Nilai tukar yen Jepang kembali menunjukkan tren pelemahan hingga menyentuh level terendah dalam empat pekan terakhir terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Negeri Sakura ini merosot ke angka 159,5 per dolar AS seiring dengan penguatan dolar global dan memanasnya tensi politik di Iran.
Pada perdagangan Rabu (27/5), yen tercatat melemah sebesar 0,14 persen ke posisi 159,51 per dolar AS. Posisi ini merupakan titik terlemah sejak akhir April lalu, yang sebelumnya sempat memicu tindakan intervensi dari pemerintah Jepang.
Potensi Intervensi Ulang Pemerintah Jepang
Para pelaku pasar saat ini sedang memantau ketat pergerakan yen yang terus mendekati level psikologis 160 per dolar AS. Level tersebut dianggap sebagai batas kritis yang dapat memaksa otoritas moneter Jepang untuk kembali melakukan intervensi pasar.
Eugene Epstein, selaku Kepala Structuring Amerika Utara di Moneycorp, mengamati bahwa pasar saat ini tengah menguji nyali Bank of Japan (BoJ). Menurutnya, intervensi sebelumnya belum cukup kuat untuk membalikkan tren pelemahan yen secara jangka panjang.
Rangkuman kondisi pasar uang terkait posisi yen dan kebijakan moneter Jepang:
- Yen berada di level 159,51 per dolar AS, mendekati titik intervensi sebelumnya.
- Pelaku pasar memprediksi adanya peluang sebesar 70 persen bagi BoJ untuk menaikkan suku bunga.
- Kenaikan suku bunga sebesar seperempat poin diharapkan terjadi pada rapat kebijakan tanggal 15-16 Juni mendatang.
- Situasi geopolitik di Iran memberikan sentimen positif bagi penguatan dolar AS sebagai aset aman.
Kombinasi antara tekanan pasar global dan ketidakpastian domestik membuat posisi otoritas Jepang menjadi cukup sulit. Para investor kini menantikan langkah konkret dari BoJ untuk menstabilkan nilai tukar mata uang mereka.
Dolar AS Menguat di Tengah Konflik Iran
Penguatan dolar AS dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebutkan masih adanya hambatan dalam negosiasi damai dengan Iran. Hal ini memupus harapan pasar akan berakhirnya konflik di Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Kondisi ini memberikan tekanan besar bagi mata uang utama dunia lainnya yang mayoritas mengalami koreksi terhadap dolar. Indeks dolar AS bertahan di posisi kuat 99,2 dan menunjukkan tren kenaikan selama dua hari berturut-turut.
Berikut adalah ringkasan pergerakan mata uang utama global terhadap dolar AS:
| Mata Uang | Perubahan Nilai | Posisi Terakhir |
|---|---|---|
| Euro | Turun Tipis | US$1,1631 |
| Poundsterling | Melemah 0,11% | US$1,3432 |
| Franc Swiss | Melemah 0,13% | - |
| Dolar Australia | Turun 0,35% | US$0,71415 |
Tabel di atas menunjukkan pelemahan serentak mata uang global akibat dominasi dolar AS yang sedang menguat. Penurunan dolar Australia juga dipengaruhi oleh data inflasi tahunan negara tersebut yang melambat menjadi 4,2 persen.
Kejutan dari Dolar Selandia Baru
Di tengah pelemahan mayoritas mata uang dunia, dolar Selandia Baru atau yang dikenal sebagai kiwi justru tampil gemilang. Mata uang ini melonjak 1,11 persen hingga mencapai level US$0,59.
Kenaikan signifikan ini terjadi setelah Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) memberikan sinyal kebijakan moneter yang lebih agresif. Bank sentral tersebut diprediksi akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan awal pasar.
Meskipun saat ini suku bunga acuan masih dipertahankan, dinamika internal dewan kebijakan menunjukkan adanya dorongan kuat untuk kenaikan suku bunga. Hal ini membuat kiwi mencatat performa harian terbaiknya, terutama saat berpasangan dengan dolar Australia.