Sulfur Menipis Akibat Konflik, INCO Pastikan Suplai Aman Hingga Akhir 2026

Sulfur Menipis Akibat Konflik, INCO Pastikan Suplai Aman Hingga Akhir 2026
Foto: Sulfur Menipis Akibat Konflik, INCO Pastikan Suplai Aman Hingga Akhir 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

JAKARTA – PT Vale Indonesia Tbk (INCO), emiten nikel terkemuka, tengah menghadapi risiko atas pasokan sulfur akibat gangguan rantai pasok yang ditimbulkan oleh situasi di Selat Hormuz dan konflik di Timur Tengah. "Gangguan ini memang mempengaruhi beberapa komoditas input kami, terutama minyak dan sulfur," kata Andaru Adi, Head of Corporate Finance, Treasury, dan Investor Relations INCO.

Sulfur memainkan peran penting dalam proses pemurnian nikel di smelter dan fasilitas High Pressure Acid Leach (HPAL). Namun, konsumsi sulfur di HPAL lebih tinggi. Saat ini, INCO memiliki fasilitas smelter di Sorowako, sementara fasilitas HPAL diproyeksikan mulai beroperasi pada kuartal ketiga tahun 2026.

Menurut Andaru, smelter di Sorowako membutuhkan sekitar 50-60 ribu ton sulfur per tahun. "Karena itu, kami yakin pasokan sulfur yang tersedia saat ini dapat mendukung operasional kami hingga kuartal III dan IV 2026," ujar Andaru pada IDNFinancials, Kamis (4/6).

INCO juga berencana untuk mengurangi ketergantungan pada impor sulfur dengan beralih ke pirit, bahan alternatif yang dapat diperoleh di pasar domestik. "Kami memproduksi nickel matte dengan mengurangi sulfur dan menambah pirit," jelas Andaru dalam Emiten Corner Reliance Sekuritas secara daring.

Sementara itu, INCO menargetkan HPAL Pomalaa untuk mulai berproduksi di akhir kuartal III 2026 dengan kapasitas produksi mencapai 120 ribu ton Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) per tahun. Menghadapi lonjakan kebutuhan sulfur, Andaru mengatakan bahwa mitra INCO akan membantu menyediakan pasokan yang diperlukan.

"Mitra kami di fasilitas HPAL akan memastikan pasokan sulfur mencukupi untuk beberapa bulan pertama operasi kami. Selain itu, mereka juga sedang mengembangkan teknologi untuk mengurangi ketergantungan pada sulfur," tambahnya.

Fasilitas HPAL Pomalaa bekerja sama dengan Huayou dari China sebagai mitra teknologi dan Ford Motor dari Amerika. "Saat ini pasokan memang terganggu, namun kami telah menyiapkan strategi yang cukup untuk mengatasinya," tutup Andaru.

Artikel terkait

Rekomendasi