Klaim Sarden Bukan UPF Viral, Ahli Ingatkan Risiko Bahaya BPA Terbaru 2026

Klaim Sarden Bukan UPF Viral, Ahli Ingatkan Risiko Bahaya BPA Terbaru 2026
Foto: Klaim Sarden Bukan UPF Viral, Ahli Ingatkan Risiko Bahaya BPA Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Diskusi mengenai sarden kalengan baru-baru ini mencuat di tengah masyarakat setelah adanya klaim bahwa produk ini bukan termasuk ultra processed food (UPF). Label non-UPF tersebut membuat banyak orang beranggapan bahwa sarden kalengan jauh lebih sehat daripada yang dibayangkan sebelumnya.

Namun, para pakar kesehatan mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada pemahaman yang keliru. Menentukan tingkat kesehatan sebuah produk pangan tidak sesederhana hanya melihat klasifikasi tingkat pemrosesannya saja.

Risiko Kesehatan di Balik Sarden Kalengan

Selain memiliki kandungan natrium atau garam yang tergolong tinggi, sarden kalengan juga menyimpan risiko kesehatan lain. Salah satu yang menjadi perhatian serius para ahli adalah potensi paparan zat kimia bernama Bisphenol A (BPA).

Zat BPA sering kali digunakan sebagai lapisan resin epoksi di bagian dalam kaleng makanan guna mencegah korosi. Sayangnya, partikel ini memiliki peluang untuk berpindah atau bermigrasi ke dalam makanan yang kita konsumsi.

Migrasi zat kimia ini biasanya dipicu oleh kondisi tertentu, seperti suhu panas yang ekstrem atau kerusakan pada fisik kaleng. Jika masuk ke dalam tubuh dalam jumlah yang melebihi batas aman, BPA dapat memicu berbagai masalah kesehatan yang serius.

Beberapa dampak negatif dari paparan BPA secara terus-menerus bagi tubuh manusia meliputi:

  • Gangguan pada sistem metabolisme tubuh yang dapat memicu obesitas atau diabetes.
  • Ketidakseimbangan hormon yang berdampak pada fungsi reproduksi dan pertumbuhan.
  • Meningkatnya risiko munculnya sel kanker akibat akumulasi zat kimia dalam jangka panjang.

Penjelasan tersebut diperkuat oleh dr. Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, yang menyatakan bahwa konsumsi makanan tercemar BPA secara kontinu sangat berbahaya. Gangguan kesehatan metabolik dan hormonal menjadi risiko utama yang sulit dihindari jika paparan ini tidak dikendalikan.

Memahami Batas Aman dan Regulasi

Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Keteknikan Pertanian tahun 2023, kadar migrasi BPA pada produk kalengan sebenarnya masih tergolong kecil. Angka tersebut umumnya masih berada di bawah batas Tolerable Daily Intake (TDI) yang ditetapkan, yakni 4 μg/kg berat badan per hari.

Meskipun secara regulasi masih dianggap aman untuk dikonsumsi sesekali, kekhawatiran muncul mengenai efek akumulasi jangka panjang. Tubuh manusia mungkin tidak merasakan dampak seketika, namun penumpukan zat tersebut selama bertahun-tahun tetap menjadi ancaman.

Berikut adalah ringkasan perbandingan antara klaim sarden kalengan dan fakta kesehatan yang perlu diperhatikan:

Aspek Penilaian Status / Risiko Penjelasan Singkat
Kategori Olahan Processed Food Hanya melalui proses pembersihan dan sterilisasi standar tanpa tambahan kompleks.
Kandungan Natrium Tinggi Penggunaan garam sebagai pengawet alami meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Paparan Kimia Risiko BPA Potensi migrasi zat kimia dari lapisan dalam kaleng ke daging ikan.
Status UPF Non-UPF Dapat berubah menjadi UPF jika pabrikan menambahkan banyak zat aditif buatan.

Tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun sarden kalengan secara teknis bukan UPF, produk ini tetap memerlukan batasan konsumsi. Faktor keamanan pangan tidak hanya bergantung pada proses manufaktur, tetapi juga pada bahan tambahan dan kemasannya.

Klasifikasi Sarden dalam Industri Pangan

Dr. Iflan Nauval membenarkan bahwa secara umum sarden kalengan lebih tepat dikategorikan sebagai processed food, bukan UPF. Proses produksinya biasanya hanya melibatkan pembersihan ikan, pemasakan, dan sterilisasi suhu tinggi agar tahan lama.

Status non-UPF ini bisa berubah seketika apabila produsen menambahkan berbagai zat aditif yang tidak sesuai dengan angka kecukupan gizi. Oleh karena itu, konsumen tetap harus jeli membaca label kemasan sebelum membeli produk ikan kaleng.

Kesimpulannya, label "bukan UPF" tidak secara otomatis menjadikan sebuah produk sebagai makanan sehat yang boleh dikonsumsi berlebihan. Keseimbangan nutrisi dan pemahaman akan risiko kemasan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga pola makan sehat di era modern.

Artikel terkait

Rekomendasi