Harapan pasar mengenai penurunan suku bunga acuan dari bank sentral Amerika Serikat, The Fed, tampaknya mulai memudar pada tahun 2026. Situasi ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global serta tekanan inflasi yang masih sulit diredam di berbagai belahan dunia.
Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), Andry Asmoro, mengungkapkan bahwa perubahan ekspektasi ini menjadi tantangan besar. Para pelaku pasar dan dunia usaha perlu mewaspadai arah kebijakan moneter AS yang kini lebih sulit diprediksi dibandingkan sebelumnya.
Berdasarkan panduan sebelumnya, The Fed sebenarnya diproyeksikan masih memiliki ruang untuk memangkas suku bunga satu kali pada 2026. Namun, data terbaru dari CME FedWatch menunjukkan optimisme pasar telah bergeser dan mulai meragukan adanya pemangkasan tersebut.
Andry menjelaskan bahwa pasar kini memperkirakan tidak akan ada lagi penurunan suku bunga acuan hingga akhir tahun 2026. Bahkan, proyeksi untuk tahun 2027 juga menunjukkan tren serupa yang memperlihatkan sikap hati-hati otoritas moneter Amerika Serikat.
Dinamika Global yang Mengubah Ekspektasi Pasar
Sebelumnya, para investor sempat memiliki harapan besar bahwa tren penurunan suku bunga akan berlanjut secara konsisten. Harapan ini muncul setelah The Fed mulai melonggarkan kebijakan moneternya pada tahun 2025 yang lalu.
Sayangnya, kondisi suhu politik dunia yang kembali memanas membuat proyeksi tersebut tidak lagi relevan bagi kondisi saat ini. Konflik geopolitik yang terus bereskalasi telah memaksa pasar untuk melakukan penyesuaian ulang terhadap strategi keuangan mereka.
Andry mengenang kembali masa-masa sulit pada tahun 2024 ketika dunia harus menghadapi era suku bunga tinggi dalam waktu lama. Kondisi yang dikenal dengan istilah higher for longer tersebut sempat menciptakan tekanan ekonomi yang cukup signifikan secara global.
Memasuki tahun 2025, sempat muncul angin segar dengan ekspektasi adanya penurunan suku bunga acuan secara lebih agresif. Namun, kenyataannya peluang tersebut kini semakin terbatas akibat ketegangan global yang tidak kunjung mereda di berbagai kawasan.
Penyebab utama terbatasnya ruang penurunan suku bunga The Fed meliputi:
- Ketegangan geopolitik yang terus berlanjut, khususnya antara kekuatan besar dunia.
- Tekanan inflasi global yang tetap tinggi sehingga sulit mencapai target yang diinginkan.
- Dampak kebijakan perdagangan internasional yang tidak menentu, termasuk potensi penerapan tarif baru.
- Perlambatan ekonomi dunia yang memicu ketidakstabilan di pasar modal dan komoditas.
Daftar di atas merangkum faktor-faktor krusial yang saat ini sedang dipantau ketat oleh para analis ekonomi internasional. Kombinasi faktor tersebut menciptakan ketidakpastian yang sangat tinggi bagi arah kebijakan moneter ke depan.
Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia dan Kurs Rupiah
Ketidakpastian kebijakan The Fed ini memberikan tekanan langsung terhadap volatilitas pasar keuangan di tingkat global. Indonesia turut merasakan imbasnya, terutama pada pergerakan nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan terhadap dolar AS.
Andry memproyeksikan nilai tukar rupiah bisa melemah hingga berada di kisaran Rp17.300 sampai Rp17.400 per dolar AS. Pelemahan ini sebagian besar didorong oleh sentimen negatif dari pasar global yang menjauhi aset-aset berisiko.
Selain faktor nilai tukar, kenaikan harga minyak dunia juga menjadi ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi domestik. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi mengerek harga komoditas energi tersebut ke level yang lebih tinggi.
Sebagai negara yang bertindak sebagai importir minyak neto, kenaikan harga minyak tentu akan menambah beban ekonomi Indonesia. Kondisi ini bisa memicu kenaikan biaya produksi serta inflasi di dalam negeri jika tidak diantisipasi dengan baik.
Ringkasan proyeksi ekonomi yang disusun oleh Bank Mandiri mencakup beberapa poin berikut:
| Faktor Risiko | Dampak yang Diwaspadai |
|---|---|
| Kebijakan Moneter AS | Kecilnya peluang penurunan suku bunga The Fed pada 2026. |
| Nilai Tukar Rupiah | Potensi pelemahan ke level Rp17.300 – Rp17.400 per dolar AS. |
| Harga Komoditas | Kenaikan harga minyak akibat konflik militer di Timur Tengah. |
| Kondisi Ekonomi Global | Risiko stagflasi dan gangguan pada rantai pasok internasional. |
Tabel ini menyajikan gambaran mengenai tantangan ekonomi yang harus dihadapi sepanjang tahun 2026 berdasarkan analisis tim ekonomi Bank Mandiri. Data tersebut menekankan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi dinamika pasar yang sangat fluktuatif.
Andry menegaskan bahwa situasi saat ini merupakan salah satu skenario ekonomi paling rumit yang pernah ada. Selain perang antara Iran dan Amerika Serikat, dunia juga dibayangi kebijakan tarif dari Donald Trump.
Segala faktor ini saling berkaitan dan menciptakan tantangan berlapis bagi para pengambil kebijakan di berbagai negara. Oleh karena itu, peluang pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed dalam waktu dekat dinilai sangat kecil untuk terealisasi.