Pasar modal Indonesia sedang mengalami tekanan hebat pada perdagangan Senin pagi, 18 Mei 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terjun bebas hingga menyentuh angka 4,31% akibat sentimen negatif dari indeks global.
Pada awal pembukaan pasar, IHSG sebenarnya dimulai dengan koreksi sebesar 1,40% atau turun 94,34 poin ke level 6.447,97. Namun, hanya dalam waktu dua menit, penurunan semakin tajam hingga 2,59% dan terus merosot ke level 6.428 satu jam setelahnya.
Kondisi pasar terlihat sangat fluktuatif dengan mayoritas saham bergerak di zona merah. Tercatat sebanyak 707 saham mengalami koreksi, sementara hanya 87 saham yang menguat dan 167 saham lainnya tidak bergerak.
Aktivitas perdagangan pada pagi ini juga tergolong sangat ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp7,79 triliun. Volume perdagangan menyentuh angka 13,67 miliar saham yang berpindah tangan melalui 1,15 juta kali frekuensi transaksi.
Dampak Rebalancing MSCI dan Sentimen FTSE
Pelemahan tajam ini disinyalir kuat merupakan buntut dari perubahan komposisi pada indeks internasional, khususnya MSCI dan FTSE. Saham-saham milik konglomerat Prajogo Pangestu serta emiten DSSA menjadi sorotan utama karena dianggap menjadi pemicu utama anjloknya indeks.
Tekanan jual masif ini terjadi setelah MSCI resmi mengeluarkan beberapa saham berkapitalisasi besar dari daftar indeks mereka. Investor merespons pengumuman tersebut dengan aksi jual untuk menyesuaikan portofolio investasi mereka.
Daftar emiten yang resmi dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index adalah sebagai berikut:
- PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)
- PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)
Selain daftar di atas, MSCI juga diketahui menghapus 13 emiten asal Indonesia dari daftar MSCI Global Small Cap Index. Langkah ini memberikan tekanan ganda bagi likuiditas saham-saham tersebut di pasar reguler.
Kondisi semakin diperparah dengan pernyataan terbaru dari FTSE Russell melalui laporan "Index Treatment for the June 2026 Index Review". Penyedia indeks global tersebut memberikan sinyal tegas mengenai nasib saham-saham Indonesia yang masuk dalam daftar pantauan mereka.
Kebijakan Harga Nol dan Isu Konsentrasi Saham
FTSE kini memberikan perhatian khusus pada emiten yang memiliki konsentrasi kepemilikan saham tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Kebijakan ini merupakan bentuk dukungan terhadap upaya otoritas pasar modal Indonesia dalam meningkatkan transparansi kepemilikan saham.
Dalam pengumuman resminya, FTSE menegaskan akan mendepak perusahaan yang mendapatkan peringatan dari otoritas bursa terkait dominasi kepemilikan oleh segelintir pihak. Penghapusan ini direncanakan akan dilakukan pada tinjauan indeks periode Juni 2026 mendatang.
Terkait integritas indeks, berikut adalah poin-poin krusial dari kebijakan terbaru FTSE Russell:
- Penghapusan sekuritas yang terdampak akan dilakukan dengan menggunakan skema harga nol.
- Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku efektif pada pembukaan perdagangan Senin, 22 Juni 2026.
- Langkah ekstrem ini diambil karena likuiditas saham dengan kategori HSC dianggap sangat berisiko dan memburuk secara signifikan.
- FTSE berupaya melindungi pengelola dana pasif agar tidak kesulitan mencari lawan transaksi saat harus keluar dari posisi saham tersebut.
Langkah menetapkan harga nol biasanya hanya diberikan kepada perusahaan yang berada di ambang kebangkrutan atau yang sahamnya telah disuspensi lama. Namun, aturan ini kini diterapkan bagi saham yang sulit diperdagangkan secara wajar akibat penguasaan pihak tertentu.
Meskipun FTSE belum merilis daftar nama emiten secara spesifik, pasar sudah mulai mengantisipasi dampaknya pada beberapa emiten besar. Nama-nama seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kini berada dalam radar pengawasan ketat investor.
Kinerja Sektor dan Saham Blue Chip
Berdasarkan data dari Refinitiv, seluruh sektor di bursa saham domestik kompak mengalami pelemahan. Sektor infrastruktur, barang baku, energi, dan teknologi menjadi yang paling terdampak oleh sentimen negatif global ini.
Saham-saham berbobot besar juga turut menyeret laju IHSG ke zona dalam. Sebagai contoh, saham Bank Central Asia (BBCA) terpangkas 2,5%, yang memberikan kontribusi pelemahan sebesar 14,05 poin bagi indeks secara keseluruhan.
Berikut adalah ringkasan kinerja beberapa saham yang menjadi pemberat IHSG pada pagi hari ini:
| Nama Emiten (Kode) | Pergerakan Harga | Dampak Terhadap Indeks |
|---|---|---|
| Dian Swastatika Sentosa (DSSA) | Turun 15% (Auto Rejection Bawah) | -13,67 poin |
| Chandra Asri Pacific (TPIA) | Turun 14,88% (Auto Rejection Bawah) | -13,00 poin |
| Barito Renewables Energy (BREN) | Turun ke level Rp 2.880 | -10,00 poin |
| Amman Mineral Internasional (AMMN) | Terkoreksi tajam paska rilis MSCI | -9,12 poin |
Penjelasan tabel di atas menunjukkan betapa besarnya pengaruh emiten-emiten tersebut terhadap pergerakan pasar secara kolektif. Saham BREN bahkan harus rela kehilangan statusnya sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia akibat penurunan tersebut.
Menjelang siang, IHSG terpantau mulai menunjukkan sedikit perlawanan dengan mencoba mengikis tingkat koreksi ke posisi 3,91%. Namun, pelaku pasar tetap dihimbau waspada mengingat volatilitas masih sangat tinggi dan pergerakan pasar masih sulit untuk diprediksi secara akurat.