Bos Chandra Asri Borong 4,57 Juta Saham TPIA, Rogoh Rp8,21 Miliar di 2026

Bos Chandra Asri Borong 4,57 Juta Saham TPIA, Rogoh Rp8,21 Miliar di 2026
Foto: Bos Chandra Asri Borong 4,57 Juta Saham TPIA, Rogoh Rp8,21 Miliar di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Direktur PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), Raymond Budhin, baru saja memperkuat posisinya di dalam perusahaan melalui aksi korporasi yang cukup signifikan. Ia memutuskan untuk menambah kepemilikan sahamnya secara pribadi melalui serangkaian transaksi di pasar modal.

Langkah strategis ini dilakukan di tengah dinamika pasar yang sedang berlangsung pada awal Juni 2026. Raymond melakukan pembelian jutaan lembar saham emiten petrokimia dan energi tersebut sebagai bentuk komitmen jangka panjang.

Berdasarkan laporan keterbukaan informasi yang diterbitkan pada Rabu (3/6/2026), Raymond Budhin mengeksekusi total 10 transaksi pembelian saham TPIA. Keseluruhan aksi beli tersebut ditujukan untuk keperluan investasi pribadi sang direktur.

Jumlah saham yang berhasil diakumulasi dalam periode tersebut mencapai 4,57 juta lembar saham. Jika dikalkulasi, Raymond harus merogoh kocek hingga sekitar Rp8,21 miliar untuk membiayai seluruh rangkaian transaksi tersebut.

Dalam rinciannya, pembelian dengan volume paling besar terjadi pada level harga Rp1.795 per lembar dengan total 3,25 juta saham. Selain itu, ia juga menyerap 453.600 saham di harga Rp1.780 dan 300.000 saham lainnya di harga Rp1.790 per lembar.

Berikut merupakan daftar rincian harga pelaksanaan dari transaksi saham TPIA yang dilakukan oleh Raymond Budhin:

  • Pembelian sebanyak 50.000 saham pada level harga Rp1.880 per lembar.
  • Eksekusi 100.000 saham yang dibeli dengan harga Rp1.890 per lembar.
  • Transaksi 100.000 lembar saham pada tingkat harga Rp1.790.
  • Pembelian sejumlah 18.200 saham pada posisi harga Rp1.850 per lembar.
  • Dua kali transaksi masing-masing sebesar 100.000 saham di harga Rp1.850.
  • Penambahan 100.000 lembar saham pada level harga Rp1.780 per lembar.

Melalui data tersebut, terlihat bahwa Raymond Budhin sangat aktif mengumpulkan saham dalam rentang harga Rp1.780 hingga Rp1.890. Total akumulasi saham mencapai 4.567.200 unit yang membuat portofolionya di TPIA meningkat tajam.

Ringkasan perubahan kepemilikan saham dan nilai transaksi Raymond Budhin dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Keterangan Aksi Korporasi Detail Informasi
Jumlah Saham yang Dibeli 4,57 Juta Lembar
Estimasi Total Nilai Investasi Rp8,21 Miliar
Kenaikan Persentase Kepemilikan 90,44%
Total Kepemilikan Setelah Transaksi 9,62 Juta Lembar
Porsi Saham Terhadap Total Modal Sekitar 0,01%

Peningkatan kepemilikan saham Raymond ini tercatat melonjak drastis hingga 90,44% dibandingkan jumlah kepemilikan sebelumnya. Dari yang awalnya hanya menggenggam 5,05 juta saham, kini koleksinya bertambah menjadi 9,62 juta saham.

Meskipun secara angka jumlahnya terlihat besar, porsi kepemilikan Raymond Budhin hanya merepresentasikan sekitar 0,01% dari seluruh total saham beredar. Hal ini disebabkan oleh jumlah kapitalisasi pasar dan total saham TPIA yang memang sangat masif.

Kondisi Saham TPIA di Tengah Gejolak Pasar

Di sisi lain, pergerakan harga saham TPIA di bursa sedang mengalami tekanan yang cukup berat pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Harga saham terpantau merosot hingga 14,86% dan mendarat di level Rp1.375 per lembar.

Jika ditarik lebih jauh secara year to date (YtD), performa saham perusahaan ini mencatatkan penurunan yang cukup dalam sebesar 80,63%. Kondisi ini juga sejalan dengan melemahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup terkoreksi 1,70%.

Banyak emiten besar lainnya yang juga terdampak sentimen negatif pasar saat IHSG jatuh ke level 5.839. Selain TPIA, saham-saham unggulan seperti PANI juga terpantau mengalami penurunan yang cukup signifikan pada hari yang sama.

Meskipun harga di bursa sedang mengalami fluktuasi tajam, performa fundamental PT Chandra Asri Pacific Tbk justru menunjukkan arah sebaliknya. Perusahaan yang berada di bawah naungan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) milik konglomerat Prajogo Pangestu ini tetap solid.

Pada kuartal pertama tahun 2026, Chandra Asri berhasil membukukan laba bersih yang sangat mengesankan senilai US$205 juta. Angka laba ini mengalami lompatan luar biasa sebesar 954,2% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pencapaian laba tersebut juga diiringi dengan pertumbuhan EBITDA yang tidak kalah menakjubkan. Perusahaan mencatatkan EBITDA sebesar US$421 juta, atau tumbuh secara eksponensial hingga 1.813,6% dalam basis tahunan (YoY).

Faktor utama yang mendorong pertumbuhan pesat kinerja keuangan perseroan meliputi poin-poin berikut ini:

  • Kontribusi signifikan dari segmen energi yang baru saja diakuisisi oleh perseroan.
  • Strategi diversifikasi bisnis yang berhasil mengurangi ketergantungan pada sektor petrokimia murni.
  • Peningkatan efisiensi operasional di seluruh lini bisnis perusahaan.
  • Optimalisasi pendapatan dari unit bisnis baru yang mulai memberikan imbal hasil maksimal.

Saat ini, segmen energi telah menjelma menjadi tulang punggung baru bagi bisnis Chandra Asri dengan kontribusi mencapai 60% dari total pendapatan. Pergeseran ini menunjukkan keberhasilan strategi diversifikasi yang dijalankan oleh manajemen untuk memitigasi risiko di sektor petrokimia.

Kondisi fundamental yang kuat ini kemungkinan menjadi alasan kuat bagi Raymond Budhin untuk terus menambah investasinya. Meskipun pasar saham secara umum sedang lesu, kinerja keuangan yang melesat memberikan kepercayaan diri bagi para petinggi perusahaan.

Selain Chandra Asri, beberapa emiten lain juga tetap agresif melakukan pembagian dividen dan ekspansi di tengah ketidakpastian ekonomi. Sebagai contoh, emiten seperti Unilever (UNVR) dan Alfamart (AMRT) tetap mengumumkan pembagian keuntungan kepada para pemegang sahamnya.

Fenomena direksi yang melakukan aksi borong saham sendiri sering kali dipandang oleh analis sebagai sinyal positif. Hal tersebut menunjukkan optimisme internal terhadap prospek perusahaan di masa depan meskipun harga pasar saat ini sedang mengalami koreksi.

Aksi investasi Raymond Budhin ini mempertegas bahwa manajemen tetap percaya pada nilai intrinsik perusahaan. Dengan struktur bisnis yang lebih terdiversifikasi, TPIA diharapkan mampu menghadapi tantangan ekonomi global dengan lebih tangguh.

Artikel terkait

Rekomendasi