Lembaga pemeringkat internasional, Moody's Ratings, memperkirakan harga minyak mentah jenis Brent akan tetap stabil tinggi di level USD100 per barel sepanjang tahun ini.
Proyeksi ini muncul sebagai dampak dari krisis energi global yang dipicu oleh konflik berkepanjangan di kawasan Selat Hormuz.
Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Harga Minyak
Ketegangan di Selat Hormuz bermula sejak Iran membatasi lalu lintas kapal menyusul operasi udara yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu.
Kondisi ini telah melumpuhkan jalur perdagangan minyak paling vital di dunia tersebut selama hampir tiga bulan tanpa ada tanda-tanda mereda.
Dalam laporan terbarunya, Moody's Ratings menjelaskan bahwa harapan untuk penyelesaian konflik antara Amerika Serikat dan Iran dalam waktu dekat masih sangat kecil.
Situasi politik yang memanas ini membuat pembukaan akses penuh di Selat Hormuz menjadi hal yang sulit untuk segera direalisasikan.
Gangguan Rantai Pasok Energi Dunia
Moody's menilai gangguan ini bukan lagi sekadar hambatan sementara, melainkan telah menjadi kendala serius bagi pasokan arus energi di tingkat global.
Walaupun ada kemungkinan aktivitas pelayaran komersial pulih sebagian dalam enam bulan ke depan, ketersediaan pasokan diperkirakan akan tetap terbatas.
Badan Energi Internasional (IEA) turut mencatat data signifikan terkait dampak konflik ini terhadap penurunan produksi minyak dunia sepanjang tahun 2026.
Berikut adalah poin-poin utama mengenai kondisi pasar energi saat ini:
- Kehilangan pasokan minyak kumulatif secara global telah melampaui angka satu miliar barel sejak awal konflik.
- Produksi minyak dunia mengalami penurunan drastis mencapai 3,9 juta barel per hari sepanjang tahun berjalan.
- Harga kontrak berjangka minyak Brent sudah menyentuh level USD109,26 per barel pada penutupan perdagangan pekan lalu.
- Analis memperingatkan potensi kenaikan harga hingga kisaran USD130 sampai USD140 per barel jika blokade terus berlanjut bulan depan.
Data di atas menunjukkan betapa besarnya tekanan yang dihadapi pasar energi akibat ketidakpastian geopolitik yang sedang terjadi di Timur Tengah.
Ringkasan Situasi Pasar Minyak 2026
Tabel berikut merangkum estimasi pergerakan harga dan dampak operasional yang dipicu oleh krisis di Selat Hormuz bagi pasar internasional.
| Indikator Pasar | Detail Informasi |
|---|---|
| Proyeksi Harga Rata-rata | USD100 per barel |
| Potensi Harga Tertinggi | USD130 - USD140 per barel |
| Penurunan Produksi Global | 3,9 Juta barel per hari |
| Durasi Kelumpuhan Jalur | Kurang lebih 12 minggu |
Ringkasan ini memperlihatkan bahwa pasar minyak dunia masih akan berada dalam fase volatilitas tinggi selama ketegangan di jalur pelayaran utama belum menemui titik temu.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan global karena keterbatasan pasokan diprediksi akan terus menghantui pasar setidaknya hingga memasuki musim gugur mendatang.