Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026). Sepanjang hari, rupiah berfluktuasi di sekitar level Rp18.000 per dolar AS. Mengacu pada data dari Refinitiv, rupiah ditutup naik 0,06% ke posisi Rp18.010 per dolar AS.
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (4/6/2026), rupiah melemah 0,45% dan mencapai titik terlemahnya di Rp18.020 per dolar AS. Meski ada penguatan, situasi pergerakan rupiah tetap berada dalam tekanan. Awal perdagangan pada hari itu, rupiah dibuka melemah 0,17% di level Rp18.050 per dolar AS, lalu bergerak cukup fluktuatif di rentang Rp18.000-Rp18.050 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mencerminkan kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, stabil di level 99,258 pada pukul 15.00 WIB. Pemerintah juga baru saja mengumumkan realisasi defisit APBN hingga akhir Mei 2026. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melaporkan defisit mencapai Rp180,4 triliun atau 0,70% dari PDB, naik dibandingkan angka akhir April sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB. Namun, Purbaya menegaskan defisit masih dalam batas aman sesuai rancangan APBN 2026.
Purbaya menambahkan, "Kalau kita hitung dengan metodologi di luar itu, kita bisa mencapai kira-kira 1,8% dari PDB." Posisi tersebut dianggap sangat aman bagi APBN. Selain itu, keseimbangan primer mencatat surplus Rp58,6 triliun, yang menunjukkan berlanjutnya ruang untuk menjaga kesinambungan fiskal.
Di lain pihak, Bank Indonesia (BI) menyatakan siap dengan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Berikut adalah tujuh strategi yang disiapkan BI:
- Memperkuat intervensi di pasar valas: BI akan melakukan intervensi baik di pasar dalam negeri maupun luar negeri lewat transaksi spot serta Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), juga Non-Deliverable Forward (NDF) di pusat keuangan global.
- Mengoptimalkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI): Langkah ini untuk memastikan aset berbasis rupiah tetap menarik bagi investor, sehingga memperkuat stabilitas rupiah.
- Pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder: Ini adalah bagian dari sinergi fiskal dan moneter untuk menjaga kecukupan likuiditas.
- Menjaga likuiditas di perbankan: Pertumbuhan uang primer atau M0 diharapkan di atas 10% sejalan dengan moneter yang diperluas.
- Memperkuat kebijakan transaksi valas: Dengan menurunkan batas pembelian tunai tanpa underlying menjadi US$25.000 per bulan dan memperluas transaksi LCT yuan dan rupiah.
- Intervensi di pasar offshore NDF: BI akan memperluas keikutsertaan perbankan dalam transaksi NDF luar negeri untuk dealer utama PUVA yang memenuhi persyaratan.
- Peningkatan pengawasan: Pemantauan ketat terhadap bank dan korporasi dalam aktivitas pembelian dolar AS akan dilakukan, bekerja sama erat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).