Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah berupaya keras memulihkan kepercayaan investor di pasar modal Indonesia. Hal ini dilakukan menyusul penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai lebih dari 30% sejak awal tahun, dipicu oleh krisis kepercayaan dan sentimen negatif dari dalam negeri.
Menurut data BEI, IHSG terpangkas lebih dari 30% dengan penjualan bersih asing mencapai Rp57,63 triliun per 4 Juni 2026. Pjs. Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menegaskan bahwa reformasi pasar modal menjadi prioritas. "Kami tingkatkan transparansi dan detail data untuk pulihkan kepercayaan investor," ujarnya.
Secara fundamental, produk domestik bruto (PDB) nasional pada kuartal I/2026 masih tumbuh 5,61% YoY. Sekitar 80% perusahaan berhasil mencatat laba bersih, capaian tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Namun, faktor kepercayaan investor menjadi penyebab utama koreksi pasar saham.
Pada Juni ini, IHSG berpotensi menyamai rekor krisis finansial global 2008 jika ditutup koreksi beruntun selama 6 bulan. BEI juga akan menetapkan direksi baru untuk periode 2026-2030, dengan pengumuman paling lambat 22 Juni 2026.
Jeffrey, sebagai salah satu kandidat, menyatakan pentingnya kolaborasi lintas sektoral untuk memulihkan kepercayaan pasar. "Kita bersama-sama berupaya pulihkan kepercayaan investor," katanya.
Hendra Wardana, pengamat pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, menyebut penurunan IHSG tahun ini akibat krisis kepercayaan serius. Meski konflik AS-Iran mempengaruhi harga minyak dunia, sentimen domestik lebih dominan menekan pasar.
Pelemahan rupiah mendekati Rp18.000 per dolar AS dan kebijakan ekspor satu pintu menambah kekhawatiran investor. Hal ini mendorong arus keluar dana asing. "Tekanan terhadap pasar domestik lebih dominan berasal dari faktor internal," tegas Hendra.
Ia menegaskan bahwa pernyataan optimistis dari pejabat negara belum membendung penurunan IHSG. Menurutnya, pasar lebih bergerak berdasarkan persepsi terhadap risiko dan prospek ke depan, bukan pidato semata.
"Kepercayaan investor adalah aset mahal. Tanpa kepastian kebijakan dan prospek ekonomi yang jelas, investor akan memilih negara lain yang lebih stabil," jelasnya.
Volatilitas pasar diprediksi masih tinggi selama arus keluar dana asing berlanjut. Meskipun demikian, Hendra melihat peluang investasi jangka panjang dari saham unggulan yang sudah terkoreksi dalam.
Ia menekankan, pemulihan pasar memerlukan stabilisasi rupiah dan kebijakan ekonomi yang konsisten. Pasar butuh kepastian dan langkah konkret untuk meyakinkan pelaku pasar bahwa risiko dikelola dengan baik.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca dan Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian atau keuntungan dari keputusan investasi pembaca.