Lapangan Kerja AS Mei Naik 172.000: The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga Resmi

Lapangan Kerja AS Mei Naik 172.000: The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga Resmi
Foto: Lapangan Kerja AS Mei Naik 172.000: The Fed Berpeluang Tahan Suku Bunga Resmi. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Perekonomian Amerika Serikat (AS) menunjukkan peningkatan signifikan dalam pertumbuhan lapangan kerja pada Mei 2026. Hal ini menandakan kebangkitan kembali pasar tenaga kerja di AS setelah mengalami pelemahan pada tahun sebelumnya. Situasi ini membuka peluang bagi bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan suku bunga. Namun, The Fed tetap perlu mengawasi tekanan inflasi yang muncul akibat konflik dengan Iran.

Bureau of Labor Statistics (BLS) melaporkan adanya penambahan 172.000 pekerjaan baru di luar sektor pertanian pada Mei 2026. Angka ini melampaui perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Reuters, yang sebelumnya memprediksi kenaikan sebesar 85.000 pekerjaan. Selain itu, data April 2026 juga direvisi dengan menunjukkan peningkatan menjadi 179.000 pekerjaan, lebih tinggi dari laporan sebelumnya yang menyebutkan 115.000 pekerjaan.

Sebelumnya, para ekonom memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja Mei akan berada di antara 50.000 hingga 125.000 pekerjaan. Kenaikan pada Mei memperkuat tren positif pasar tenaga kerja AS selama dua bulan terakhir. Para ekonom menilai, AS hanya perlu menciptakan 0 hingga 50.000 pekerjaan per bulan untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan penduduk usia kerja, yang diistilahkan sebagai tingkat impas atau break even rate.

Kebijakan pengetatan imigrasi turut mengurangi jumlah angkatan kerja yang tersedia. Namun, kebijakan ini membantu menekan tingkat pengangguran yang tetap berada di angka 4,3 persen selama tiga bulan berturut-turut.

Rendahnya Tingkat PHK Mendukung Pasar Kerja:

Peningkatan jumlah pekerjaan ini sebagian disebabkan oleh rendahnya tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK). Dunia usaha masih berhati-hati dalam menambah tenaga kerja akibat ketidakpastian yang ada. Sebelumnya, ketidakpastian datang dari kebijakan tarif besar-besaran oleh Presiden Donald Trump.

Saat ini, ketidakpastian juga diakibatkan oleh dampak konflik AS dan Israel dengan Iran. Meski begitu, hingga saat ini belum ada indikasi bahwa konflik di Timur Tengah tersebut memberikan dampak besar terhadap pasar tenaga kerja AS. Dampak dari konflik tersebut lebih terasa dengan kenaikan harga minyak dan produk yang dikirim melalui Selat Hormuz.

Artikel terkait

Rekomendasi