Kejaksaan Agung telah mengungkap dugaan korupsi dalam pengadaan motor listrik oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang mencapai nilai Rp1,03 triliun. Kasus ini melibatkan mantan kepala BGN, Dadan Hindayana, yang diduga terlibat dalam peningkatan harga atau mark up motor listrik yang tidak diperlukan.
Dadan bersama dengan dua wakilnya, Sony Sonjaya dan Lodewyk Pusung, dituduh mengintervensi penyusunan Kerangka Acuan Kerja (KAK) BGN. Total barang yang diadakan pada masa mereka mencapai 21.801 unit motor listrik. Dana sebesar Rp1,035 triliun sudah dibayarkan ke PT YAT sebagai vendor yang ternyata tak memenuhi syarat akibat tidak memiliki dealer atau bengkel.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan ada kesalahan yang tidak terdeteksi dalam pengadaan ini. Meski anggaran itu seharusnya digunakan untuk program gizi siswa, sebagian sudah digunakan untuk pengadaan motor listrik.
Purbaya memastikan bahwa transaksi serupa tidak akan dilakukan tahun ini. Menurutnya, anggaran tahun ini difokuskan pada kebutuhan siswa, dan pembelian motor listrik tersebut terjadi karena kesalahan komunikasi di tahun sebelumnya.
Dadan sempat berargumen bahwa harga motor listrik yang dibeli lebih murah daripada harga pasar. Motor listrik ini digunakan untuk operasional di daerah terpencil yang sulit diakses, bagian dari rencana anggaran tahun 2025.
Motor listrik yang dibeli adalah model Emmo JVX GT, dengan spesifikasi yang mendukung operasional di daerah sulit. Kendaraan ini dilengkapi dengan motor berdaya 7.000 watt dan transmisi BLDC, yang memungkinkannya mencapai kecepatan 85 km/jam.
Motor listrik ini memiliki fitur seperti Smart Gearbox dan baterai berkapasitas 72 volt 31 Ah. Dengan fitur tersebut, motor mampu menempuh jarak hingga 70 kilometer sekali isi dan mendukung pengisian cepat hanya 1,5 jam.
Berdasarkan data di Inaproc, harga unit tersebut mencapai Rp49,95 juta, sudah termasuk PPN, namun masih berstatus off the road. Harga ini dipatok berbeda dengan harga di laman resmi Emmo yang menunjukkan harga sekitar Rp56,8 juta. Motor ini sudah diproduksi lokal dengan tingkat komponen dalam negeri sebanyak 48,5%.