PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. atau WIKA secara resmi telah melakukan perombakan besar-besaran pada struktur kepemimpinan perusahaan. Keputusan strategis ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada Senin, 11 Mei 2026.
Salah satu poin utama dalam rapat tersebut adalah penunjukan I Ketut Pasek Senjaya Putra sebagai Direktur Utama yang baru. Ia kini dipercaya memimpin emiten konstruksi pelat merah tersebut untuk menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Agung Budi Waskito.
Penyegaran di Jajaran Direksi dan Komisaris
Perubahan kepemimpinan ini tidak hanya terjadi pada posisi nakhoda utama, namun juga menyentuh beberapa pos krusial di jajaran direksi. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya penyegaran organisasi di tengah tantangan industri konstruksi yang semakin dinamis.
Mulyadi kini resmi menjabat sebagai Direktur Keuangan perusahaan yang baru menggantikan Sumadi. Selain itu, posisi Direktur Manajemen Risiko dan Legal saat ini diamanahkan kepada Vera Kirana, yang menggantikan pejabat sebelumnya, Fafan Khoirul Fanani.
Meskipun ada wajah-wajah baru, beberapa nama lama tetap dipertahankan dalam susunan manajemen WIKA. Hadjar Seti Adji serta Hananto Aji tetap berada di jajaran direksi, meskipun terdapat penyesuaian pada posisi serta nomenklatur jabatan yang mereka emban.
Pergeseran kepemimpinan juga terjadi pada jajaran Dewan Pengawas atau Dewan Komisaris perusahaan. Pemegang saham menyetujui pengangkatan Apri Artoto sebagai Komisaris Utama menggantikan Jarot Widyoko dalam periode kepengurusan terbaru ini.
Selain itu, Suwarta kini bergabung menjadi anggota Dewan Komisaris perusahaan. Kehadirannya menggantikan Firdaus Ali dalam struktur dewan pengawas PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.
Strategi Menghadapi Tantangan Industri
Pihak manajemen mengungkapkan bahwa sepanjang tahun 2025, perusahaan harus menghadapi realitas pasar konstruksi yang mengalami penurunan cukup signifikan. Kondisi ini memberikan tekanan langsung terhadap perolehan kontrak baru, realisasi penjualan, hingga kondisi arus kas perusahaan.
Untuk merespons situasi tersebut, WIKA telah merumuskan langkah-langkah strategis demi menjaga keberlangsungan bisnis. Fokus utama perseroan saat ini adalah memperkuat kembali struktur permodalan serta menjaga ketersediaan likuiditas yang sehat.
Langkah konkret yang ditempuh manajemen untuk menyehatkan kondisi keuangan perusahaan antara lain:
- Melakukan penguatan pada struktur permodalan internal secara berkelanjutan.
- Mengoptimalkan pengelolaan kewajiban keuangan agar tetap terkendali.
- Melakukan percepatan proses penagihan piutang kepada para mitra dan klien.
- Menerapkan prinsip pengendalian belanja atau pengeluaran secara sangat disiplin.
Penjelasan tersebut disampaikan secara resmi oleh manajemen dalam keterangan tertulis pasca pelaksanaan RUPST. Strategi ini diharapkan mampu menjadi landasan bagi WIKA untuk bangkit dan menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan.
Peningkatan Margin dan Penurunan Utang
Walaupun berada dalam proses penyehatan yang cukup menantang, WIKA berhasil mencatatkan sejumlah indikator keuangan yang positif. Salah satu yang menonjol adalah peningkatan Gross Profit Margin (GPM) atau margin laba kotor perusahaan.
Data keuangan menunjukkan bahwa GPM perusahaan merangkak naik dari angka 7,9% pada tahun 2024 menjadi 8,5% di tahun 2025. Kenaikan margin ini mencerminkan adanya efisiensi dalam pengelolaan beban pokok pendapatan di setiap proyek yang dikerjakan.
Selain itu, perusahaan juga berhasil melakukan pengurangan beban utang yang cukup signifikan dalam satu tahun terakhir. WIKA tercatat menurunkan utang usaha sebesar Rp1,79 triliun serta menekan utang berbunga hingga Rp2,08 triliun sepanjang periode tersebut.
Kualitas aset juga membaik dengan menurunnya nilai piutang perusahaan sebesar Rp1,89 triliun. Dengan penurunan tersebut, posisi piutang WIKA saat ini berada di angka Rp4,58 triliun dari nilai sebelumnya yang jauh lebih tinggi.
Target dan Rencana Jangka Panjang
Dari sisi kinerja operasional, WIKA berhasil membukukan perolehan nilai kontrak baru mencapai Rp17,46 triliun sepanjang tahun buku 2025. Perolehan ini berkontribusi terhadap total nilai aset perusahaan yang tercatat sebesar Rp50,15 triliun.
Manajemen menegaskan komitmennya untuk terus memulihkan struktur keuangan melalui tiga pilar strategis utama. Ketiga pilar tersebut adalah restrukturisasi utang secara menyeluruh, divestasi pada aset-aset non-inti, serta pemulihan piutang lama yang masih tertunda.
Berikut adalah rangkuman struktur kepengurusan terbaru PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. hasil RUPST:
| Jabatan | Nama Pejabat |
|---|---|
| Direktur Utama | I Ketut Pasek Senjaya Putra |
| Direktur Manajemen SDM dan Transformasi | Hadjar Seti Adji |
| Direktur Operasi I | Hananto Aji |
| Direktur Operasi II | Sonny Setyadhy |
| Direktur Manajemen Risiko dan Legal | Vera Kirana |
| Direktur Keuangan | Mulyadi |
| Komisaris Utama | Apri Artoto |
| Komisaris Independen | Suryo Hapsoro Tri Utomo |
| Komisaris Independen | Adityawarman |
| Komisaris Independen | Harris Arthur Hedar |
| Komisaris | Suwarta |
Tabel di atas menyajikan rincian lengkap jajaran Direksi dan Dewan Komisaris yang akan mengawal arah kebijakan WIKA ke depan. Penunjukan figur-figur berpengalaman ini diharapkan mampu membawa stabilitas baru bagi perusahaan.
Perlu dicatat bahwa artikel ini disajikan sebagai informasi berita dan tidak mengandung ajakan untuk melakukan transaksi jual atau beli saham. Keputusan untuk melakukan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi dari setiap pembaca.