Momen Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan distribusi daging kurban yang melimpah kepada masyarakat luas. Namun, demi alasan praktis, banyak orang masih sering mencampur daging dan jeroan dalam satu kantong atau wadah yang sama.
Kebiasaan mencampur kedua jenis bahan pangan ini ternyata sangat berisiko memicu kontaminasi bakteri pada daging segar. Karakteristik jeroan jauh berbeda dengan daging biasa, sehingga membutuhkan penanganan yang jauh lebih hati-hati.
Risiko Kontaminasi Bakteri dari Jeroan
Organ dalam seperti usus dan babat memiliki hubungan langsung dengan saluran pencernaan hewan kurban. Hal ini membuat jeroan cenderung membawa lebih banyak mikroorganisme dibandingkan dengan bagian daging otot.
Dokter hewan Ira Firgorita dari Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan menekankan pentingnya memisahkan kedua bahan ini. Pemisahan idealnya dilakukan sejak proses distribusi dari tempat pemotongan hingga sampai ke tangan penerima.
Dalam sebuah edukasi resmi, ia menjelaskan bahwa daging, jeroan merah, dan jeroan hijau seharusnya diletakkan pada wadah yang berbeda. Jeroan merah meliputi hati atau paru, sementara jeroan hijau mencakup bagian lambung dan usus.
Berikut adalah klasifikasi pemisahan yang disarankan agar kualitas pangan tetap terjaga:
- Daging Segar: Bagian otot sapi atau kambing yang harus tetap bersih dari cairan organ lain.
- Jeroan Merah: Bagian organ seperti hati, paru, jantung, dan ginjal.
- Jeroan Hijau: Bagian saluran pencernaan seperti usus, babat, dan lambung yang rentan kotoran.
Pembagian kategori ini sangat krusial karena setiap jenis organ memiliki tingkat risiko cemaran bakteri yang berbeda-beda bagi kesehatan manusia.
Bahaya Jeroan Hijau dan Kontaminasi Silang
Jeroan hijau dianggap memiliki risiko paling tinggi karena sering bersentuhan langsung dengan sisa makanan dan kotoran hewan. Kontaminasi bakteri di area ini jauh lebih masif dibandingkan bagian tubuh hewan lainnya.
Untuk meminimalisir risiko, drh. Ira menyarankan agar jeroan hijau direbus terlebih dahulu sebelum dibagikan ke masyarakat. Proses pemanasan ini berfungsi efektif untuk membunuh bakteri merugikan yang menempel pada permukaan organ.
Jika jeroan dicampur dengan daging, maka akan terjadi fenomena yang disebut dengan kontaminasi silang. Bakteri patogen dari jeroan akan berpindah ke daging yang semula bersih, sehingga mempercepat proses pembusukan.
Perbandingan risiko bakteri antara daging dan jeroan berdasarkan data penelitian:
| Kategori Bahan | Jenis Bakteri Dominan | Tingkat Risiko |
|---|---|---|
| Daging Otot | Minimal (jika higienis) | Rendah |
| Jeroan (Usus/Babat) | Enterobacteriaceae (E. coli, Salmonella) | Tinggi |
Data dari Journal of Advanced Veterinary Research tahun 2024 mengonfirmasi bahwa keluarga bakteri penyebab gangguan pencernaan lebih banyak ditemukan pada jeroan. Cairan yang keluar dari jeroan menjadi media utama penyebaran bakteri tersebut ke bahan lain.
Tips Menjaga Kebersihan Daging Kurban
Selain wadah, peralatan seperti talenan dan pisau juga bisa menjadi sarana perpindahan kuman jika digunakan bergantian tanpa dicuci. Risiko ini akan berlipat ganda jika daging dibiarkan terlalu lama berada dalam suhu ruangan yang hangat.
Masyarakat sangat disarankan untuk langsung memisahkan daging dan jeroan saat proses pencucian maupun saat akan disimpan di kulkas. Pastikan keduanya berada dalam wadah tertutup yang berbeda agar tidak terjadi kontak fisik maupun tetesan cairan.
Langkah pencegahan ini sangat penting dilakukan untuk menekan pertumbuhan bakteri jahat selama masa penyimpanan. Dengan penanganan yang benar, kualitas nutrisi daging kurban tetap terjaga dan aman untuk dikonsumsi keluarga.