Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim, membuat pengakuan mengejutkan dalam persidangan kasus korupsi. Ia menyatakan bahwa selama lima tahun masa jabatannya sebagai pejabat negara, dirinya justru terus mengalami kerugian secara finansial.
Keterangan ini disampaikan Nadiem saat memberikan kesaksian sebagai terdakwa dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook. Persidangan tersebut berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada Senin, 11 Mei 2026.
Kesaksian Nadiem Makarim Mengenai Gaji dan Dana Pribadi
Fokus pertanyaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam persidangan tersebut tertuju pada aliran dana yang diberikan Nadiem kepada bawahannya. Jaksa mendalami perihal tambahan gaji yang mengalir dari kantong pribadi Nadiem kepada sejumlah staf khusus menteri (SKM).
Beberapa nama yang disebutkan dalam persidangan antara lain adalah Jurist Tan dan Fiona. Jaksa mencurigai adanya kaitan antara pemberian uang tersebut dengan kebijakan pengadaan perangkat Chromebook yang kini bermasalah secara hukum.
Berikut adalah poin-poin pertanyaan yang diajukan oleh jaksa penuntut dalam persidangan :
- Pertama mengenai pengakuan Nadiem yang menggunakan uang pribadi untuk membayar tambahan gaji stafnya.
- Kedua tentang dugaan hubungan antara pemberian uang tersebut dengan peran para staf dalam skema pengadaan Chromebook.
- Ketiga mengenai motif konsistensi pemberian dana tersebut selama lima tahun masa jabatan berlangsung.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut diajukan untuk menggali apakah ada kepentingan tertentu di balik loyalitas finansial Nadiem kepada para staf khususnya. Jaksa ingin memastikan apakah tindakan tersebut murni kedermawanan atau memiliki tujuan terselubung dalam proyek kementerian.
Nadiem menegaskan bahwa pemberian tambahan gaji menggunakan dana pribadi itu dilakukan secara terbuka. Ia berdalih bahwa langkah tersebut telah ia lakukan secara konsisten setiap bulan selama para staf khusus itu menjabat.
Menurutnya, tidak ada perubahan jumlah dalam pemberian dana tambahan tersebut sejak awal hingga akhir masa jabatan mereka. Ia membantah jika pemberian uang tersebut dianggap berkaitan dengan upaya perpanjangan skema proyek tertentu di kementeriannya.
Pengakuan Mengenai Kondisi Keuangan Selama Menjabat
Di hadapan majelis hakim, pendiri Gojek ini mengaku sama sekali tidak mengetahui berapa besaran gaji resmi yang ia terima sebagai menteri. Hal ini terungkap saat jaksa mencoba mengonfirmasi nominal penghasilannya sebagai pejabat tinggi negara.
Nadiem berdalih bahwa dirinya tidak pernah memantau slip gaji atau saldo rekening yang menampung gaji dari negara. Kejujuran mengenai ketidaktahuannya ini sempat menarik perhatian peserta sidang di Pengadilan Tipikor.
Nadiem menjelaskan alasan mengapa dirinya merasa rugi selama menjadi menteri melalui beberapa poin berikut :
- Nadiem menyebut hartanya terus berkurang karena tidak ada pemasukan baru yang signifikan dari posisi menteri.
- Biaya hidup dan pengeluaran tambahan untuk staf diambil langsung dari tabungan pribadinya.
- Ia menyatakan bahwa pengabdian sebagai menteri adalah bentuk pengurangan nilai kekayaan secara bertahap setiap bulan.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa bagi Nadiem, pendapatan sebagai Mendikbudristek jauh di bawah pengeluaran yang ia keluarkan sendiri. Ia merasa secara finansial posisinya sebagai pejabat publik tidak memberikan keuntungan materi sama sekali.
Selain membahas soal gaji, Nadiem juga memaparkan sumber utama kekayaan yang dimilikinya hingga saat ini. Ia menegaskan bahwa aset miliknya tidak berasal dari proyek pemerintah atau pendapatan sampingan lainnya selama menjabat.
Nadiem mengklaim bahwa seluruh kekayaannya bersumber dari kepemilikan saham di PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB). Perusahaan tersebut merupakan cikal bakal dari entitas besar yang kini dikenal sebagai PT GoTo Gojek Tokopedia.
Ringkasan informasi mengenai profil aset dan pernyataan Nadiem dalam persidangan :
| Kategori Informasi | Penjelasan Detil |
|---|---|
| Sumber Utama Kekayaan | Kepemilikan saham di PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB). |
| Status dalam Persidangan | Terdakwa dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook. |
| Klaim Finansial | Mengalami kerugian bulanan selama menjabat sebagai menteri. |
| Alokasi Dana Pribadi | Digunakan untuk memberikan tambahan gaji kepada staf khusus menteri. |
Tabel di atas merangkum fakta-fakta penting yang disampaikan Nadiem untuk meyakinkan hakim bahwa ia tidak mencari keuntungan dari jabatan. Ia menekankan bahwa posisi finansialnya sudah mapan sebelum masuk ke lingkungan birokrasi pemerintahan.
Persidangan ini juga dihadiri oleh tokoh publik seperti Rocky Gerung yang memantau jalannya pemeriksaan terhadap Nadiem. Rocky sempat melontarkan kritik mengenai cara jaksa dalam membangun penalaran hukum selama proses tanya jawab berlangsung.
Di sisi lain, Nadiem tetap pada pendiriannya bahwa kebijakan yang ia tanda tangani tidak berkaitan dengan kepentingan investasi perusahaan teknologi global. Ia menegaskan bahwa pengesahan Permendikbud dilakukan sesuai prosedur tanpa pengaruh dari pihak Google maupun pihak luar lainnya.
Kasus korupsi Chromebook ini sendiri menjadi sorotan tajam karena melibatkan nama besar di bidang teknologi yang pernah memimpin kementerian. Proses hukum masih terus berjalan untuk membuktikan apakah pengakuan Nadiem sejalan dengan fakta hukum yang ditemukan penyidik.
Hingga saat ini, publik masih menantikan bagaimana kelanjutan pembuktian di pengadilan terkait kerugian negara yang ditimbulkan. Pengakuan Nadiem mengenai kerugian pribadi menjadi salah satu poin pembelaan yang cukup menonjol dalam perkara ini.