Kabar Duka, 20 Jemaah Haji Indonesia Wafat, Satu Orang di Tanah Air

Kabar Duka, 20 Jemaah Haji Indonesia Wafat, Satu Orang di Tanah Air
Foto: Ilustrasi Kabar Duka, 20 Jemaah Haji Indonesia Wafat, Satu Orang di Tanah Air.
Ukuran teks

Sebanyak 20 jemaah haji asal Indonesia dilaporkan telah menghembuskan napas terakhir selama berada di Arab Saudi untuk menjalankan ibadah haji tahun 2026. Selain jumlah korban yang wafat di Tanah Suci tersebut, terdapat pula satu orang jemaah yang meninggal dunia bahkan sebelum sempat mendarat di Arab Saudi akibat kondisi kesehatan yang menurun drastis.

Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Ichsan Marsha, menyampaikan bahwa pada hari Jumat (8/5/2026), terdapat penambahan empat jemaah yang wafat di lokasi ibadah. Para jemaah tersebut diidentifikasi sebagai Ngadikin Harjowiyono berusia 56 tahun dari Kulon Progo, Sibiatun Saji yang berumur 72 tahun asal Lamongan, Munisah Ijil Muhammad berusia 87 tahun dari Lombok Tengah, serta Siti Totou Umar yang berusia 67 tahun asal Ternate.

Dalam pernyataan resminya di Makkah pada Sabtu (9/5/2026), Ichsan menegaskan bahwa penambahan ini menjadikan akumulasi jemaah yang wafat di Arab Saudi menyentuh angka 20 jiwa. Beliau memberikan rincian data ini untuk memberikan transparansi informasi mengenai kondisi terkini para tamu Allah di Tanah Suci kepada masyarakat di tanah air.

Di samping itu, Kemenhaj menginformasikan kasus wafatnya Sutrisno Agus Widodo, seorang jemaah pria dari kloter SOC 46 yang berasal dari Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Almarhum dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serius saat pesawat tengah mengudara dalam perjalanan dari Solo menuju Arab Saudi, sehingga memaksa pilot melakukan pendaratan teknis di Sumatra.

Pesawat tersebut melakukan technical landing di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara, agar jemaah bisa segera mendapatkan pertolongan medis di rumah sakit terdekat. Sutrisno kemudian segera dirujuk ke RS Amri Tambunan di Deli Serdang, namun nyawanya tidak tertolong meskipun tim medis telah berupaya melakukan penanganan darurat yang maksimal.

Setelah dinyatakan meninggal dunia, pihak maskapai penerbangan bertanggung jawab melakukan proses pemulasaraan jenazah sebelum memulangkannya kembali ke Embarkasi Solo. Kemenhaj menyatakan rasa duka cita yang sedalam-dalamnya dan mendoakan agar seluruh almarhum maupun almarhumah mendapatkan tempat paling mulia di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Penyebab Kematian dan Kondisi Kesehatan Jemaah

Berdasarkan evaluasi medis, Ichsan Marsha mengungkapkan bahwa penyebab utama dari wafatnya para jemaah haji Indonesia adalah serangan jantung serta penyakit radang paru-paru. Secara spesifik, laporan kesehatan mencatat adanya kasus penyumbatan pembuluh darah menuju jantung yang menjadi pemicu fatal bagi sejumlah jemaah selama menjalani rangkaian ibadah di tengah cuaca ekstrem.

Pihak otoritas terus mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga stamina, membatasi aktivitas fisik yang berlebihan agar tidak kelelahan, dan selalu mengenakan alat pelindung diri saat berada di luar ruangan. Langkah preventif ini dinilai sangat krusial mengingat tekanan fisik yang besar selama menjalankan rukun haji dapat memperburuk kondisi kesehatan jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu.

Kategori Data Kesehatan Jumlah / Detail
Total Jemaah Wafat di Arab Saudi 20 Orang
Jemaah Wafat di Dalam Negeri (Penerbangan) 1 Orang
Jemaah Dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji (KKHI) 170 Orang
Jemaah Dirawat di RS Arab Saudi (Kumulatif) 352 Orang
Jemaah Masih Menjalani Perawatan Aktif 77 Orang
Suhu Maksimal di Makkah (9 Mei 2026) 41 Derajat Celcius

Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memberikan jaminan bahwa jemaah yang meninggal dunia sebelum menyelesaikan rukun hajinya akan tetap mendapatkan layanan badal haji secara penuh. Hingga Jumat (8/6/2026), data menunjukkan terdapat 170 jemaah yang harus dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) dan ratusan lainnya sempat mendapatkan perawatan di rumah sakit setempat.

Tercatat sebanyak 352 jemaah pernah mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit Arab Saudi, dengan 77 orang di antaranya masih harus menjalani rawat inap hingga saat ini. Ichsan meyakinkan bahwa seluruh jemaah, baik yang berada di kloter maupun sektor rujukan, akan terus mendapatkan layanan kesehatan optimal dari tim medis yang bertugas.

Antisipasi Terhadap Cuaca Panas Ekstrem

Tingginya angka kematian dan jemaah yang sakit juga dipengaruhi oleh prakiraan cuaca di Makkah yang mencapai suhu maksimal 41 derajat celcius pada Sabtu (8/5/2026). Jemaah haji Indonesia diharapkan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perbedaan suhu yang sangat mencolok antara kondisi iklim di tanah air dengan di wilayah Arab Saudi.

Data dari Early Warning System (EWS) Kemenhaj yang merujuk pada AccuWeather menunjukkan bahwa suhu di Makkah mulai menghangat sejak pagi hari di kisaran 28°C. Suhu terus merangkak naik hingga puncaknya mencapai 41°C pada siang hari, kemudian sedikit menurun menjadi 37°C di sore hari dan bertahan di angka 34°C saat memasuki waktu malam.

Kementerian Haji dan Umrah mengeluarkan sejumlah instruksi penting bagi jemaah, terutama bagi kelompok lanjut usia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid. Jemaah dalam kategori rentan tersebut sangat disarankan untuk melaksanakan ibadah salat di hotel saja guna menghindari paparan sinar matahari langsung yang dapat memicu dehidrasi berat.

Selain itu, penggunaan pelembap kulit secara rutin sangat dianjurkan untuk mencegah iritasi akibat udara kering serta suhu panas yang menyengat selama di luar ruangan. Langkah-langkah perlindungan diri ini dianggap sebagai prosedur standar yang wajib diikuti demi meminimalisir risiko gangguan kesehatan serius bagi seluruh rombongan jemaah haji.

Beberapa poin imbauan spesifik yang diterbitkan oleh Kemenhaj bagi jemaah haji Indonesia meliputi:

  • Jemaah lansia dan penderita penyakit komorbid diminta untuk mengutamakan ibadah di dalam hotel.
  • Wajib menggunakan pelembap kulit dan wajah secara berkala untuk menjaga hidrasi eksternal.
  • Selalu mengenakan masker serta alas kaki saat berada di luar ruangan untuk menghindari suhu panas.
  • Menyiapkan payung dan alat pelindung diri lainnya jika terpaksa harus keluar dari penginapan.
  • Menyemprotkan air bersih ke bagian kulit dan masker guna memberikan efek sejuk serta menjaga kelembapan wajah.
  • Mengonsumsi air putih atau air zamzam sebanyak 200 mililiter setiap jam tanpa menunggu rasa haus muncul.
  • Menambahkan larutan oralit ke dalam air minum jika diperlukan untuk menjaga keseimbangan elektrolit tubuh.

Kemenhaj berharap dengan kedisiplinan jemaah dalam mengikuti protokol kesehatan tersebut, angka kesakitan dan kematian dapat ditekan serendah mungkin di masa mendatang. Pengawasan terhadap kesehatan jemaah akan terus diperketat terutama menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji yang membutuhkan kekuatan fisik ekstra di lapangan.

Artikel terkait

Rekomendasi