Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp18.170 per Dolar AS, Angka Terbaru yang Mengejutkan Pasar

Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp18.170 per Dolar AS, Angka Terbaru yang Mengejutkan Pasar
Foto: Rupiah Hari Ini Melemah ke Rp18.170 per Dolar AS, Angka Terbaru yang Mengejutkan Pasar. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau terus mengalami tekanan hingga penutupan perdagangan pada Senin (8/6/2026). Mata uang Garuda ini berakhir di zona merah dengan pelemahan signifikan di tengah gempuran sentimen global yang negatif.

Berdasarkan data terbaru dari TradingView, kurs rupiah ditutup merosot sebesar 0,75 persen ke posisi Rp18.170 per dolar AS. Pelemahan ini mencerminkan kondisi pasar yang sedang bergejolak, baik karena pengaruh faktor eksternal maupun isu internal di dalam negeri.

Kondisi lesu yang dialami rupiah ternyata sejalan dengan tren pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia terhadap greenback. Sejumlah mata uang negara tetangga juga terpantau tidak berdaya menghadapi keperkasaan dolar AS pada hari yang sama.

Beberapa mata uang Asia yang turut mengalami depresiasi nilai antara lain adalah sebagai berikut:

  • Yuan China tercatat melemah sebesar 0,27 persen.
  • Dolar Taiwan mengalami penurunan tipis sebesar 0,01 persen.
  • Ringgit Malaysia terdepresiasi cukup dalam hingga 1,12 persen.
  • Baht Thailand terpantau melemah 0,24 persen.
  • Dolar Hong Kong turun sebesar 0,03 persen.
  • Yen Jepang terkoreksi sebesar 0,04 persen.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang regional memang sedang meluas. Meskipun demikian, terdapat pengecualian bagi beberapa mata uang yang masih mampu bertahan dan menguat, seperti won Korea Selatan yang naik 1,77 persen, rupee India 0,76 persen, dan peso Filipina 0,09 persen.

Menurut pengamatan Lukman Leong, Analis dari Doo Financial Futures, anjloknya nilai tukar rupiah kali ini dipicu oleh meningkatnya sikap risk-off atau kehati-hatian investor global. Kondisi ini membuat para pemodal cenderung mencari aset aman atau safe haven.

Situasi semakin memburuk akibat penguatan indeks dolar AS yang terus bertahan di level tinggi. Selain itu, meningkatnya eskalasi ketegangan konflik di wilayah Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran yang berdampak langsung pada aliran modal keluar dari pasar negara berkembang.

Lukman menjelaskan bahwa faktor domestik juga memegang peranan penting dalam pelemahan rupiah saat ini. Ia menyoroti adanya krisis kepercayaan dari para pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri yang mulai memburuk.

Selain masalah kepercayaan, penurunan jumlah cadangan devisa Indonesia turut menjadi kabar kurang sedap bagi pasar. Hal ini memberikan sentimen negatif tambahan yang semakin membebani pergerakan mata uang Garuda di hadapan dolar AS.

"Rupiah mengalami pelemahan yang cukup besar seiring dengan munculnya sentimen risk-off di pasar global dan dominasi penguatan dolar AS. Dari sisi internal, sentimen yang berkembang masih sangat dipengaruhi oleh krisis kepercayaan pasar serta turunnya cadangan devisa kita," ungkap Lukman.

Melihat kondisi tersebut, tekanan terhadap posisi rupiah diperkirakan masih akan berlanjut pada sesi perdagangan Selasa (9/6/2026). Pelaku pasar diprediksi akan tetap waspada terhadap perkembangan kondisi domestik maupun internasional yang belum stabil.

Berikut adalah beberapa poin utama yang diprediksi akan menjadi beban bagi pergerakan rupiah dalam jangka pendek:

  • Sentimen negatif dari faktor internal yang masih membayangi kepercayaan investor.
  • Pantauan pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda damai.
  • Aksi jual masif di pasar saham global yang dipicu oleh koreksi harga saham-saham di sektor teknologi.
  • Penurunan minat investor terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Penjelasan di atas menggambarkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi rupiah saat ini. Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di rentang Rp18.200 hingga Rp18.350 per dolar AS pada perdagangan esok hari.

Untuk memudahkan pemahaman mengenai posisi mata uang Indonesia dibandingkan dengan negara lain, berikut adalah tabel ringkasan pergerakan mata uang di Asia:

Mata Uang Asia Status Pergerakan Persentase Perubahan
Ringgit Malaysia Melemah -1,12%
Rupiah Indonesia Melemah -0,75%
Yuan China Melemah -0,27%
Yen Jepang Melemah -0,04%
Won Korea Selatan Menguat +1,77%
Rupee India Menguat +0,76%

Data tabel di atas menunjukkan bahwa rupiah dan ringgit menjadi mata uang yang mengalami tekanan paling berat. Sebaliknya, won Korea Selatan justru mencatatkan performa terbaik di tengah volatilitas pasar regional yang sedang tinggi.

Di pasar domestik, sejumlah perbankan besar seperti BCA, BRI, Mandiri, dan BNI juga melakukan penyesuaian kurs dolar AS mengikuti dinamika pasar. Melemahnya rupiah ini menjadi ujian serius bagi sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter di tanah air.

Pemerintah dan otoritas moneter kini tengah berupaya menjadikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) sebagai tameng untuk menjaga daya tarik investasi. Hal ini dilakukan agar aliran modal tidak keluar secara drastis yang bisa memperburuk posisi rupiah.

Sejumlah sektor bisnis, seperti emiten ritel AMRT dan MDIY, juga mulai menyiapkan strategi khusus dalam menghadapi lonjakan kurs dolar ini. Ketidakpastian ekonomi ini menuntut pelaku usaha untuk lebih lincah dalam mengelola biaya operasional yang berbasis valuta asing.

Dengan kondisi nilai tukar yang menyentuh level Rp18.170, tantangan terhadap APBN dan defisit anggaran juga diperkirakan akan meningkat. Pemerintah diharapkan mampu menavigasi gejolak ini agar dampaknya tidak terlalu membebani pertumbuhan ekonomi nasional di masa depan.

Artikel terkait

Rekomendasi