Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada perdagangan hari ini, anjlok 245,01 poin atau 4,2% ke posisi 5.594,77. Pada sesi awal, IHSG sebenarnya sempat menunjukkan tren positif, namun akhirnya turun lebih dalam hingga meninggalkan level psikologis 5.600.
Sebanyak 656 saham mengalami penurunan hari ini, sementara hanya 115 saham yang berhasil menguat dan 188 emiten lainnya tetap stagnan. Total nilai transaksi hari ini mencapai Rp 31,08 triliun, dengan hampir setengahnya berlangsung di pasar negosiasi. Sebanyak 34,39 miliar saham berpindah tangan melalui 2,14 juta transaksi, mengakibatkan kapitalisasi pasar turut ambruk menjadi Rp 9.807 triliun.
Koreksi mendalam pada IHSG ini sejalan dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang menyentuh titik terendah baru, yaitu Rp 18.000. Namun, pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), nilai tukar rupiah sedikit menguat 0,06% ke posisi Rp 18.010/US$, meski sepanjang hari berfluktuasi di area Rp 18.000/US$.
Sebagaimana dilansir oleh data Refinitiv, rupiah sempat dibuka melemah 0,17% ke level Rp 18.050/US$, sebelum akhirnya bergerak dalam rentang yang cukup volatil antara Rp 18.000-Rp 18.050/US$ sepanjang hari tersebut. Kondisi ini menjadi sedikit ruang bernapas bagi rupiah setelah penutupan melemah pada hari Kamis (4/6/2026), ketika menduduki titik terendah sepanjang sejarah di Rp 18.020/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, masih menunjukkan stabilitas dan berada di level 99,258 pada pukul 15.00 WIB.
Simak juga: Purbaya Bagikan Bukti Arus Modal Asing ke RI Kuat, SBN-SRBI Laris!
Meski mengalami penguatan tipis, pergerakan rupiah masih cukup tertekan dalam perdagangan hari ini. Kendati demikian, hal ini memberikan sedikit harapan bagi mata uang garuda di tengah tekanan yang terus berlanjut. Kendati ada sedikit perbaikan, volatilitas tetap menjadi tantangan bagi perekonomian Indonesia ke depan.