Indeks Bisnis-27 menutup perdagangan pada Senin (11/5/2026) dengan hasil yang kurang menggembirakan karena mengalami penurunan sebesar 1,14 persen. Pelemahan ini membawa indeks berada pada posisi 465,81 di tengah kondisi pasar yang memang sedang tertekan.
Meskipun performa keseluruhan indeks menurun, beberapa emiten seperti PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) dan PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Selain kedua perusahaan tersebut, saham PT Astra International Tbk. (ASII) dan PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) juga berhasil mencatatkan penguatan di zona hijau.
Rincian Pergerakan Saham di Indeks Bisnis-27
Data resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkapkan bahwa indeks hasil kolaborasi dengan harian Bisnis Indonesia ini terpangkas sebanyak 5,36 poin. Dari total anggota indeks, terdapat 10 saham yang menguat, 15 saham melemah, dan 2 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Daftar emiten yang mencatatkan kenaikan harga paling menonjol pada hari ini:
- PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) memimpin dengan kenaikan tajam sebesar 11,06 persen ke level Rp6.025 per lembar saham.
- PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) menyusul dengan penguatan 6,03 persen dan berakhir di posisi Rp615 per saham.
- PT Astra International Tbk. (ASII) berhasil terapresiasi 3,86 persen sehingga harganya mencapai Rp6.050.
- PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) mencatatkan pertumbuhan 3,44 persen yang menempatkan sahamnya pada level Rp1.505 per saham.
Kenaikan signifikan pada sektor komoditas mineral dan ritel ini memberikan sedikit angin segar di tengah tren penurunan pasar yang terjadi sepanjang hari. Investor tampaknya masih melihat peluang menarik pada emiten-emiten tersebut meski indeks secara umum sedang melemah.
Di sisi lain, beberapa saham unggulan justru menjadi pemberat indeks akibat aksi jual yang cukup masif. Penurunan yang dialami emiten-emiten ini cukup dalam dan berdampak langsung pada posisi Indeks Bisnis-27 di akhir sesi.
Berikut adalah emiten yang mencatatkan penurunan terdalam pada sesi perdagangan ini:
| Kode Saham | Nama Emiten | Persentase Penurunan | Harga Terakhir (Rp) |
|---|---|---|---|
| BMRI | Bank Mandiri (Persero) Tbk. | -8,21% | 4.250 |
| KLBF | Kalbe Farma Tbk. | -3,26% | 890 |
Kejatuhan saham sektor perbankan dan farmasi ini menjadi salah satu pemicu utama indeks sulit beranjak dari zona merah. Harga saham BMRI secara khusus mengalami koreksi yang sangat tajam dibandingkan rata-rata pasar pada hari ini.
Kondisi IHSG dan Sentimen Pasar Global
Sejalan dengan penurunan Indeks Bisnis-27, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga berakhir di zona negatif dengan pelemahan 0,92 persen ke level 6.905,62. Meskipun sempat menyentuh level tertinggi di 7.001,68 saat pembukaan, tekanan jual membuat indeks kembali merosot ke bawah angka 7.000.
Statistik perdagangan harian menunjukkan sebanyak 463 saham mengalami koreksi, sementara hanya 263 saham yang mampu menguat. Sebanyak 233 saham lainnya terpantau stagnan dengan total nilai kapitalisasi pasar berada di angka Rp12.283 triliun.
Pada jeda siang hari, IHSG sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda pelemahan dengan turun 1,14 persen ke posisi 6.890. Sebagian besar indeks sektoral juga berada dalam tekanan besar, mengikuti arah pergerakan pasar utama.
Tim Riset Mirae Asset Sekuritas dalam laporannya menjelaskan bahwa penurunan indeks ini dipicu oleh aksi jual pada saham-saham dengan kapitalisasi besar (blue chip). Tekanan dari investor terhadap saham-saham berbobot besar ini membuat indeks komposit sulit untuk bangkit.
Beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi pemberat pasar adalah sebagai berikut:
- DSSA yang merosot hingga 8,0 persen sepanjang perdagangan.
- BMRI yang terkoreksi 8,0 persen, memberikan dampak besar pada sektor finansial.
- BREN dan TPIA masing-masing mengalami penurunan sebesar 5,1 persen dan 5,0 persen.
Hingga sesi istirahat siang, tercatat hanya dua indeks sektoral saja yang masih sanggup bertahan di zona hijau. Sektor transportasi (IDX Transportation) dan sektor energi (IDX Energy) justru menjadi dua bidang dengan koreksi yang paling tajam.
Kondisi pasar modal di Indonesia saat ini tercatat selaras dengan pergerakan mayoritas bursa saham utama di kawasan Asia. Namun, koreksi yang terjadi pada bursa regional secara umum dinilai tidak sedalam pelemahan yang dialami oleh IHSG.
Informasi dalam berita ini disajikan sebagai bahan referensi dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan transaksi jual atau beli saham. Keputusan untuk berinvestasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca, dan pihak redaksi tidak bertanggung jawab atas potensi keuntungan maupun kerugian yang muncul.