HAVANA, KOMPAS.com - Archipelago International, sebuah perusahaan jaringan hotel asal Indonesia, baru saja mengumumkan bahwa mereka telah mengakhiri operasionalnya di Kuba. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap dampak dari sanksi Amerika Serikat terhadap negara tersebut. Meskipun begitu, perusahaan ini masih mempertimbangkan untuk kembali beroperasi di Kuba jika situasi membaik di masa depan.
Keputusan untuk menghentikan operasional ini merupakan bagian dari tren mengakhiri kerjasama dengan entitas militer GAESA di Kuba. GAESA menguasai sebagian besar sektor ekonomi negara pulau tersebut dan dijatuhi sanksi oleh Washington di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang memberikan batas waktu kepada perusahaan untuk memutus hubungan.
Akhiri pengelolaan enam hotel di Kuba:
Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Rabu (3/6/2026) dan dibagikan kepada AFP pada Jumat (5/6/2026), Archipelago International menyatakan akan mengakhiri "pengaturan manajemen" di enam hotel di Kuba yang mereka kelola di bawah merek Aston. Pengelolaan hotel-hotel ini akan dikembalikan kepada pemiliknya karena adanya sanksi AS.
Akibat keputusan ini, properti tersebut tidak lagi termasuk dalam portofolio Archipelago International. Perusahaan yang berbasis di Jakarta ini dikenal luas sebagai salah satu grup manajemen hotel swasta terbesar di Asia Tenggara. Sari Kusumaningrum, Senior Director Archipelago International, mengungkapkan bahwa perusahaan masih membuka kemungkinan untuk kembali beroperasi di Kuba jika situasinya membaik.
"Kami dapat melanjutkan kembali operasi di Kuba jika situasinya membaik," ujar Sari kepada AFP.
Mengikuti langkah hotel internasional lain:
Tindakan Archipelago International ini sejalan dengan keputusan serupa dari berbagai jaringan hotel internasional lainnya. Beberapa jaringan hotel seperti Blue Diamond dari Kanada, serta Melia dan Iberostar dari Spanyol, juga telah memutuskan hubungan operasional mereka di Kuba. Total ada 89 properti yang terpengaruh, sebagian besar memiliki ikatan dengan GAESA.
Hotel asing mulai masuk ke Kuba sejak tahun 1990-an. Mereka biasanya beroperasi dengan dua cara, yakni melalui kemitraan dengan kementerian pariwisata Kuba atau perjanjian dengan Gaviota, unit pariwisata GAESA.
Industri pariwisata Kuba tertekan:
Gelombang penarikan diri perusahaan asing menambah tekanan bagi industri pariwisata di Kuba, yang telah mengalami kesulitan. Sektor ini semakin tertekan setelah pemberlakuan blokade energi oleh Amerika Serikat pada Januari, yang memperburuk situasi ekonomi di pulau Karibia tersebut.
Dukung terus jurnalisme jernih dan tepercaya dari KOMPAS.com. Nikmati kenyamanan membaca tanpa iklan dengan menjadi anggota KOMPAS.com Plus sekarang.
```