitas di bangunan sekolah asal mereka secara normal.
- 52 sekolah masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar di dalam tenda atau ruang kelas darurat.
- 20 sekolah terpaksa menumpang di fasilitas sekolah lain untuk sementara waktu demi menjaga keberlangsungan pendidikan.
Kondisi ini menegaskan bahwa pemulihan infrastruktur pendidikan di serambi Mekkah tersebut belum sepenuhnya tuntas. Pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi terbaik agar para siswa tidak terlalu lama berada dalam situasi sulit.
Kondisi Ruang Kelas yang Membahayakan
Di Aceh Tengah, tercatat sedikitnya 12 sekolah yang tersebar di wilayah Kecamatan Ketol, Bintang, dan Linge masih bergantung pada tenda darurat. Plt Kadis Pendidikan Aceh Tengah, Salimsyah, mengungkapkan bahwa banyak bangunan sekolah yang sama sekali tidak bisa digunakan.
Selain kerusakan fisik pada gedung, faktor keamanan lingkungan juga menjadi kendala utama bagi para siswa. Pascabencana, aliran sungai di sekitar sekolah melebar sehingga sangat berbahaya jika anak-anak harus melintasinya setiap hari.
Langkah antisipasi yang diambil pemerintah daerah Aceh Tengah meliputi:
- Pemanfaatan kembali lokasi sekolah asal jika dirasakan masih memungkinkan untuk diletakkan tenda.
- Pembangunan tempat belajar sementara di titik-titik yang dianggap lebih aman dari risiko bencana susulan.
- Upaya menghadirkan ruang belajar darurat di rumah warga atau lokasi terdekat sebagai alternatif jangka pendek.
Salimsyah menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah memastikan pendidikan tetap berjalan sembari menunggu pembangunan sekolah permanen. Pihaknya berkomitmen untuk menghadirkan kenyamanan bagi siswa secepat mungkin melalui berbagai skema bantuan.
Siswa Ujian di Tengah Keterbatasan
Pemandangan memilukan juga terlihat di Aceh Barat, tepatnya di SDN Alue Lhok, Desa Jambak, Kecamatan Pante Ceureumen. Para siswa di sekolah ini terpaksa mengikuti ujian di bawah tenda darurat akibat rusaknya fasilitas sekolah sejak akhir November 2025.
Bahkan, beberapa siswa terlihat harus mengangkat meja sendiri untuk mempersiapkan tempat duduk mereka saat ujian berlangsung. Lokasi tenda ini pun sangat berisiko karena hanya berjarak beberapa meter dari bibir sungai yang rawan meluap.
Keterbatasan ruang kelas menjadi alasan utama pihak sekolah menggunakan tenda demi memenuhi hak belajar para murid. Kerusakan akibat bencana hidrometeorologi tersebut hingga kini masih meninggalkan lubang besar dalam sistem pendidikan di wilayah terdampak.