IHSG Anjlok 3,34 Persen di Awal Sesi, Cermati Potensi Saham BUMI hingga MINA

IHSG Anjlok 3,34 Persen di Awal Sesi, Cermati Potensi Saham BUMI hingga MINA
Foto: Ilustrasi IHSG Anjlok 3,34 Persen di Awal Sesi, Cermati Potensi Saham BUMI hingga MINA.
Ukuran teks

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan yang cukup signifikan pada pembukaan perdagangan hari Senin (18/5/2026). Indeks terpantau anjlok hingga 3,34 persen atau kehilangan 224,790 poin menuju level 6.498,529.

Data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan IHSG sempat dibuka pada posisi 6.628,976 dengan titik tertinggi di 6.631,282. Namun, tekanan jual yang sangat masif memaksa indeks merosot tajam hingga menyentuh level terendahnya di 6.496,493.

Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari pekan lalu yang menjadi fase paling menantang bagi pasar saham domestik sepanjang tahun. IHSG sebelumnya telah ditutup melemah di level 6.723 akibat kombinasi tekanan dari sentimen global dan faktor domestik.

Dampak Rebalancing Indeks MSCI

Fokus pasar saat ini tidak lagi hanya tertuju pada kinerja emiten atau valuasi saham semata. Investor global kini tengah sibuk melakukan penyesuaian portofolio menyusul perubahan besar pada indeks MSCI.

Imam Gunadi, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), menjelaskan bahwa kebijakan Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi pemicu utama. MSCI memutuskan untuk mengeluarkan beberapa saham berkapitalisasi besar dari Global Standard Index.

Daftar saham besar yang dikeluarkan dari perhitungan Global Standard Index MSCI:

  • PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN)
  • PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
  • PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)
  • PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN)

Penghapusan saham-saham tersebut dari indeks bergengsi ini memicu aksi jual massal di pasar modal Indonesia. Investor asing mulai menyesuaikan posisi mereka lebih awal sebelum tanggal efektif rebalancing pada akhir Mei 2026.

Imam menambahkan bahwa fenomena ini menciptakan gelombang dana keluar (passive outflow) yang sangat agresif. Hal tersebut secara otomatis menekan pergerakan IHSG ke zona merah pada awal perdagangan pekan ini.

Tekanan Global dan Pelemahan Rupiah

Kondisi pasar kian terpuruk akibat situasi ekonomi global yang belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Pasar kembali dihantui oleh skenario suku bunga tinggi dalam waktu lama atau higher for longer.

Inflasi di Amerika Serikat yang masih tertahan di level tinggi membuat ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed kembali tertunda. Sebagian pelaku pasar bahkan mulai mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan di penghujung tahun.

Ketidakpastian ini membuat mata uang Dollar AS semakin perkasa dan memberikan tekanan hebat pada mata uang pasar berkembang. Rupiah pun ikut terdampak hingga sempat menyentuh level terlemah barunya di posisi Rp 17.520 per dollar AS.

Ringkasan faktor penekan pasar saham domestik saat ini:

Faktor Tekanan Dampak Terhadap Pasar
Rebalancing MSCI Terjadinya aliran dana keluar (outflow) investor asing secara masif.
Inflasi Amerika Serikat Penundaan pemangkasan suku bunga The Fed dan penguatan Dollar AS.
Konflik Timur Tengah Ketidakpastian distribusi energi dan kenaikan harga komoditas.
Nilai Tukar Rupiah Melemah hingga menembus level psikologis baru Rp 17.520.

Tabel di atas merangkum berbagai sentimen negatif yang secara bersamaan menghantam stabilitas pasar keuangan Indonesia. Kombinasi faktor teknis indeks dan ketegangan makroekonomi menjadi tantangan berat bagi investor.

Situasi semakin diperparah oleh konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu jalur distribusi energi di Selat Hormuz. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga melampaui 105 dollar AS per barrel.

Dengan berbagai tekanan yang ada, para pelaku pasar ritel disarankan untuk tetap waspada dan mencermati pergerakan saham secara selektif. Strategi defensif menjadi pilihan yang rasional di tengah tingginya volatilitas pasar saat ini.

Artikel terkait

Rekomendasi