Kisah Aysylla, Jemaah Haji 15 Tahun yang Berjuang Ujian di Madinah

Kisah Aysylla, Jemaah Haji 15 Tahun yang Berjuang Ujian di Madinah
Foto: Ilustrasi Kisah Aysylla, Jemaah Haji 15 Tahun yang Berjuang Ujian di Madinah.
Ukuran teks

Kisah inspiratif datang dari seorang remaja asal Kabupaten Malang bernama Aysylla Naila Sari yang harus menjalani peran ganda selama berada di Tanah Suci. Gadis berusia 15 tahun tersebut tetap berupaya menuntaskan tanggung jawab akademiknya dengan mengikuti ujian sekolah secara daring di tengah pelaksanaan ibadah haji di Madinah, Arab Saudi.

Aysylla yang tercatat sebagai siswi kelas 9 di MTsN 1 Kota Malang ini mengikuti ujian berbasis komputer atau computer based test (CBT) selama lima hari berturut-turut. Meskipun jadwal keberangkatan hajinya berbenturan dengan agenda sekolah, remaja yang akrab disapa Ays ini tetap berkomitmen untuk membagi waktu secara disiplin agar kedua kegiatan penting tersebut berjalan lancar.

Dalam wawancara bersama tim Media Center Haji (MCH) 2026 di Makkah pada Kamis (7/5/2026), Ays mengungkapkan bahwa fokus utamanya saat berada di Madinah adalah menyeimbangkan antara waktu belajar dan ibadah. Ia mengaku harus benar-benar memanfaatkan waktu senggang yang ada agar pengerjaan soal ujian daring tidak terganggu oleh aktivitas rombongan jemaah haji lainnya.

Perjalanan Ays menuju Tanah Suci sebenarnya tidak berjalan sepenuhnya mulus karena ia sempat mengalami insiden penerbangan yang tak terduga. Pesawat Saudi Arabian Airlines dengan nomor penerbangan SV-5323 yang ia tumpangi terpaksa melakukan pendaratan darurat di Bandara Kualanamu, Medan, Sumatra Utara, sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

Akibat pendaratan darurat tersebut, durasi tinggal rombongannya di Madinah harus terpangkas dari yang semula direncanakan sembilan hari menjadi hanya tujuh hari saja. Kondisi ini membuat tantangan bagi Ays semakin berat karena ia harus menyelesaikan seluruh soal ujian melalui ponsel dari kamar hotelnya di tengah jadwal ibadah yang semakin padat.

Remaja ini menjelaskan bahwa dirinya tidak memiliki pilihan untuk menunda ujian tersebut jika ingin tetap lulus tepat waktu dan mengikuti prosesi wisuda sekolah. Pasalnya, jadwal wisuda kelulusannya di Tanah Air direncanakan berlangsung pada bulan Juni mendatang, sehingga pengerjaan ujian dari Madinah menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi.

Ays sendiri tergabung dalam kelompok terbang (Kloter) 16 Embarkasi Surabaya (SUB) dalam pelaksanaan rukun Islam kelima pada tahun 2026 ini. Persiapan untuk keberangkatannya ternyata telah dilakukan oleh keluarganya sejak lama, tepatnya ketika ia masih berada di usia balita belasan tahun yang lalu.

Ayahnya yang berprofesi sebagai seorang nelayan di pesisir pantai Tambakrejo, wilayah Malang Selatan, telah mendaftarkan Ays sebagai calon jemaah haji sejak tahun 2012. Keputusan ini diambil agar anak-anaknya dapat menunaikan ibadah haji selagi masih memiliki kondisi fisik yang kuat dan usia yang produktif.

Kedua orang tua Ays sebelumnya sudah melaksanakan ibadah haji pada tahun 2006 dan ingin memberikan kesempatan serupa kepada generasi penerusnya sejak dini. Mereka berharap dengan berangkat di usia muda, Ays dan kakak-kakaknya bisa menjalankan seluruh rangkaian rukun haji yang berat dengan lebih optimal dan bugar secara fisik.

Kini, setelah berhasil merampungkan ujian sekolahnya dan menyelesaikan agenda ibadah di Madinah, Ays mulai memusatkan perhatiannya pada fase krusial berikutnya. Ia tengah mempersiapkan diri secara mental dan fisik untuk menghadapi puncak haji di wilayah Arafah, Muzdalifah, serta Mina atau yang dikenal dengan istilah Armuzna.

Detail Perjalanan dan Profil Jemaah

Informasi Utama Detail Keterangan
Nama Lengkap Jemaah Aysylla Naila Sari (15 Tahun)
Asal Sekolah MTsN 1 Kota Malang (Kelas 9)
Kelompok Terbang Kloter 16 Embarkasi Surabaya (SUB)
Tahun Pendaftaran Haji Tahun 2012 (Oleh Orang Tua)
Metode Ujian Sekolah Computer Based Test (CBT) Daring via Ponsel
Durasi Ujian 5 Hari di Madinah
Maskapai & Nomor Penerbangan Saudi Arabian Airlines (SV-5323)
Lokasi Pendaratan Darurat Bandara Kualanamu, Medan

Keberhasilan Ays dalam menyeimbangkan kewajiban sebagai pelajar dan jemaah haji menunjukkan dedikasi yang tinggi di tengah kondisi yang penuh keterbatasan. Kisah ini menjadi salah satu warna unik dalam pelaksanaan haji 2026, di mana teknologi memungkinkan pendidikan tetap berlanjut meski siswa berada ribuan kilometer dari sekolahnya.

Masyarakat dan pihak sekolah pun memberikan apresiasi atas keteguhan hati Ays yang tidak menjadikan ibadah sebagai alasan untuk meninggalkan pendidikan. Sebaliknya, semangat spiritual yang didapatkan di Tanah Suci diharapkan menjadi motivasi tambahan baginya untuk meraih hasil ujian yang memuaskan dan kelulusan yang berkah.

Artikel terkait

Rekomendasi