PT Harum Energy Tbk. (HRUM) secara resmi menetapkan target ambisius untuk produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) mereka pada tahun 2026. Target ini dipatok menyusul mulai beroperasinya fasilitas produksi PT Blue Sparking Energy (BSE) secara penuh pada kuartal pertama tahun ini.
Perusahaan memproyeksikan total volume produksi MHP dapat menyentuh angka 50.000 ton hingga akhir tahun 2026. Optimisme ini muncul seiring dengan stabilnya performa operasional anak usaha mereka yang fokus pada pengolahan nikel tersebut.
Performa Produksi dan Penjualan PT Blue Sparking Energy
Direktur Utama Harum Energy, Ray Antonio Gunara, mengungkapkan bahwa proses produksi di fasilitas BSE sebenarnya telah berjalan sejak penghujung tahun 2025 lalu. Namun, momentum komersialisasi produk secara resmi baru tercatat sejak Maret 2026.
Hingga periode paparan publik terbaru, entitas usaha ini telah berhasil mencatatkan angka penjualan perdana yang cukup signifikan. Sebanyak 4.091 ton nikel dalam bentuk produk MHP telah berhasil dilepas ke pasar global.
Ray menekankan bahwa operasional fasilitas High Pressure Acid Leaching (HPAL) milik BSE saat ini sudah bekerja dalam kapasitas maksimal. Tingkat pemanfaatan atau utilisasi pabrik tersebut dilaporkan telah mendekati level 100 persen.
Dengan kondisi teknis yang sangat prima ini, manajemen HRUM merasa sangat percaya diri terhadap target yang sudah dicanangkan. Mereka memprediksi angka akhir tahun akan berada di rentang 45.000 hingga 50.000 ton MHP.
Rangkuman kinerja dan target produksi HRUM melalui unit bisnis BSE:
- Fasilitas PT Blue Sparking Energy (BSE) mulai beroperasi secara penuh sejak Maret 2026.
- Utilisasi pabrik pengolahan HPAL saat ini telah mencapai tingkat efisiensi maksimal mendekati 100 persen.
- Penjualan komersial awal telah membukukan angka 4.091 ton nikel dalam wujud MHP.
- Manajemen menargetkan total produksi tahunan di kisaran 45.000 sampai 50.000 ton nikel.
Pencapaian ini menjadi tonggak penting bagi Harum Energy dalam mendiversifikasi portofolio bisnis mereka. Langkah ini memperkuat posisi perusahaan di sektor pengolahan mineral strategis untuk bahan baku baterai kendaraan listrik.
Dampak Fluktuasi Harga Bahan Baku Sulfur
Meskipun performa operasional menunjukkan tren positif, manajemen tetap mewaspadai dinamika harga bahan baku di pasar internasional. Salah satu fokus utama perusahaan saat ini adalah pergerakan harga sulfur atau belerang.
Ray Antonio Gunara mengakui bahwa kenaikan harga sulfur yang terjadi belakangan ini berpotensi memberikan tekanan pada struktur biaya produksi. Sulfur merupakan komponen krusial dalam proses pengolahan nikel menggunakan teknologi HPAL.
Namun, ia menjelaskan bahwa dampak ekonomi dari kenaikan harga tersebut tidak akan dirasakan secara instan oleh perusahaan. Hal ini dikarenakan strategi manajemen stok yang telah diterapkan sebelumnya.
PT Blue Sparking Energy saat ini masih memiliki cadangan inventori sulfur yang cukup banyak. Persediaan tersebut dibeli dengan harga lama sebelum terjadi lonjakan harga yang signifikan di awal tahun 2026.
Seiring berjalannya waktu, biaya produksi di fasilitas BSE diprediksi akan mengalami kenaikan secara bertahap. Hal ini tidak terhindarkan karena perusahaan nantinya harus melakukan pengadaan sulfur baru dengan harga pasar yang berlaku.
Berikut adalah rincian estimasi dampak biaya dan kebijakan harga perusahaan:
| Faktor Dampak | Kondisi Saat Ini | Proyeksi Masa Depan |
|---|---|---|
| Persediaan Sulfur | Menggunakan stok harga lama sebelum kenaikan. | Pembelian baru mengikuti harga pasar global. |
| Struktur Biaya | Masih stabil karena dukungan inventori awal. | Akan naik secara bertahap seiring pergantian stok. |
| Kebijakan Harga | Fokus pada efisiensi produksi internal. | Penerapan skema pass-through biaya ke pelanggan. |
Tabel di atas menunjukkan bagaimana perusahaan berupaya menyeimbangkan antara efisiensi internal dan dinamika harga pasar. Strategi manajemen stok menjadi kunci utama dalam menjaga margin keuntungan di tengah volatilitas komoditas global.
Mekanisme Penyesuaian Harga kepada Pelanggan
Terkait kenaikan beban produksi, Ray menjelaskan bahwa Harum Energy memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga kepada pembeli. Skema ini dikenal dengan istilah pass-through biaya produksi.
Meski memiliki ruang untuk meneruskan kenaikan biaya kepada pelanggan, Ray menegaskan bahwa langkah ini memiliki batasan tertentu. Perusahaan tidak bisa secara sepihak menaikkan harga tanpa mempertimbangkan faktor eksternal.
Besaran biaya yang dapat dibebankan kepada konsumen sangat bergantung pada kondisi fundamental pasar nikel dunia. Hal ini mencakup keseimbangan antara jumlah permintaan (demand) dan ketersediaan pasokan (supply) di tingkat global.
Kondisi pasar yang kompetitif menuntut perusahaan untuk tetap lincah dalam mengelola margin tanpa kehilangan daya saing. Strategi ini menjadi sangat krusial mengingat industri MHP sangat terpengaruh oleh tren industri baterai dunia.
Diversifikasi Melalui Anak Perusahaan dan Entitas Terkait
Harum Energy memang tengah serius memperluas cakupan bisnisnya di industri nikel melalui berbagai skema kepemilikan. Selain BSE, perusahaan juga mengelola sejumlah unit produksi lain yang sudah mapan.
Operasional produksi nickel pig iron (NPI) dan nickel matte dijalankan melalui beberapa anak perusahaan strategis. Di antaranya adalah PT Infei Metal Industry (IMI) dan PT Westrong Metal Industry (WMI).
Selain kendali langsung, HRUM juga memiliki kepentingan ekonomi melalui entitas terkait lainnya. Perusahaan tercatat menjalin kemitraan dengan PT Sunny Metal Industry (SNMI) serta Nickel Industries Limited (NIC).
Seluruh ekosistem tambang dan pengolahan ini dirancang untuk menciptakan rantai nilai yang terintegrasi. Hal ini memungkinkan Harum Energy untuk tetap kompetitif di tengah fluktuasi harga komoditas tambang global.
Sebagai informasi tambahan bagi para investor, manajemen juga telah menyiapkan belanja modal (capex) yang cukup besar. Untuk tahun buku 2026, anggaran sebesar US$310 juta telah disiapkan untuk mendukung ekspansi bisnis ini.
Langkah ekspansif ini menunjukkan transformasi Harum Energy dari sekadar perusahaan tambang batu bara menjadi pemain utama mineral hijau. Hal ini sejalan dengan meningkatnya permintaan global terhadap bahan baku pendukung transisi energi.