Investor Berjuang: Kepastian Penting di Balik Kejatuhan IHSG dan Rupiah 2026

Investor Berjuang: Kepastian Penting di Balik Kejatuhan IHSG dan Rupiah 2026
Foto: Investor Berjuang: Kepastian Penting di Balik Kejatuhan IHSG dan Rupiah 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Pasar keuangan seringkali menjadi ujung tombak dalam merespons perubahan kondisi ekonomi. Meski data pertumbuhan ekonomi belum direvisi, inflasi belum meningkat signifikan, atau perusahaan belum melaporkan penurunan laba, pasar sudah bergerak lebih dulu. Oleh karena itu, saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi lebih dari dua persen dan rupiah mengalami tekanan, perhatian tidak hanya terfokus pada peristiwa hari ini, tetapi juga kekhawatiran investor terhadap masa depan.

Belakangan ini, ketidakpastian meliputi pasar global. Ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan, kesulitan memprediksi kebijakan perdagangan internasional, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global membuat investor menghindari risiko. Dalam situasi semacam ini, modal global cenderung bergerak ke aset yang dianggap lebih aman, seperti dolar Amerika Serikat, obligasi pemerintah negara maju, dan emas.

Indonesia tidak kebal dari dampak ini. Sebagai bagian dari sistem keuangan global yang terintegrasi, perubahan sentimen internasional cepat memengaruhi pasar keuangan domestik. Ketika investor global mengurangi eksposur di pasar negara berkembang, tekanan pada IHSG dan rupiah menjadi tidak terhindarkan.

Meskipun begitu, menarik untuk dicermati bahwa pasar tidak selalu bereaksi langsung terhadap kondisi ekonomi yang buruk. Seringkali, pasar merespons ketidakpastian terkait kondisi ekonomi. Investor dapat menerima pertumbuhan yang melambat, inflasi yang sedikit naik, atau laba perusahaan yang berkurang. Namun, ketidakjelasan mengenai arah perkembangan variabel-variabel tersebut sulit diterima.

Ketidakpastian Jadi Varibel Ekonomi

Dalam perspektif ekonomi modern, ketidakpastian lebih dari sekadar konsep abstrak. Dana Moneter Internasional dengan World Uncertainty Index dan para peneliti Federal Reserve dengan Geopolitical Risk Index menunjukkan lonjakan ketidakpastian selalu beriringan dengan penurunan investasi, meningkatnya volatilitas pasar keuangan, dan perlambatan aktivitas ekonomi.

Pemenang Nobel Ekonomi, Frank Knight, sejak seabad lalu membedakan antara risiko dan ketidakpastian. Risiko dapat dihitung dan diprediksi probabilitasnya, sementara ketidakpastian muncul ketika pelaku ekonomi kekurangan informasi untuk memperkirakan apa yang akan terjadi.

Untuk investor, risiko masih dapat dikelola. Namun, ketidakpastian lebih mahal karena menyulitkan proses pengambilan keputusan. Akibatnya, banyak investor menunda investasi, mengurangi eksposur di aset berisiko, atau memindahkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Fenomena ini jelas tercermin dalam perilaku pasar saat ini. Pelemahan IHSG tidak semata-mata mencerminkan kinerja perusahaan-perusahaan di bursa.

Artikel terkait

Rekomendasi