Nurhayati, seorang guru mengaji asal Ciputat, Tangerang Selatan, tidak mampu membendung air mata kebahagiaannya saat menceritakan perjalanan spiritualnya menuju Tanah Suci. Perempuan yang akrab disapa Nunung ini akhirnya berhasil menginjakkan kaki di Makkah, Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah haji setelah bertahun-tahun menabung dengan penuh kesabaran.
Kisah inspiratif ini bermula dari niat tulus dan keteguhan hati meskipun kondisi ekonominya tergolong sangat terbatas pada saat itu. Sambil mengenang masa-masa sulit tersebut, ia bercerita kepada tim Media Center Haji (MCH) 2026 di kawasan Aziziyah mengenai awal mula tekadnya muncul untuk berhaji.
Nunung mengungkapkan bahwa dahulu ia hanya sering mengantarkan teman-temannya yang hendak berangkat ke Tanah Suci tanpa menyangka dirinya akan mendapat giliran. Sejak tahun 2005, aktivitasnya mengajar anak-anak mengaji menjadi ladang amal sekaligus tempat tumbuhnya impian besar untuk melihat Ka’bah secara langsung.
Keinginannya sempat terasa mustahil karena penghasilan yang pas-pasan, namun sebuah pesan dari seorang rekan menjadi titik balik yang memotivasi langkahnya. Temannya mengingatkan bahwa jika tidak mulai menabung, maka doa untuk berangkat haji mungkin tidak akan didengar oleh Allah SWT dengan cara yang sama.
Motivasi tersebut membuat Nunung memberanikan diri untuk membuka rekening tabungan haji dengan setoran awal yang terbilang kecil, yakni hanya sebesar Rp200.000. Meskipun pendapatan sebagai guru mengaji tidak menentu, ia bertekad untuk menyisihkan uang secara rutin demi mengumpulkan biaya yang diperlukan.
Ia mengaku sering menyisihkan uang antara Rp50.000 hingga Rp100.000 setiap kali memiliki kelebihan dana dari hasil jerih payahnya mengajar. Nunung juga sempat berkonsultasi dengan petugas bank terkait keraguannya mengingat penghasilannya yang minim dan tidak tetap setiap bulannya.
Petugas bank tersebut justru memberikan penguatan spiritual dengan meyakinkan Nunung bahwa Allah pasti akan menambah kecukupan rezekinya jika niatnya sudah bulat. Sejak saat itu, ia menjalankan sebuah rutinitas yang sangat disiplin dengan menabung setiap hari tepat setelah melaksanakan ibadah salat subuh.
Konsistensi menabung dalam jumlah kecil selama bertahun-tahun tersebut akhirnya membuahkan hasil yang sangat signifikan pada tahun 2013 silam. Pada tahun tersebut, total saldo tabungannya telah mencapai angka Rp23,5 juta, yang merupakan syarat minimal untuk mendapatkan nomor porsi keberangkatan haji.
Setelah menunggu selama 12 tahun dalam antrean jemaah haji Indonesia, panggilan yang dinanti-nantikan ke Tanah Suci akhirnya tiba pada musim haji tahun 2026. Dengan suara yang bergetar karena rasa haru, ia menyatakan betapa besarnya berkah Tuhan yang ia rasakan sehingga bisa sampai ke tanah para nabi.
Pengalaman yang paling mendalam bagi Nunung adalah saat ia mendapatkan kesempatan pertama kalinya untuk melihat bentuk fisik Ka’bah secara langsung di Masjidilharam. Air matanya mengalir deras ketika ia mampu melaksanakan tawaf dan bahkan mendapatkan kemudahan untuk mencium Hajar Aswad yang menjadi impian banyak jemaah.
Ia merasa sangat bersyukur karena selama proses ibadah tersebut, ia mendapatkan bantuan dan penjagaan dari mutawwif yang mendampinginya dengan sangat baik. Pengalaman spiritualnya semakin lengkap ketika ia berada di Madinah dan mendapatkan kesempatan istimewa untuk memasuki area Raudhah hingga sebanyak empat kali.
Walaupun sempat mengalami kendala kesehatan berupa sakit kaki selama menjalankan rangkaian ibadah yang berat, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Nunung hanya memiliki satu permohonan tulus kepada Sang Pencipta agar selama di Tanah Suci ia tidak menjadi beban atau menyusahkan orang lain.
Doa sederhana tersebut dikabulkan, dan ia merasa fisiknya selalu dikuatkan oleh Allah SWT hingga seluruh rangkaian ibadah haji dapat diselesaikan dengan lancar. Sebagai informasi, Nunung berangkat menunaikan rukun Islam kelima ini seorang diri tanpa didampingi oleh anggota keluarga inti lainnya.
Di hadapan bangunan suci Ka’bah, ia memanjatkan doa agar suatu hari nanti suami dan anak-anaknya juga diberikan kemampuan untuk berkunjung ke Baitullah. Ia sangat berharap keluarganya dapat merasakan pengalaman spiritual yang sama, mulai dari melaksanakan tawaf, sai, hingga beribadah di Raudhah dan Makkah-Madinah.
Ringkasan Pencapaian Tabungan Nurhayati
| Kategori Informasi | Detail Data |
|---|---|
| Tahun Mulai Mengajar & Menabung | 2005 |
| Setoran Awal Tabungan | Rp200.000 |
| Besaran Nabung Rutin | Rp50.000 - Rp100.000 |
| Tahun Pendaftaran Haji (Nomor Porsi) | 2013 |
| Total Tabungan untuk Porsi | Rp23.500.000 |
| Masa Tunggu Keberangkatan | 12 Tahun |
| Tahun Keberangkatan Haji | 2026 |
Kisah Nurhayati ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan finansial bukanlah penghalang utama bagi seseorang untuk bisa memenuhi panggilan beribadah ke Tanah Suci. Kedisiplinan dan keyakinan spiritual yang kuat terbukti mampu mengubah recehan sisa penghasilan menjadi tiket menuju perjalanan haji yang penuh berkah.
Kini, guru ngaji asal Ciputat tersebut telah resmi menyandang gelar sebagai jemaah haji yang sukses melewati perjuangan panjang selama puluhan tahun. Dedikasinya dalam menyisihkan uang setelah salat subuh menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa niat yang kuat akan selalu menemukan jalannya sendiri.